059. Melahirkan Pembuka Air Bersih di Tanah Air

Penulis : Shinta Purnama Sarie
Tema : Water

=========================================================================================================================================================

Picture1

Kilang Air di Toraja (Foto Kredit: Shinta Purnama Sarie). 

Indonesia mengklaim kaya akan mata air yang berkualitas dan berkuantitas baik sebagai sumber air bersih. Walaupun begitu, Indonesia masih menghadapi ketidakmerataan akses air. Data dari Kementerian Pekerjaan Umum, saat ini persentase akses air minum aman mencapai 67,73 persen dan akses sanitasi 59,71 persen. Angka ini berada di bawah target Millenium Development Goals 2015 yakni 68,87 persen untuk air minum dan 59,71 persen untuk sanitasi.[1]

Kendalanya ketidakmerataan ini adalah karena air bersih tidaklah gratis, karena air bersih harus dibeli dari perusahaan air minum dan atau diusahakan proyek-proyek sosial orientasi akses air bersih dan sanitasi baik dari pemerintah maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dimana membutuhkan pendanaan yang tidak sedikit.  Dalam menggalakkan akses air bersih baik dari kooperasi atau inisiasi LSM dan pemerintah tentunya memerlukan SDM yang berkualitas untuk menggerakkan kumpulan inisiasi-inisiasi menggalakkan air bersih.

Air bersih memang memegang peranan penting apalagi di Indonesia yang sebagian besarnya menggunakan air untuk kebutuhan dasar sehari-hari. Ketidakmerataan air ini juga berdampak pada saya. Saya ingat sekali ketika kecil, ayah harus membeli air karena air dari aliran PDAM tidak mengalir selama sebulan di Balikpapan. Biasanya air yang dibeli dibagikan ke tetangga-tetangga yang tidak mampu membeli air. Ternyata tidak hanya di kampung halaman saya saja yang kekurangan air. Ketika saya bekerja untuk meliput praktik panen madu lestari di desa Ueesi, Sulawesi Tenggara. Selama peliputan, saya harus tinggal seminggu disana. Desa tersebut tidak ada akses air bersih, air langsung dari sungai tanpa ada proses penyaringan.

Infrastruktur di Indonesia memang belum merata terutama di bidang air dan sanitasi. Infrastruktur air sendiri diinisiasi oleh Belanda dengan pemasangan pipa-pipa yang dilakukan oleh Belanda. Di Surabaya, pemasangan pipa dilakukan oleh NV. Biernie selama 3 tahun. Sedangkan di Surakarta sendiri, pemasangan pipa dilakukan oleh NV Hoogdruk Water Leiding Hoofplaats Surakarta en Omstreken. Di Cimahi dan Rembang, pemasangan pipa dilakukan oleh Water Leiding Bedrijf. Begitupun daerah lainnya. Pemasangan pipa inilah awal mula yang sekarang namanya PDAM. Di daerah yang sudah baik infrastrukturnya, PDAM berfungsi sebagai penyedia air bersih pada masyarakat. Di desa-desa, PDAM sendiri belum bisa beroperasi, karena sistem infrastruktur desanya belum terbangun. Yang bisa dilakukan adalah membangun infrastruktur penyaringan air berbasis desa. Sudah menjadi visi PDAM untuk menyediakan air bagi masyarakat luas. Namun, sulit dielak pemerataan akses air bersih belum tercapai.

Menjawab tantangan ini, dalam pengelolaan air, Belanda telah banyak membantu dengan inovasi dan inisiasi di Indonesia terutama di infrastruktur baik dalam bentuk hibah ataupun penguatan program-program sosial. Belanda juga menyokong kapasitas para penggiat kelangsungan air bersih di Indonesia dengan program-program pelatihannya. Dengan adanya target pemerintah untuk pemerataan air bersih memberi harapan atas pendanaan yang cukup dan kegiatan yang berorientasi pengelolaan akses air bersih. Namun bagaimanakah dengan SDM-SDM yang menggerakkan kegiatan-kegiatan tersebut? Apakah kualitas mereka mempengaruhi kualitas kinerja PDAM dan program-program yang beriorientasi pemerataan air bersih?

SDM merupakan investasi jangka panjang suatu negara. Ketika negara investasi pada manusia. Negara membangun bangsanya yang lebih beradab. Belanda telah membuka lebar untuk Indonesia belajar tentang pengelolaan air. Di Sragen, PDAM Sragen telah menjalin kerjasama dengan OSEAN (PDAM) milik Belanda. Bahkan 2 pimpinan ‘Jeroen Schmaal dan Peter Mense’ datang langsung ke Sragen untuk mengajarkan bagaimana menekan kebocoran sekaligus menularkan ilmu manajemen tata kelola air.[2] Staff PDAM Banten mengikuti pelatihan GIS dengan tim GIS Waternet Belanda. Saya ingat sekali ketika itu, paman saya yang pegawai PDAM disekolahkan lagi ke Belanda untuk memperbaiki manajemen PDAM di Balikpapan.

SDM yang unggul dalam pengelolaan air ini selain membantu meningkatkan manajemen PDAM-PDAM di Indonesia juga melahirkan ‘champion-champion’ penggiat air bersih dan sanitasi. Para champion yang telah berkuliah atau mengikuti kursus pendek inilah pion-pion yang akan membangun pemerataan akses air bersih dan sanitasi yang lebih beradab. Merekalah masa depan bangsa untuk menjalankan program-program lebih efektif. Kedepannya diharapkan, tidak ada lagi kendala PDAM dalam mendistribusikan air bersih dan performa program-program yang digalakkan oleh Simavi, SNV yang berorientasi pada air bersih berjalan dengan baik dan berkelanjutan. Investasi SDM di bidang pendidikan sangat strategis dimana program-program lingkungan yang berorientasi air bersih dan sanitasi telah digalakkan oleh LSM Belanda sendiri

 


[1]http://www.tempo.co/read/news/2014/05/14/090577563/2019-Seluruh-Penduduk-Nikmati-Air-Bersih

[2]http://krjogja.com/read/226357/kebocoran-tinggi-pdam-sragen-berguru-ke-belanda.kr