055. Dutch – Water Partnership

Penulis : Inge Klara Safitri
Tema : Water

=========================================================================================================================================================

Sebagai negara dengan kondisi permukaan tanah yang lebih rendah dari permukaan laut, Belanda sudah berpengalaman lebih dari 2000 tahun dalam usahanya mengatasi banjir akibat luapan air laut utara yang ganas maupun air sungai. Menciptakan sistem manajemen air yang tidak hanya bisa melindungi daerahnya dari banjir tetapi juga bisa dimanfaatkan sebagai cadangan air tawar dan untuk meningkatkan jalur pengairan menjadi bagian dari fokus penanganan.

Sebelum berdiri bendungan-bendungan berteknologi tinggi seperti sekarang, bendungan pertama yang mengawali konsep bendungan saat ini adalah terpen. Terpen dibangun oleh orang-orang Frisian sepanjang ribuan mil di pesisir pantai untuk menghadang air laut utara. Terpen dibentuk seperti bukit-bukit mengelilingi garis batas pantai. Konsep terpen inilah yang nantinya berkembang menjadi dike/bendungan, sehingga keduanya memiliki kesamaan sistem yaitu sistem buka tutup otomatis ketika air laut pasang atau surut.

1Konsep Terpen

Namun pada tahun 1287 terjadi banjir besar akibat bobolnya terpen. Setelah kejadian tersebut dilakukan pembangunan pantai baru yang di sebut dengan zuiderzee. Kemudian dilanjutkan dengan pembangunan bendungan/tanggul diatas permukaan laut yang dinamakan aufsluitdijk. Fungsinya mengubah zuiderzee menjadi Ijsselmeer atau danau air tawar. Bendungan/tanggul tersebut juga dilengkapi dengan pompa pengering (kincir angin) dan kanal-kanal.  Bendungan dibuat berlapis sebagai proteksi tambahan dari luapan air, Kanal-kanal berfungsi mengalirkan air dan sebagai daerah resapan air berupa danau. Sedangkan kincir angin berfungsi sebagai pompa yang mengonversi air hujan dan air serapan yang menggenangi daratan ke laut. Dibutuhkan ribuan kincir angin yang disusun dengan tinggi yang berbeda satu sama lain untuk menjaga tanah tetap kering, hal tersebut dilakukan agar kincir angin mampu memompa air secara bertahap ke lingkaran kanal. Selain itu, kincir angin juga digunakan untuk mengolah lahan pertanian, pembangkit listrik, dll. Keberadaan ribuan kincir angin tersebutlah yang menjadi alasan negara ini dikenal dengan sebutan negeri kincir angin.

2Banjir Tahun 1953 di Belanda

Usaha Belanda menjaga tanahnya tetap kering tak berhenti sampai disitu saja, karena pada tahun 1953 banjir besar kembali menerjang. Menanggapi persoalan banjir kala itu, pemerintah .membangun proyek delta (deltaworks/deltawarken), yaitu pembangunan infrastruktur polder strategis untuk menguatkan pertahanan terhadap terjangan air. Polder adalah dataran rendah yang membentuk daerah yang dikelilingi oleh tanggul. Polder diterapkan pada daerah reklamasi laut/muara sungai. Selain itu polder juga diterapkan pada manajemen air buangan di daerah yang lebih rendah dari permukaan laut/sungai. Sistem ini juga disempurnakan dengan kincir angin. Proyek ini berhasil mengurangi resiko banjir di South Holland dan Zeeland. Seiring perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan, kini manajeman air yang dipegang oleh kincir angin sudah digantikan dengan stasiun pemompaan bertenaga diesel dan listrik setelah sebelumnya juga sempat digantikan oleh pompa bertenaga uap.

4

Setelah sukses dengan konsep bendungan berpintu otomatis dan tanggul yang membanggakan, dalam rangka menghadapi tantangan Climate Change Belanda kembali membuat inovasi dengan menambah teknologi baru yang lebih alamiah, yaitu Sand Engine. Sand Engine atau mesin pengeruk pasir ini adalah ide dari Dutch masters of flood control technology and designed dengan alasan ingin memanfaatkan sistem alam untuk rekayasa hidrolik demi melindungi sekitar 20km area garis pantai dari abrasi dan kenaikan permukaan laut. Selain Sand Engine juga akan dibangun tanggul hibrida. Tanggul ini akan mengandalkan teknik yang meniru sistem alam dan memanfaatkan kekuatan alam untuk menahan air laut dengan cara penanaman vegetasi seperti pohon-pohon mangrove di sisi laut. Tanggul ini memiliki fungsi yang sama dengan tanggul tradisional tapi tidak menghabiskan banyak biaya, lebih murah, dan lebih tahan lama. Dan tanggul hibrida pertama dibangun di dekat Dordrecht.

Hidup berdekatan dengan ancaman luapan air tak hanya membuat negeri kincir angin ini berinovasi dalam teknologi penanganan banjir, mereka juga selalu ingin berinovasi untuk memanfaatkan kelebihan air tersebut untuk kehidupan yang lebih baik. Kini di musim kering mereka tetap bisa mengalirkan air ke peterenakan mereka. Air tersebut didapat dari Ijsselmeer bekas zuiderzee yang dipompa ke saluran-saluran irigasi peternakan. Selain itu manajemen air bersih untuk minum juga sudah di bangun dengan baik disana. Air tersebut bersumber dari air tanah, air permukaan dan air laut yang telah melalui proses desalinasi. Tak heran jika di banyak sudut kota disana tersedia keran-keran air untuk minum.

Bermacam inovasi ini merupakan bukti nyata kesungguhan dan kreatifitas Belanda dalam memperbaiki diri dan memanfaatkan alam. Negeri ini berhasil mengambil pelajaran dari pengalaman dan menjadikannya sebagai landasan awal berkreasi demi masa depan yang lebih baik. Dengan kemampuannya tersebut tak salah memang jika Belanda dijadikan kiblat pembangunan teknologi manajemen air dunia.

 

Referensi :

cheryl katz, “To Control Floods, The Dutch Turn to Nature for Inspiration”, http://e360.yale.edu/feature/to_control_floods_the_dutch_turn_to_nature_for_inspiration/2621/, diakses pada tanggal 5 April 2015.

K. Jan Oosthoek, “Dutch River Defences In Historical Perspective”, http://www.eh-resources.org/floods.html, diakses pada tanggal 5 April 2015.

Rijkswaterstaat, “Water Management in Netherlands”, https://www.rijkswaterstaat.nl/en/images/Water%20Management%20in%20the%20Netherlands_tcm224-303503.pdf, diakses pada tanggal 5 April 2015.

Rijkwaterstaat, “Netherlands Experiences With Integrated Water Management: Considerations For International Cooperation”, http://www.hydrology.nl/images/docs/iah/publications/2_NL_experience_in_Integrated_Water_Management.pdf, diakses pada tanggal 5 April 2015.

“The Dutch solution to floods: live with water, don’t fight it”, http://www.theguardian.com/environment/2014/feb/16/flooding-netherlands, diakses pada tanggal 5 April 2015.