017. TANAH UNTUK MASA DEPAN MANUSIA

Penulis : Redite Kurniawan
Tema : Earth

==========================================================================================================================================================

Saya sungguh terkejut ketika membaca sebuah poster di http://www.hollandtrade.com/media/hollandtrade-infographics/agrifood/ yang menyebutkan bahwa Belanda adalah eskportir agri-food terbesar kedua di dunia setelah USA. Pertanyaan yang menggelitik pun awalnya sederhana, bagaimana bisa sebuah negara kecil di Eropa dengan luas hanya 41.528 km2 menjadi produsen raksasa agri-food yang melimpah dengan tetap fokus pada tiga hal utama: healthy food (pangan sehat), suistanability and food security (ketahanan dan pengamanan pangan), food safety and quality (keamanan dan mutu pangan).

Saya tak hendak membandingkan dengan keadaan yang ada di negara ini. Tapi tentunya ada faktor-faktor yang menopang keberhasilan tersebut. Dan benar, ternyata kuncinya ada pada kebijakan pemerintah yang mendukung penguatan sektor pertanian yang kompetitif, keterampilan wirausaha yang handal, dukungan dari riset pertanian pemerintah dan sistem pendidikan, serta industri dengan suplai dan prosesing yang inovatif.

Inovasi yang berorientasi pada teknologi dan agro-ecology layaknya menjadi sesuatu yang penting untuk diungkap. Karena setidaknya ada berbagai macam inovasi yang dikembangkan untuk mencapai keberhasilan pertanian mereka, yaitu manajemen ketahanan tanah, pengurangan emisi nutrisi tanah dan sistem agro-ecology pada lahan pertanian. Yang semua inovasi tersebut bermuara pada tanah.

Tanah yang biasa dianggap remeh sebenarnya sesuatu yang amat penting bagi kehidupan umat manusia. Bayangkan saja jika 99,7% dari seluruh makanan manusia berasal langsung dari tanah. Tanah menyimpan lebih banyak karbon dibandingkan dengan atmosfer dan seluruh tanaman jika digabung. Dan tanah yang sehat menyimpan banyak air segar serta melindungi dari erosi, banjir, dan kekeringan.

Akan tetapi, tanah kini terancam. Degradasi kerusakan tanah telah berdampak secara dramatis pada keamanan makanan, iklim, dan juga kesehatan. Setiap menit manusia merusak tanah subur setara dengan 30 kali lapangan bola, kebanyakan karena cara pertanian yang tidak bertanggungjawab. Dan akibatnya, 10 juta hektar tanah pertanian hilang setiap tahun. Seperempat dari tanah yang ada di bumi telah rusak tergradasi. (http://saveoursoils.com/the-soilution.html)

Tak pelak, tantangan pasar yang besar dan permintaan masyarakat dunia akan pangan membuat tanah menjadi eksploitasi habis-habisan untuk menghasilkan produksi yang masif dengan pemupukan zat kimia. Kemudian meninggalkan banyak masalah pada kesuburan tanah yang terus digerus dengan pupuk-pupuk zat kimia tersebut. Selanjutnya menyisakan kesuburan alami tanah yang makin berkurang. Dan berakumulasi pada pembentukan logam berat, nitrat yang larut dalam mata air, eutrophication (alga yang makin subur dan lenyapnya aksigen pada permukaan air serta membahayakan organisme lain), dan keasaman tanah yang meningkat.

Tidak hanya komposisi kimia tanah, tetapi juga struktur dan kehidupan tanah juga perlu diperhatikan. Dan inilah yang ditekankan oleh Louis Bolk Institute Netherland, salah satu pionir penelitian yang melakukan riset praktis selama 30 tahun tentang manajemen ketahanan tanah. Usaha inovatif berdasar pada pertanian organik yang bekerja langsung dengan para petani, dan mencari solusi untuk petani dan pengambil keputusan.

Dalam pandangan mereka, manajemen ketahanan tanah berarti sebuah pendekatan integratif terhadap kualitas tanah. Menghindari dari bahan kimia. Berpindah pada pola rotasi yang terencana, struktur tanah, mikroba dan fauna, dan hubungan diantara semua hal tersebut. Karena tanah yang subur adalah dasar dari ketahanan pertanian dan kualitas lingkungan. (http://www.louisbolk.org/suistainable-agriculture/soils)

Untuk mengoptimalkan penggunaan nutrisi tanah secara efisien dan siklus nutrisi memerlukan pengetahuan kompleks yang mendalam tentang sistem tanah. Dan Louis Bolk Institute mengembangkan sebuah model siklus nitrogen yang mengatur secara tepat seberapa banyak pupuk yang perlu ditabur pada lahan pertanian.

Seperti diketahui bahwa nitrogen adalah elemen yang memainkan peran penting bagi kesuburan tanah. Tentu, dengan jumlah yang tepat dan waktu yang tepat pula. Kelebihan nitrogen menyebabkan resiko menurunnya kualitas tanah, penyakit, dan larut ke dalam air tanah. Sedangkan kekurangan nitrogen menyebabkan produksi tanaman yang juga menurun.

Sementara itu, tidak bisa diprediksi berapa jumlah nitrogen yang dikirimkan oleh tanah organik. Pelepasan nitrogen dalam pemupukan mungkin bisa dihitung, tetapi jenis tanah, curah hujan, dan kondisi cuaca sangat memengaruhi keadaannya. Masalah tanah organik rupanya sebuah substansi yang cukup kompleks. Dan di sinilah program komputer perencana nitrogen diperlukan, NDICEA.

NDICEA (Nitrogen Dynamics in Crop Rotation in Ecological Agriculture) menyajikan sebuah penghitungan yang menyeluruh terhadap pertanyaan tentang tersedianya nitrogen secara efektif pada lahan pertanian. Program ini lebih sederhana dari pada pengeluaran anggaran untuk nitrogen di tiap lahan. Dimana tetap menyokong permintaan produksi di satu sisi. Sedang di sisi yang lain tidak lagi membutuhkan pupuk buatan, residu lahan, dan beralih pada pupuk hijau dan tanah yang sehat.

Program NDICEA ini telah dikembangkan, diujicobakan, dan digunakan selama lebih dari 15 tahun oleh Louis Bolk Institute. Program ini merupakan kombinasi unik yang ramah lingkungan dan penghitungan yang cermat. Dan menawarkan cara yang mudah untuk menyediakan nitrogen dan bahan organik pada lahan. (http://www.ndicea.nl/indexen.php)

NDICEA adalah model yang dinamis, sebuah proses yang terdiri dari empat modul utama: keseimbangan air, keseimbangan zat organik, pertumbuhan tanaman, dan keseimbangan nitrogen.

NDICEA membedakan profil tanah dari zona akar dalam dua lapisan. Pertama, lapisan atas (0-30 cm) dan kedua, sub lapisan (30-60 cm). Lapisan atas adalah lapisan dimana pencampuran tanah untuk penanaman dilakukan. Akar tanaman tergantung dari jenis tanaman, tetapi biasanya kurang dari 60 cm. Tambahan pupuk dan penyubur ada pada lapisan ini. Penyimpanan air juga bisa terjadi pada sub-lapisan jika pelarutan terjadi pada lapisan yang ada di atasnya. Sedangkan nitrogen yang larut ke dalam tanah melebihi akar dianggap telah hilang.

Melalui serangkaian penelitian disimpulkan bahwa keadaan nitrogen bisa meningkat dari 25% kepada hampir 60% pada waktu yang sama. Dan hal ini jelas berdampak pada produktifitas tanaman, seperti selada, kol, kacang Perancis, labu, wortel, dan brokoli.

Dan dari semua itu, yang paling menggembirakan adalah penggunaan NDICEA ini cukup sederhana. Program ini dapat diunduh secara gratis dari internet melalui NDICEA software di http://www.ndicea.nl. Semua informasi yang diperlukan pada lahan atau rotasi tanah dapat didapatkan melalui internet.

Akhirnya, sebuah inovasi yang berpijak pada manajemen ketahanan tanah, pengurangan emisi nutrisi tanah dan sistem agro-ecology pada lahan pertanian dapat dilakukan di semua belahan dunia. Sebab penting untuk diingat bahwa tanah adalah masa depan umat manusia.