037. Sepotong Cerita Untuk Masa Depan

Penulis : Ahmad Suryawan Oktafiadi
Tema : Water

==========================================================================================================================================================

Bagi yang percaya bahwa pemanasan global hanyalah sebuah mitos anggap saja tulisan ini merupakan fiksi modern yang canggih. Perubahan iklim ekstrim yang tengah berlangsung di seluruh dunia yang ditandai dengan pencairan es di kutub yang semakin cepat dari tahun ke tahun yang pada akhirnya membuat air laut bertambah tinggi bisa saja merupakan kisah banjir besar yang diceritakan dalam beberapa kitab suci yang coba dikemukan dengan lebih berbau keilmuan oleh Al Gore. Bersama dengan Intergovernmental Panel on Climate Change dia mendapatkan nobel untuk usaha dalam membangun dan menyebarluaskan pengetahuan mengenai perubahan iklim tersebut. Itupun untuk nobel perdamaian, bukan ilmu pengetahuan. Pemanasan global boleh jadi terdengar terlalu muluk karena dunia tengah menghadapi masalah yang lebih nyata dan serius; kelaparan, kemiskinan, perang, dan terorisme namun bagaimana jika ramalan mengerikan ini bisa memberikan keuntungan secara ekonomi yang dipercaya merupakan solusi dari semua masalah-masalah tadi?

Saya sendiri lahir dan besar di Salatiga, sebuah kota kecil di provinsi Jawa Tengah di kaki gunung Merbabu dan bekerja di Ruteng, sebuah kota kecil di pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, berketinggian 1000-an lebih meter di atas permukaan laut bisa membayangkan bagaimana rasanya tenggelam. Banjir yang diberitakan secara tahunan di televisi seolah-olah sebuah festival mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit. Tentu saja pemerintah berupaya untuk mengatasi masalah tersebut dengan cara-cara konvensional seperti: pembangunan tanggul, situ, waduk, sumur resapan, meningkatkan intensitas pengerukan sungai, serta meluaskan penghijauan namun bagaimana jika didukung peran masyarakat dan pihak swasta? Pasti akan lebih kuat, kalau bukan, kenapa tidak?

Inspirasi ini berasal dari negeri nun jauh di sana: Belanda. Sebagian besar daratan di negara ini berketinggian di bawah permukaan laut dan negara ini sudah memiliki pengalaman panjang akan banjir. Oleh karena itu Belanda menjadi salah satu yang terdepan dalam teknologi penanganan banjir dan bahkan teknologi dalam menghadapi pemanasan global. Dari membendung lautan di sebelah utara, memompa keluar air lautnya, kemudian menjadikannya lahan pertanian, mengatur aliran sunga-sungainya, hingga membangun bendungan, pintu air, dan penghalang badai di bagian selatan. Bukan itu saja, negara ini juga menghitung perkiraan banjir dengan menggunakan data dari laboratorium simulasi banjir dan data statistik dari perilaku ombak, aliran air, maupun perilaku badai. Biaya kerusakan banjir juga tidak luput dari perhitungan; properti, kerugian usaha, dan bahkan nyawa manusia. Negara ini memiliki dewan pengendali air, yang sebagian besar terdiri dari para petani, yang bertanggung jawab atas pemeliharaan teknologi-teknologi tersebut. Bukan hanya berinvestasi pada alat-alat perang untuk pertahanan bangsa, Belanda juga berinvestasi dalam membangun pertahanan akan banjir. Indonesia memang belum harus membendung lautan, mengeringkannya untuk lahan pertanian sementara masih memiliki lahan luas yang belum tergarap, namun mengapa tidak memulai berinvestasi di bidang pertahanan akan banjir ini jika memang mendatangkan keuntungan?

Contoh yang menarik adalah Rotterdam, kota di bagian Barat Belanda di delta sungai Rhine-Meuse-Scheldt di Laut Utara. Kota ini tidak hanya terkenal karena pelabuhannya yang super sibuk, jembatan Erasmus-nya yang keren, atau menara Euromast-nya yang menjulang tinggi namun juga karena sikap adaptifnya pada isu pemanasan global. Cara pandang kota ini begitu optimis, alih-alih menyangkal pemanasan global kota ini menerimanya dengan lapang dada dan membuatnya sebagai tantangan, lahan investasi malah. Kota ini berfikir jauh ke depan, menerima akan kemungkinan banjir tahunan, mengapa tidak menjadikan kota seperti busa dan gudang penyimpanan air? Kota ini memiliki beberapa lapangan yang lebih rendah dari trotoar dan jalanan di sekitarnya yang berfungsi sebagai plaza air yang nantinya akan terisi air jika datang hujan. Kota ini juga memiliki area parkir bawah tanah yang sangat luas yang digunakan untuk penyimpanan air dalam jumlah besar. Pemerintah kotanya memberikan subsidi untuk pemasangan atap hijau yang menyerap air. Mereka juga mengkondisikan warganya untuk memindahkan kabel listrik ke lantai dua untuk menghindari pemutusan listrik jika datang banjir. Kota ini bahkan mulai membangun lingkungan terapung yang nantinya akan terdiri dari perumahan, perkantoran, sekolah, taman, dan pabrik. Beberapa perusahaan lokalnya mulai menjual keahliannya dalam pembangunan solusi masa depan yang mengantisipasi pemanasan global ini untuk kota-kota lain.

Cara pandang optimis Rotterdam adalah optimisme kota-kota rawan banjir. Indonesia sebagai negara kepulauan yang tentunya memiliki banyak kota pesisir yang rawan bajir tidak ada salahnya mulai memandang masalah banjir bahkan pemanasan global ini dari sudut pandang yang mencerahkan ini. Selain membangun tanggul, situ, waduk, sumur resapan, meningkatkan intensitas pengerukan sungai, serta meluaskan penghijauan mengapa tidak sekalian berdaptasi dan menjadikan proses adaptasi ini sebagai investasi akan masa depan? Tulisan ini boleh saja dianggap sebagai sepotong cerita untuk masa depan dengan ramalan pemanasan global yang terlalu muluk. Saya sendiri dalam rentang hidup yang relatif singkat ini mungkin tidak akan sempat menyaksikan ramalan pemasan global ini terbukti, saya akan tinggal di Salatiga atau Ruteng dan jauh dari banjir namun saya tidak tahan untuk membayangkan masa depan dimana anak cucu kita sedang berenang di lautan, bukan untuk mengagumi indahnya koral atau ikan namun menyusuri puing-puing kota masa lalu yang tenggelam dan mereka menamakannya Atlantis.

Sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Al_Gore

http://www.theguardian.com/sustainable-business/rotterdam-flood-proof-climate-change

http://www.antaranews.com/berita/357251/indonesia-patut-belajar-dari-belanda-atasi-banjir

http://en.wikipedia.org/wiki/Flood_control_in_the_Netherlands

http://en.wikipedia.org/wiki/Rotterdam