049. “Soil Quality Maps” Sebagai Inovasi Pengelolaan Kualitas Tanah di Belanda

Penulis : Iman Muhardiono
Tema : Earth

=========================================================================================================================================================

Daratan Belanda dalam sejarahnya merupakan daerah delta dimana terdapat sungai dua sungai utama, sungai Rhine dan Meuse yang mengalir hingga ke Laut Utara (North Sea). Pasir yang terdapat di Laut Utara lebih banyak mengendap pada bagian pesisir barat Belanda akibat terbawa angin sehingga membentuk bukit pasir. Bukit pasir yang terbentuk tersebut mencegah Belanda dari banjir rob dan penyangga tercampurnya air asin Laut Utara dengan air tawar yang berada di daratan. Pesisir timur Belanda terbentuk dari zona liat yang berasal dari permukaan Laut Utara. Kondisi liat dari laut membentuk daerah ini menjadi rawa gambut yang kini semakin meluas. Bagian tengah Belanda lebih banyak mengandung endapan liat yang berasal dari sungai, namun pada daerah yang lebih tinggi lebih banyak ditemukan tanah berpasir. Bagian utara Belanda banyak liat berpasir yang berasal dari Laut Utara.

1Jenis Tanah Negara Belanda 

(Brus et.al Environmental Pollution 157 (2009),2043-2052 dalam Rijkwaterstaat“Into Dutch Soils”, 2014)

Kondisi tanah di Belanda secara spesifik mengandung liat yang kaya unsur hara untuk pertanian. Saat revolusi industri di akhir abad 19, Belanda merubah pertanian tradisional menjadi industri. Sama seperti kegiatan pertanian, orang Belanda secara dominan hidup dalam harmonisasi dengan tanah, namun industrilisasi membuat penambahan permintaan akan tanah yang dimana tidak bisa diatasi. Masyarakat yang dulunya petani menjadi rakyat biasa yang akhirnya mereka kembali menyadari kebutuhan dan kemampuan dari tanah sehingga pembukaan lahan pertanian bertambah dan menjadi urbanisai serta diindustrilisasi.

Tahun 1979, banyak diketemukan tanah yang terkontaminasi, kondisi yang terburuk terdapat di pemukiman Lekkerkerk. Semakin meluasnya masalah tersebut membuat pemerintah sadar dan membuat regulasi. Akhirnya, pemerintah memulai untuk mengembangkan peraturan tanah beberapa tahun sesudahnya dan mengahasilkan Interim Soil Remediation Act (Aksi Remediasi Tanah) pada tahun 1983.

Setelah beberapa tempat pembuangan limbah kimia ditemukan, orang Belanda berpikir dan harus mencari solusi dan inovasi dari permasalah tersebut. Pada awalnya mereka mengira bahwa kontaminasi terjadi hanya di beberapa lokasi dan dapat diselesaikan dalam 10 tahun, namun ternyata justru semakin banyak lokasi yang menjadi penyebab kontaminasi akibat polusi lokal. Kondisi tersebut membuat cemas para ahli apakah masih ada tersisa lokasi yang bersih, tidak tercemar di negara ini.

Sejak tahun 1980, beberapa penyelidikan pada lokasi terkontaminasi dilakukan di Belanda, namun hasilnya banyak ketidakpastian. Pada tahun 1998, pemerintah memutuskan penyelidikan baru yang menyeluruh, mengacu kepada  evaluasi izin lingkungan, pengetahuan tentang kegiatan yang merupakan ancaman terhadap kualitas tanah, dan foto udara. Penyelidikan tersebut memperlihatkan sejumlah 615.000 lokasi berpotensi terkontaminasi pada tahun 2004, namun setelah pemeriksaan pertama lokasi berpotensi terkontaminasi serius berkurang 425.000 (Rijkwaterstaat, 2014).

2Grafik Perkembangan Jumlah Tanah Terkontaminasi di Belanda

( Rijkwaterstaat “Into Dutch Soils”, 2014)

Pemerintah selanjutnya melakukan penyelidikan skala kontaminasi di lokasi lokal dan kebutuhan yang mungkin untuk perbaikan kondisi tanah tersebut. Setelah evaluasi lebih lanjut dan remediasi tanah, lokasi yang terkontaminasi berangsur berkurang. Teknik tersebut memberikan pengaruh positif, dimana tahun 2013 lokasi yang berpotensi terkontaminasi serius adalah diperkirakan 250.000 lokasi dan berkurang drastis dari sebelummnya. Sekitar 1.600 di antaranya membutuhkan perbaikan mendesak, akibat risiko kesehatan manusia (9%), risiko dari kontaminan transportasi pada air tanah(70%), risiko ekologis (8%) atau kombinasi keseluruhannya (13%).

Untuk lokasi terkontaminasi bukan mendesak diharapkan tidak mewakili resiko darurat, sehingga pengelolaan tanah yang berkelanjutan dan remediasi dapat dilakukan disaat yang tidak mendesak seperti contohnya ketika kegiatan pembangunan atau kegiatan yang berkaitan dengan tanah.  Berdasarkan data terakhir, lokasi yang sudah diremediasi di Belanda dari tahun 1980 sampai tahun 2013 adalah sekitar 30.000.

Terdapat dua alur operasi didalam regulasi tanah di Belanda, yakni operasi remediasi dan pengelolaan lahan yang berkelanjutan. Pada operasi remediasi, lokasi yang sudah diselidiki tingkat kontaminasinya langsung diremediasi, namun untuk beberapa kontaminasi yang tidak dapat diangkut harus diremediasi dengan teknik in-situ dan teknik pengelolaan air tanahnya. Pengelolaan lahan yang berkelanjutan lebih menitik beratkan kepada tindakan pencegahan dalam mengelola sumber daya yang terdapat didalamnya dengan menghubungkan kondisi sosial, iklim, pengelolaan air tanah dan perkembangan ekonominya.

Untuk mengetahui keseluruhan lokasi yang berpotensi terkontaminasi, pada tahun 2005 Belanda menggunakan teknologi berbasis peta yang dapat diakses khalayak umum baik itu dari kalangan profesional ataupun tidak yang disebut Soil Quality Maps.

 

3

Soil Quality Maps Belanda (2013)

( Rijkwaterstaat “Into Dutch Soils”, 2014)

Teknologi ini menampilkan data tanah setiap area pemukiman di Belanda termasuk area pertanian didalamnya. Inovasi ini sangat memudahkan mereka tanpa harus melakukan analisis lanjutan yang dimana dapat mengurangi biaya dan waktu apabila melakukan analisa tanah untuk kegiatan remediasi tanah. Mereka dapat melihat daerah mana yang kelebihan tanah dan daerah mana yang kekurangan tanah.

Belanda menempatkan 100 lokasi sebagai basis informasi penggunaan lahan dan melakukan teknik sampling tanah secara berkelanjutan. Data sampel tanah yang diambil dilokasi tersebut menampilkan kualitas top soil (0-10 cm) dan kedalaman yang tidak terganggu (50-100 cm).

Pada dasarnya Soil Quality Maps hanya menampilkan substansi kualitas tanah yang paling sering diperlukan seperti kadar barium, cadmium, cobalt, copper, mercury, lead, molybdenum, nickel, zinc, jumlah-PCBs, jumlah-PAHs, dan mineral minyak. Kini mereka membagi tingkatan kualitas tanah menjadi dua definisi sebagai acuan kadar kontaminasi terendah suatu tanah, yakni nilai maksimal untuk penggunaan lahan pemukiman dan nilai maksimal untuk penggunaan industri. Nilai tersebut hanya diperuntukan untuk tanah (tidak termasuk air tanah) yang dikalkulasi berdasarkan resiko kesehatan manusia, resiko ekologi, dan resiko untuk produksi pertanian. Nilai-nilai mewakili 101 substansi kualitas tanah yang telah menjadi regulasi umum mereka. Meskipun informasi tersebut sudah dapat membantu, namun mereka masih memerlukan tambahan informasi dari kandungan organik dan liat.

4Skema Penanganan Tanah Terkontaminasi Belanda

( Dr. Ton Handers, 2014)

Metode remediasi berkembang dimana pada umumnya teknik ini bertujuan untuk membatasi manusia dari dampak resiko ekosistem dan mencegah pergerakan kontaminan. Kondisi lokal, penggunaannya dimasa depan, dan kontaminasi itu sendiri akan menjadi landasan jenis remediasi yang akan diterapkan. Kegiatan pengelolaan lahan juga merupakan metode remediasi karena merupakan solusi perbaikan tanah yang terkontaminasi. Selain menentukan metode remediasi yang tepat, biaya operasi/pemeliharaan menjadi faktor penting yang diperlukan dalam metode remediasi dan dampak lingkungan pun perlu dipertimbangkan. Ketika kontaminan harus digali dan dipulihkan maka nilai kualitas tanah menjadi batasan untuk penerapan remediasi. Jika tidak semua kontaminasi dihapus maka perawatan pasca remediasi menjadi penting dimana keputusan tersebut berdasarkan posisi kontaminasi (kedalaman, berada di tanah atau air tanah), jenis zat pencemar (bergerak atau tidak). Dengan bantuan teknologi Soil Quality Maps ini tanah yang terkontaminasi akan terdaftar secara formal di pendaftaran tanah bersama dengan nama pemilik dan batasan wilayahnya sehingga memudahkan orang Belanda dalam mengelola tanah mereka.

Daftar Pustaka :

  • Honders, Ton. 2009. New Legislation On The Sustainable Reuse of Lightly Contaminated Soil in The Netherlands.
  • (Rijkwaterstaat) Ministry of Infrastructure and the Environment. 2014. Into Dutch Soil. Netherlands