045. Dutch Rainmaker: Mengekstrak Udara Menjadi Air Bersih

Penulis : Utomo Priyambodo
Tema : Udara

=========================================================================================================================================================

 

Kabar gembira untuk kita semua. Kekeringan, kini ada solusinya.

Dua kalimat di atas bukanlah sekadar guyonan meniru jingle iklan produk ekstrak kulit manggis. Namun benar-benar merupakan sebuah kabar gembira. Negara-negara yang kerap mengalami kekeringan, baik itu karena musim kering yang dialami maupun karena karekteristik daerah kering yang dimiliki, dapat tersenyum senang mendengar kabar tentang teknologi inovatif yang berhasil diciptakan oleh bangsa Belanda ini.

Teknologi ini dinamakan Dutch Rainmaker. Ya, dari namanya memang terdengar agak narsis, hihi. Yang jelas, melihat kecanggihan teknologi ini, kita seolah melihat Belanda sebagai satu negeri yang telah menjelma menjadi bangsa pengolah udara pula. Berita tentang Belanda yang menjelma menjadi bangsa pengendali air lantaran memiliki daratan yang rendah dan bahkan sebagian wilayahnya berada di bawah permukaan air laut tentu sudah sering kita dengar sejak dulu.

Kini, seolah ingin berekspansi merekayasa elemen kehidupan lainnya, yaitu udara, Belanda merancang teknologi baru yang dapat mengubah udara menjadi air. Sumber energi yang digunakan teknologi ini untuk mengubah udara menjadi air pun berasal dari bentuk udara lainnya, yaitu angin alias udara yang bergerak. Kali ini udara menjadi objek utama inovasi Belanda untuk dimanfaatkan secara besar-besaran.

1Udara Sebagai Objek Utama Teknologi Dutch Rainmaker

Siapakah penemunya? Teknologi ini diciptakan oleh Dutch Rainmaker BV, sebuah perusahaan teknologi yang berbasis di Belanda. Berita baiknya, perusahaan ini telah membuktikan hasil kerja teknologi ini di lapangan. AW75 (Air-to-Water 75), salah satu seri alat dari teknologi Dutch Rainmaker ini, telah diterapkan di Belanda dan Kuwait sejak tahun 2013. Turbin AW75 ini terbukti berhasil memproduksi 7.500 liter air bersih dari udara per harinya.

 

 

2Penerapan Teknologi Dutch Rainmaker di Belanda dan Kuwait

Dutch Rainmaker BV menyatakan bahwa alat buatannya ini cocok digunakan di berbagai iklim dan geografis banyak daerah di dunia. Keunikannya, alat ini hanya membutuhkan sedikit atau bahkan tidak membutuhkan keberadaan infrastruktur lain dalam penerapannya. Hal inilah yang membuat alat ini cocok untuk diterapkan di daerah-daerah terpencil sekalipun. Terutama di daerah-daerah yang lokasinya memang jauh dari sumber air.

Alat ini tidak membutuhkan sumber daya dari luar. Sebab, alat ini telah memiliki pembangkit energi mandiri melalui rotor kincir angin. Sistem yang terangkai dalam alat ini akan mengonversi energi dari angin ke dalam bentuk energi mekanik melalui penggunaan rotor. Alih-alih mengonversinya menjadi energi listrik seperti kebanyakan kasus pada umumnya, energi mekanik yang tercipta dari angin ini dikonversi menjadi energi termal. Sistem dalam alat ini menggunakan energi tersebut dalam bentuk pendinginan.

3Spesifikasi Alat AW75

Bagaimana bila di daerah yang bersangkutan tidak ada angin? Jangan khawatir. Dutch Rainmaker BV juga telah menciptakan alat tambahan untuk menghadapi kasus semacam ini, yakni AW75 Booster. Alat ini dapat memastikan produksi air secara terus-menerus bila di daerah yang bersangkutan tidak ada angin atau tidak terdapat cukup angin untuk menghasilkan air. AW75 Booster dapat bekerja dengan sebuah unit listrik ataupun diesel, dan disesuaikan dengan kondisi lokal yang bersangkutan.

4Spesifikasi Alat AW75 Booster

 

Prinsip pengoperasian teknologi Dutch Rainmaker ini dipengaruhi oleh suhu dan kelembapan udara daerah yang bersangkutan. Teknologi ini paling cocok saat digunakan di daerah yang memiliki suhu udara hangat dan iklim lembap, seperti Timur Tengah, sebagian Amerika Selatan, Afrika, Australia, serta Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

5Wilayah yang Dapat Menjadi Area Penerapan Teknologi Dutch Rainmaker

Perbedaan suhu dan kelembapan udara di masing-masing daerah ini berpengaruh terhadap jumlah air yang akan dihasilkan oleh alat ini. Sebab, ini terkait jumlah air yang terkandung di dalam udara tersebut. Misalnya, udara dengan suhu 20 °C dan 50% RH (Relative Humidity alias kelembapan relatif) mengandung 7,5 gram air per 1 kilogram udara, sedangkan udara dengan suhu 30 °C dan 50% RH mengandung hampir 14 gram air per 1 kilogram udara.

6Contoh Perbedaan Hasil Air yang Dihasilkan Berdasarkan Perbedaan Suhu dan Kelembapan Udara

Prinsip kerja alat ini sebenarnya cukup sederhana. Gerakan angin yang melalui rotor akan menghasilkan energi mekanik pada turbin. Turbin akan memaksa udara melalui sebuah alat penukar panas, di mana udara akan didinginkan, dan kondensasi pun berlangsung. Ketika suhu udara turun hingga di bawah titik pengembunan, tetesan air pun akhirnya terbentuk. Tetes-tetes air ini akan terkumpul ke dalam kompartemen penyimpanan air. Air inilah yang kemudian bisa digunakan untuk kebutuhan domestik (termasuk minum, mandi, cuci) maupun irigasi.

7Bagian-Bagian AW75 dan Proses Kondensasi

Teknologi Dutch Rainmaker ini memiliki banyak keunggulan yang telah diakui oleh dunia. Selain karena sistem yang dimilikinya dapat berdiri sendiri tanpa sumber daya luar, teknologi ini juga tidak membutuhkan pemasukan air, tidak menggunakan bahan kimia, serta tidak menghasilkan sampah. Teknologi Dutch Rainmaker dapat dipasang di berbagai tempat dan untuk berbagai keperluan seperti air minum, pertanian, industri, pariwisata dan kepulauan, pemadaman api, militer, dan sebagainya.

 

8Teknologi Dutch Rainmaker Dapat Digunakan Untuk Berbagai Sektor dan Keperluan

Karena inovasinya ini, Dutch Rainmaker BV sebagai perusahan yang berdiri sejak tahun 2007 menerima gelar “Ones to Watch” pada GP Bullhound Cleantech Connect Awards 2012. Selain itu, pada Oktober 2012, perusahaan yang didanai oleh ICOS Capital ini juga dianugerahi “the first Englithenmentz of the Year” di Science Center NEMO Amsterdam.

9Konstruksi Pemasangan Dutch Rainmaker

Setelah mengetahui kecanggihan Dutch Rainmaker, sebagian dari kita mungkin langsung berpikir betapa solutifnya bila teknologi ini dipasang di berbagai daerah Indonesia yang kerap mengalami masalah kelangkaan air bersih, terutama ketika musim kemarau datang. Namun tujuan saya menulis artikel ini bukanlah untuk dijadikan sebuah rekomendasi agar negara kita, Indonesia, membeli alat tersebut dari Belanda. Tapi lebih dari itu, artikel ini menjadi sebuah tantangan bagi kita, bangsa Indonesia, untuk juga berupaya menciptakan sendiri produk-produk inovatif nan solutif seperti teknologi Dutch Rainmaker tersebut.

Supaya kelak, kita tidak lagi hanya mendengar kabar gembira tentang orang Indonesia yang berhasil mengekstrak kulit manggis menjadi produk kecantikan, tetapi juga kabar gembira tentang orang Indonesia yang berhasil mengekstrak udara menjadi air bersih. Semoga.

 

*Jenis elemen: Udara

**Referensi tulisan dan gambar:

Sunderasan, Srinivasan. 2015. “Cleaner-Energy Investments: Cases and Teaching Notes”. India: Springer.

Dutch Rainmaker. 2013. “Product Sheet: Air to Water Production (AW 75)”. Netherlands: Dutch Rainmaker BV.

Dutch Rainmaker. 2013. “AW75 Booster to Maximize Water Production from Air”. Netherlands: Dutch Rainmaker BV.

http://dutchrainmaker.nl/

http://www.waterworld.com/articles/wwi/print/volume-29/issue-1/regional-spotlight/kuwait-proving-ground-for-the-rainmaker/wind-of-change-water-from-air.html

http://ec.europa.eu/environment/ecoap/about-eco-innovation/good-practices/netherlands/560_en.htm