050. Sepak Bola Belanda terhadap Ruang (FINALIST)

Penulis : Amal Ganesha Warganegara
Tema : Earth

=========================================================================================================================================================

Sebagai olahraga paling populer di alam semesta, Belanda tidak absen terhadap sepak bola. Salah satu pelopor gaya bermain sepak bola kontemporer, orang-orang Belanda adalah sekumpulan manusia dengan selera akan seni yang sangat tinggi. Selama berpuluh tahun lamanya, tanah dan ruang telah menjadi perhatian khusus bangsa dengan populasi hampir 17 juta jiwa ini.

Seni dekat dengan keindahan, pun juga dengan keanehan. Keanehan dan keindahan itu bisa dilihat dari pelbagai karya seni yang terekspresi di Belanda. Ukiran wajah manusia atau binatang di depan pintu, patung monyet dan burung yang saling memandang di tengah kota, mozaik di atas trotoar, atau tembok yang melengkung yang dibuat tanpa fungsi apapun selain itu tadi; seni.

Pada era 1900-an, terjadilah fenomena ‘Total Architecture’ di tanah Belanda. Kala itu, pembangunan kota dan seluruh negeri tiba-tiba menjadi karya seni yang total akibat ilmu arsitektur yang mulai tumbuh.

Bapak arsitektur modern Belanda, H.P. Berlage adalah pencetus ide atas apartemen yang besar dengan fungsi ruang yang lebih dari biasanya. Berlage juga merupakan pencetus gaya taman di atas tanah yang luas dengan ruang yang lebar, sehingga terjadi pelepasan energi negatif yang baik –kelapangan ruang dan pemandanganluas adalah pelepas stres yang efektif. Sedangkan Aldo van Eyck, arsitektur yang lebih muda dan dikenal sebagai strukturialis menjelaskan bahwa setiap sistem harus menyatu dengan satu kesatuan konsep dan memiliki fungsi yang saling terintegrasi.

1

Gbr. 1. Nieuwmarkt Playground, Amsterdam, Aldo van Eyck: Works (Ligtelijn, 1999)

Struktur adalah kata kunci para kaum cerdas. Bangsa Eropa dengan segala kemajuan dan kecerdasannya mengajarkan betapa pentingnya segala yang terstruktur. Cara berpikir, ilmu manajemen, alur penelitian (research protocol), waktu ibadah, kalender, dan batasan waktu semuanya adalah struktur dari buah pikiran makhluk paling canggih di dunia; manusia.

Masyarakat Belanda telah memahami konsep itu sejak lama, dan telah mengimplementasikannya dalam segala aspek kehidupan. Negara dengan luas wilayah yang hanya nyaris sepertiga Pulau Jawa ini sangat kesulitan dengan kehadiran ruang/tanah. Tak heran, tata letak interior apartemen atau rumah di Belanda merupakan salah satu yang terunik, dimana efisiensi ruang yang sangat maksimal awam terlihat di tempat lain di dunia (Winner, 2010).

2

Gbr. 2 (Inspirationfeed, 2012)

Sebanyak 26% area tanah di Belanda berada di bawah permukaan laut (Schiermeier, 2010), dan sebanyak 17% area di Belanda adalah hasil reklamasi tanah yang didukung dengan sistem dam yang sangat canggih. Sesuai dengan namanya, ‘Netherlands’, yang berarti ‘tanah di bawah’, Belanda sangat pandai dalam mengelola air dan tanah. Negeri ini adalah tempat terbaik dimana Anda bisa menimba ilmu manajemen air dan pantai (water and coastal management). Tentu saja, berkat masalah dengan ruang yang sudah ‘mengakar’, mereka juga pandai dalam mengelola perkotaan serta infrastruktur.

Tapi, selain mempengaruhi sistematika berpikir terhadap manajemen air, perkotaan, dan infrastruktur, masalah kelangkaan ruang ini juga telah membuat Belanda menjadi bangsa yang paling berpengaruh terhadap sepak bola modern, mengapa?

What is God? God is length, height, width, depth” -St Bernard de Clairvaux (1090-1153) (Winner, 2010).

Jika berbicara mengenai sepak bola Belanda, berarti Anda sedang membicarakan Ajax Amsterdam. Lebih dari setengah starting line-up De Oranje di laga final Piala Dunia 2010 adalah alumnus Ajax. Sebagai klub paling sukses di tanah Belanda, Ajax terus menerus menyuplai pemain berbakat ke tim nasional dalam seabad terakhir, sebut saja nama-nama tenar seperti Johan Cruyff, Johan Neeskens, Ruud Krol, Van Basten, Patrick Kluivert, Marc Overmars, Wesley Sneijder, dan masih banyak lagi.

Tidak hanya menyumbang pemain, Ajax juga mempengaruhi gaya bermain timnas Belanda yang sangat atraktif hingga sekarang. Rinus Michels bisa dibilang inovator terbesar sepak bola Belanda –bahkan dunia– karena karya agungnya yang bernama Total Football. Michels mulai memoles Ajax sebagai pelatih pada 1965. Sentuhan ajaibnya membuat decak kagum dari seluruh dunia karena penemuannya di atas tanah lapangan sepak bola. Ajax menjuarai liga Belanda sebanyak enam kali dalam delapan tahun dan menjuarai European Cup (sekarang Liga Champions) tiga kali berturut-turut (1971-1973).

Pada Piala Dunia 1974 Michels ditunjuk sebagai pelatih tim nasional, dan orang Belanda mulai menyebut istilah ‘totaalvoetbal’, merujuk pada gaya bermain De Oranje kala itu (Winner, 2010: 30).

Total Football adalah gaya bermain yang didominasi oleh pergerakan dinamis dan agresif, dengan maksud pengkondisian ruang yang efektif.  Ketika lawan memegang bola, maka tim Belanda akan membuat seluruh ruang di atas lapangan menjadi sangat sempit, yaitu dengan menerapkan collective pressing. Sebaliknya, jika Belanda memegang bola, mereka akan mengkondisikan ruang yang seluas-luasnya, yaitu dengan cara membentuk formasi yang melebar ke seluruh sudut lapangan. Filosofi ini menjadi sangat sesuai dengan formasi 4-3-3 yang secara tradisional terus digunakan timnas Belanda dari dulu hingga sekarang, karena formasi tersebut adalah yang terbaik dalam mengkapitalisasi luas lapangan. Dan yang paling menarik dari Total Football adalah bahwa seorang penyerang bisa menjadi bek, dan seorang bek bisa maju menjadi penyerang, dengan kata lain, tidak ada posisi baku dalam sistem ini.

Hingga saat ini, tidak ada satupun tim sepak bola yang mampu memainkan Total Football versi Rinus Michels, jika ingin mendekati –walaupun masih sangat jauh– adalah FC Barcelona (2008-2012) yang jika ditarik garis regresi adalah hasil manifestasi kejeniusan Michels juga (ia pernah berkarier di Barca sebagai pelatih) (Bergkamp &Winner, 2013).

Bagi orang Belanda, sepak bola adalah seni. Sama seperti merancang kota dan desain arsitektur yang penuh konsep, cara bermain bola di Belanda pun dianggap seni. Bagi mereka, menang adalah bonus, sedangkan bermain indah/atraktif adalah yang utama. Penguasaan bola, dengan unsur penciptaan ruang yang terstruktur adalah segalanya. Bahkan tak jarang seorang kiper di Belanda disoraki ‘booo’ oleh penonton jika mencoba merusak keindahan bermain –dengan menendang lambung bola hasil operan bek– (Winner, 2010). Itulah mengapa, jika Anda perhatikan, kiper-kiper Belanda sangat pandai dalam bermain umpan-umpan pendek di area pertahanan sendiri.

Selanjutnya, tolak ukur keindahan gaya sepak bola Belanda ini telah dibuktikan oleh Kerr et al. (2011) yang menemukan bahwa pendukung Ajax Amsterdam di Amerika Serikat menjadi semakin loyal karena senang melihat permainan Ajax yang atraktif.

Apapun itu, filosofi bermain sepak bola Belanda saat ini telah diadopsi oleh tim-tim top dunia, unsur-unsur penguasaan bola, ruang lebar/sempit, dan umpan-umpan pendek telah menelurkan pemahaman baru mengenai gaya bermain yang ‘benar’. Kini, seluruh aspek statistik teknis pemain sepak bola diukur demi mendukung satu sistem yang dianggap ideal: sistemnya orang Belanda!

Bermula dari kesulitan terhadap ruang (tanah), Belanda menjadi ahli dalam mengelola ruang, Total City, Total Architecture, dan Total Football.

——————————-

Penulis adalah pengagum sepak bola Belanda, pernah menimba ilmu manajemen olahraga di Inggris tapi tidak sempat menyebrang untuk bertemu Dennis Bergkamp dan Edwin van Der Sar. Biasa berkicau via akun Twitter @amalganesha.

 

Referensi:

Bergkamp, D., and Winner, D. (2013) Stillness and Speed: My Story. London: Simon & Schuster

Inspirationfeed (2012) 6 Creative Architectural Building Designs [online] available from <http://inspirationfeed.com/inspiration/architecture/6-creative-architectural-building-designs/> [2 April 2015]

Kerr, A.K., Smith, N.F., and Anderson, A. (2011) ‘”As American as Mom, Apple Pie and Dutch Soccer?”: The Team Identification of Foreign Ajax FC Supporters’. In H. Dolles and S. Soderman (eds). Sport as a Business: International, Professional and Commercial Aspects. Basingstoke: Palgrave Macmillan

Ligtelijn, V. (1999) Aldo van Eyck: Works. Basel: Birkhäuser Publishers, pp. 88–90

Schiermeier, Q. (2010) ‘Few fishy facts found in climate report’. Nature 466, 170, doi:10.1038/466170a

Winner, D. (2010) Brilliant Orange: The Neurotic Genius of Dutch Football. London: Bloomsbury Publishing