002. Berkaca Dari Negri Penjajah

Penulis : Voril Marpap
Tema : Water

==========================================================================================================================================================

Pada zaman dahulu, Bangsa Indonesia (Nusantara) telah dijajah oleh Negara Belanda kurang lebih tiga setengah abad lamanya. Iya….iya…. mamanya juga penjajahan, sangat jelas sekali dihadapan kita semua bahwa, penjajahan itu telah lama membuat rugi bangsa Indonesia. Betapa tidak kawan, dari pengertiannya saja sudah sangat jelas bahwa, penjajahan itu adalah orang yang menguasai suatu daerah, tetapi mengandung arti orang tersebut berasal dari daerah lain yang hanya ingin memanfaatkan sumber daya Alam dari daerah kekuasaannya itu untuk dibawa ke wilayah aslinya. Sekali lagi saya tekankan bahwa penjajahan itu adalah memanfaatkan sumber daya alam daerah jajahannya untuk dibawa ke Negara asalnyanya. Tentunya hal tersebut telah lama membuat rugi bangsa Indonesia tercinta.

Namun, pada tulisan kali ini saya tidak akan membahas mengengai penjajahan itu sendiri. Melainkan yang menjadi perhatian saya kali ini adalah, Bagaimanakah Negara Belanda pada akhirnya mampu menjadi Negara penjajah yang telah berhasil menjajah Nusantara selama tiga setengah abad. Itulah yang menjadi pertanyaan besar bagi diriku tentang apakah esensi dari penjajahan itu sendiri. Selidik demi selidik saya menemukan jawaban bahwa, pada awalnya kedatangan Negara Belanda ke Nusantara hanya bermaksud untuk berdagang rempah – rempah pada abad awal ke XIV. Namun misi tersebut tiba-tiba menjadi berubah karena tergiur akan besarnya potensi Sumber Daya Alam yang dimiliki oleh Nusantara. Untuk melancarkan misi ingin menguasai Nusantara, akhirnya Negara Belanda membentuk VOC sebagai organisasi monopoli perdagangan dan membentuk Negara HIndia Belanda yang berkedudukan di Nusantara.

Disini dapat saya simpulkan bahwa, Negara Belanda adalah Negara yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi yakni berani berpikir kreatif dan inovatif (out of the Box) . Betapa tidak kawan, disela-sela melalukan perdagagan, mereka masih sempat berpikir ingin mengusai Nusantara yang nota benenya memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah ruah. itu artinya ketika mereka bertindak, mereka telah memikirkannya terlebih dahulu segala prosessnya, sehingga apa yang telah dicita-citakan sebelumnya dapat mereka wujudkan dengan sangat mudah. Nah… kemudian yang menjadi pertanyaan adalah apa sebenarnya yang menjadi titik tolak dari cara pandang saya dalam menulis tulisan ini ? adalah, bahwa menurut saya, Negara Belanda itu terbiasa inovatif dalam berpikir dan bertindak.

Oleh sebab itu bagi saya, menjadi Negara penjajah adalah merupakan cara pandang yang kreatif untuk menningkatkan kekayaan Negara. Pada akhirnya, saya mengakui bahwa cara berpikir kreatif dan inovatif yang dianut oleh Negara Belanda, tidak hanya terbatas pada penjajahan saja melainkan dari segala sisi atau dari segala bidang. Misalnya saja, Negara Belanda sadar bahwa 20% wilahnya merupakan permukaan yang rendah dan 21% populasinya berada dibawah permukaan air laut, serta 50% tanahnya kurang dari satu meter di atas permukaan air laut serta 2/3 wilayahnya rentan terkena banjir air laut karena posisinya yang lebih rendah dari laut. Bagi mereka hal tersebut dianggap sebagai potensi, dimana pada kondisi tersebut membuat mereka mampu berpikir secara inovatif membuat kincir angin dengan mengandalkan angin sebagai energy yang dapat dimanfaatkan secara terus menerus. Pemanfaatannya dilakukan dengan cara menjadikan kincir angin sebagai memompa air demi mengeringkan negerinya yang lebih rendah dari air laut.

Tidak sampai disitu saja, kecerdasan berpikirnya itu juga telah membawa mereka (Negara Belanda) sebagai Negara degan pemilik Konstruksi tanggul yang sangat tersohor yaitu Afsluitdijk (penutup tanggul) Betapa tidak kawan, wilayahnya yang rendah memaksa mereka untuk terus berpikir inovatif agar negrinya tercinta tidak habis tenggelam dan tertelah oleh air laut yang terasa sangat asin di mulut. Untuk sedekar diketahui bahwa Afsluitdijk ( Penutup Tanggul ) itu dibuat utnuk memisahkan danau IJssel (IJsselmeer, dulunya disebut laut Zuider atau Zuiderzee) dengan laut Wadden (Waddenzee). Panjang dari tanggul ini 32 km dan lebarnya 90 m. Meta proyek ini juga mampu menghubungkan 2 propinsi besar yakni Propinsi Noord Holland dan Propinsi Friesland. Sungguh luar biasa kawan, cara pandang serta cara berpikir mereka, sungguh-sungguh diluar dugaan sekali lagi ini adalah inovasi kawan cara berpikir out of the box dan saya secara pribadi mengakui dan meyakini bahwa, hal tersebut adalah hasil dari totalitas berpikir seta kesungguhan dalam melakukan suatu tindakan.

Contoh lain yang juga saya anggap sangat kreatif dan inovatif oleh seluruh penduduk di Negara Belanda, adalah pada saat musim penghujan. Dalam kondisi tersebut mayoritas penduduknya menggunakan jas hujan sebagai pelindungnya, kemudian yang menjadi pertanyaannya adalah mengapa mereka tidak menggunakan payung saja sebagai alat untuk melindungi tubuhnya? Lagi-lagi disini mereka harus dipaksa untuk kembali berpikir secara kreatif dan inovatif, aritnya bahwa, ketika mereka menggunakan payung pada saat musim penghujan tiba, tubuh mereka dipastikan tidak semua akan terlindungi dari tumpahan air hujan karena ketika musim penghujan tiba, selalunya diikuti oleh tiupan angin kencang, sehingga tubuh mereka tidak akan terlindungi dari percikan air hujan. Kemudian inovasi terbaru yang dilakukan oleh Negara Belanda yakni membuat jalur sepeda yang dirancang mampu menyerap tenaga surya sebagai sumber energy yang dimanakan Sola Road.

Maka dari itu, dari penjabaran diatas, Menurut saya pribadi Bangsa Indonesia seharusnya berkaca kepada Negri para penjajah, artinya bahwa, sejak zaman dahulu kala hingga zaman sekarang ini, mereka (negri para penjajah) selalu berusaha melungkan banyak waktunya untuk sekedar memaksimalkan kecerdasan untuk melahirkan ide-ide kreatif serta inovatif sehingga mampu memecahkan segala problem kehidupan yang dialami hingga pada akhirnya mereka semua mampu menemukan solusi atas segala persoalan yang tadi. Berkaca yang dimaksudkna disini tidak lain dan tidak bukan adalah kita sebagai bangsa yang memiliki potensi sumber daya alam yang berlimpah seyogyanya harus mencontoh cara pandang masyarakt di negri para penjajah yakni dengan memaksimalkan potensi yang ada di Nusantara agar dapat dikelola dengan baik dan bijaksana.

Tidak dapat saya bayangkan sama sekali, jika suatu saat kita (seluruh rakyat Indonesia) mampu mencontoh cara berpikir mereka yang out of the box, seperti cara berpikir masyarakat yang ada di Negri para Penjajah. Kemungkinan besar bangsa kita (Bangsa Indonesia) akan menjadi bangsa yang lebih disegani oleh Negara-negara adidaya yang berada diluar sana. Dan bahkan saya sangat menyakini bahwa kompetisi menulis blog tahun 2015 ini, tidak akan dilaksanakan oleh masyarakat di Indonesia melaikan akan dilaksanakan oleh masyarakat di Negara Belanda yang betujuan untuk membuka mata dan telinga mereka masyarakat negri para penjajah untuk melihat pontensi dan keindahan alam serta cara pandang masyarakt Indonesia terhadap negri nusantara tercita atau sering disebut wawasan nusantara. Oleh sebab itu kawan, melalui tulisan sederhana ini, saya ingin menyampaikan kepada anda sekalian pembaca yang budiman bahwa sanya, Berkaca pada negri para penjajah merupakan salah satu hal yang baik karena didalam diri negri para penjajah juga terdapat contoh-contoh cara berpikir sederhana yang mampu membuat kita sadar dan lebih realistis dalam menghadapi segala macam benturan permasaalahan yang terjadi akhir akhir ini.

Akhirnya semoga bansga Indonesia mampu keluar dari keterpurukan hingga akhirnya bangsa Indonesia akan mampu menjadi bangsa yang adi daya,akan mampu menjadi bangsa yang mandiri dan akan mampu menjadi bangsa yang hebat, sebagaimana yang tercatat dalah syair lagu kebangsaan kita…. Hiduplah Indonesia Raya……

Wasslam Voril Marpap