057. Buah Kekecewaan Pemuda Belanda Untuk Laut Dunia

Penulis : Utomo Priyambodo
Tema : Water

=========================================================================================================================================================

Kekecewaan membuahkan kreativitas. Mungkin itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan sepak terjang Boyan Slat. Pemuda Belanda kelahiran 1994 ini berhasil menciptakan sebuah inovasi yang dipuji oleh dunia justru awalnya karena ia merasa kecewa.

1

Boyan Slat, Kecewa Membuatnya Kreatif

Ceritanya begini. Seusai melakukan liburan penyelaman di wilayah perairan Yunani pada tahun 2011, Slat merasa kecewa karena ia justru menyaksikan lebih banyak sampah plastik ketimbang ikan. Ia bertanya-tanya, tidak bisakah kita membersihkannya? Sebuah proyek sains di SMA-nya memberikan ia kesempatan untuk meneliti masalah tersebut selama setengah tahun.

2

(Animasi) Boyan Slat Kecewa Melihat Lebih Banyak Sampah Plastik Ketimbang Ikan di Laut

Ketika Slat telah menjadi mahasiswa teknik dirgantara Universitas Delft, ia tetap tidak bisa berhenti memikirkan permasalahan sampah plastik di lautan tersebut. Proses berpikirnya ini akhirnya menghasilkan sebuah konsep tentang pembersihan laut secara pasif. Alih-alih memburu sampah plastik, Slat berpikir lebih baik merancang sebuah sistem yang, dengan digerakkan arus laut, sampah plastik dapat terkumpul dengan sendirinya.

Pada tahun 2012 Slat mempresentasikan konsep pembersihan secara pasif ini di sebuah acara pertemuan TEDx Delft. Presentasi yang ia bawakan mendapat sambutan positif dari banyak orang. Setelah video presentasinya diunggah ke youtube, respon dan dukungan positif pun mengalir semakin deras. Dukungan dana, pikiran, dan tenaga datang dari berbagai kalangan untuk turut merealisasikan konsep Boyan Slat ke bentuk alat skala besar yang benar-benar dapat diterapkan secara nyata.

3

Boyan Slat Mempresentasikan Konsepnya di Acara TEDx Delt

Setelah mendapat banyak dukungan dari para donatur dan relawan, sejak tahun 2013 Slat memilih secara total meluangkan sepenuh waktunya untuk berusaha mewujudkan konsepnya ini. Ia memilih untuk sementara berhenti dari kegiatan perkuliahan di kampusnya maupun kehidupan sosialnya demi fokus merealisasikan sistem rancangannya.

Pada Juni 2014, setelah memimipin sebuah tim internasional yang beranggotakan seratus orang saintis, insinyur dan relawan selama setahun, konsep pembersihan laut secara pasif ini mulai menemui titik terang. Kini Slat dan seratus orang yang tergabung dalam tim The Ocean Cleanup dapat tersenyum senang ketika hasil rancangan mereka mulai membuahkan hasil nyata di lapangan.

Kritik, cemooh, maupun keraguan yang sebelumnya datang dari berbagai pihak kini dapat mereka jawab dengan senyum keyakinan. Salah satunya melalui buku setebal 530 halaman yang berjudul “How The Oceans Can Clean Themselves: A Feasibility Study”. Semua jawaban terhadap berbagai pertanyaaan maupun kritik yang ditujukan kepada Slat dan tim dipaparkan secara ilmiah berdasarkan hasil kerja tim The Ocean Cleanup di lapangan ditambah teori ilmu pengetahuan. Menariknya lagi, sampul dari buku tersebut terbuat dari daur ulang sampah plastik yang berhasil dikumpulkan oleh tim The Ocean Cleanup selama menerapkan alat rancangan mereka di lautan.

4

Buku “How The Oceans Can Clean Themselves: A Feasibility Study”

Di dalam buku ini dijelaskan pula sejumlah fakta dan data yang menelatarbelakangi tim dan konsep The Ocean Cleanup dibentuk. Fakta dan data ini menjadi alasan penguat mengapa konsep The Ocean Cleanup sejatinya memang sangat dibutuhkan, di antaranya:

  1. Setiap tahun kita memproduksi sekitar 300 juta ton plastik. Sebagiannya masuk dan terakumulasi di lautan. (UNEP, 2005)
  2. Karena arus laut yang ada, sampah-sampah plastik tersebut berkonsentasi di dalam area luas yang dinamakan gyre. Ada lima gyre di lautan, salah satunya adalah Gyre Pasifik Utara. (Maximenko et al., 2012)
  3. Sekurang-kurangnya satu juta burung laut dan seratus mamalia laut mati setiap tahunnya akibat polusi sampah plastik. (Laist, 1997)
  4. Sampah lautan menyebabkan kerugian dalam penangkapan ikan dan kapal dengan estimasi sebesar 1,27 miliar dolar setiap tahunnya di dalam kawasan APEC (Asia-Pacific Economic Cooperation) sendiri.
  5. Ketika hewan laut memakan plastik, bahan kimia berbahaya terbawa dan terakumulasi ke dalam rantai makanan. Manusia terancam penyakit bahkan kematian ketika mengonsumsinya.
5

Lima Arus Rotasi Besar di Lautan yang Dinamakan Gyre

 

6

Burung Laut yang Mati, di Dalam Perutnya Terdapat Banyak Sampah Plastik

 

7

Akumulasi Racun Kimia di Dalam Rantai Makanan

Kini, konsep The Ocean Cleanup telah menjadi sebuah metode pembersihan secara pasif yang terbukti dapat dikerjakan dan dapat berjalan (feasible and viable). Pembuktian konsep ini telah dicoba di laut Atlantik. Kini tim The Ocean Cleanup telah dapat mengestimasi bahwa melalui metode The Ocean Cleanup, hampir setengah jumlah sampah plastik yang ada di Gyre Pasifik Utara, yakni sekitar 70 juta kilogram, dapat dibersihkan dalam waktu sepuluh tahun. Mereka juga mengestimasi biaya yang diperlukan melalui metode The Ocean Cleanup ini hanyalah sebesar 4,53 euro per kilogram sampah plastik. Ini 33 kali lebih murah dan 7.900 kali lebih cepat dibandingkan melaui metode pembersihan secara konvensional.

8

Pembuktian Nyata The Ocean Cleanup di Lautan

Melalui metode konvensional, pembersihan dapat menghabiskan uang jutaan dolar dan waktu ribuan tahun untuk mengangkut sampah plastik dari lautan seluas area tersebut (Moore, 2011). Sebab, pembersihan secara konvensional dilakukan dengan cara “menangkap plastik”, yakni dengan kapal dan jaring-jaring seperti operasi penangkapan ikan. Sedangkan melalui metode The Ocean Cleanup, terdapat susunan pembatas sepanjang 100 kilometer yang dibentangkan mengapung secara statis untuk menghadang dan mengumpulkan sampah plastik yang bergerak ke arahnya akibat arus rotasi gyre di lautan. Pembatas ini disusun dalam dua lengan sepanjang 50 kilometer yang terhubung dan membentuk huruf “V”.

9

Susunan Pembatas The Ocean Cleanup

 

10

(Ilustrasi) Pembatas Sepanjang 100 Kilometer Berbentuk “V” yang Disusun Berdasarkan Arah Arus Gyre

Susunan pembatas ini hanya akan menghadang benda-benda yang melewati area 3 meter teratas permukaan air, di mana konsentrasi terbesar sampah plastik ditemukan menurut hasil studi. Ini juga untuk mengurangi potensi “bycatch”, yakni kemungkinan ikan atau makhluk laut lain tertangkap. Sampah-sampah plastik ini akan terangkut ke dalam sebuah platform bersumber daya energi matahari yang berkapasitas 10.000 meter kubik. Sampah-sampah plastik ini secara berkala akan dikosongkan dari platform dengan diangkut melalui kapal untuk didaur ulang.

11

(Ilustrasi) Hanya Sampah Plastik yang Terjerat, Ikan-Ikan Dapat Melalui Pembatas

 

12

(Ilustrasi) Sampah Plastik Terangkut ke Dalam Platform

 

13

(Ilustrasi) Sampah Plastik Diangkut dari Platform ke Dalam Kapal Untuk Kemudian Didaur Ulang

Hasil daur ulang sampah plastik ini tentu saja akan memberikan nilai ekonomi. Sehingga ke depannya, The Ocean Cleanup berpotensi besar menjadi sebuah perusahaan berbasis sosial entrepreneur yang juga menyelesaikan masalah lingkungan.

Kini, tim The Ocean Cleanup sedang berupaya menggalang dana guna melalukan operasi pembersihan sampah terbesar sepanjang masa di Gyre Pasifik Utara pada empat-lima tahun mendatang. Dukungan, harapan, serta penghargaan telah datang dari berbagai pihak. Tahun ini rancangan The Ocean Cleanup tercatat dalam daftar Designs of the Year award 2015. Selain itu, Boyan Slat sendiri telah diakui sebagai salah satu dari 20 The Most Promising Young Entrepreneurs Worldwide (Intel EYE50) dan dianugerahi penghargaan The 2014 United Nations Champions of the Earth.

14

Linimasa Proyek The Ocean Cleanup

Akhinya, semoga kisah di atas dapat menginspirasi kita semua. Bahwa ketika kita kecewa karena melihat adanya masalah atau keburukan pada suatu hal, hendaknya kita tidak lantas bersikap antipati ataupun apatis terhadap hal tersebut. Tetapi, hendaknya itu justru menjadi motivasi bagi diri kita untuk berinovasi menciptakan solusi ataupun perbaikan terhadap masalah tersebut. Itulah yang dilakukan oleh Boyan Slat. Seorang pemuda Belanda dipuji oleh banyak orang karena kekecewaannya membuahkan kreasi inovasi yang solutif untuk laut dunia.

***Referensi tulisan dan gambar:

Slat, Boyan., et al. 2014. “How The Oceans Can Clean Themselves: A Feasibility Study”. Netherlands: The Ocean Cleanup.

http://www.dezeen.com/2015/04/02/ocean-cleanup-boyan-slat-waste-designs-of-the-year-2015/

http://www.boyanslat.com/

http://www.theoceancleanup.com/

http://www.dailymail.co.uk/sciencetech/article-2415889/Boyan-Slat-19-claims-invention-clean-worlds-oceans-just-years.html

http://www.nydailynews.com/news/world/plan-aims-rid-oceans-7-25m-tons-plastic-article-1.1299892

https://www.youtube.com/watch?v=hn_vzZwVJNY

https://www.youtube.com/watch?v=QpDxE8BhPSM