061. Belanda, Negeri dengan Tirta Tanpa Cela (FINALIST)

Penulis : Latifa Ramonita
Tema : Water

=========================================================================================================================================================

Untuk memastikan ketersediaan air bersih layak minum bagi seluruh warganya, Belanda terus mengupayakan inovasi berteknologi terkini.

1

“Pokoknya saya mau air minum saya nggak cuma bening, tapi nggak ada rasa dan nggak berbau. Apalagi setelah mempunyai anak, saya dan isteri semakin cermat dalam memilih apa saja yang akan kami konsumsi. Air minum yang kualitasnya meragukan sudah tentu akan kami tolak,” terang Inoel Arifin1, 37 tahun, warga Belanda yang sudah tinggal di Rotterdam sejak tahun 1992. Menurutnya, air minum berkualitas adalah sebuah keharusan, karena berhubungan dengan kesehatan.

Inoel tentu bukanlah satu-satunya yang menginginkan kesempurnaan dalam air minumnya sehari-hari. Beruntunglah, karena dari jumlah total penduduk Belanda yang mencapai 16,8 juta jiwa (menurut portal statistik online Statista tahun 2014), seluruhnya sudah dipastikan punya akses atas air bersih, bahkan bisa minum air langsung dari keran, dengan kualitas yang membanggakan: jernih, tanpa rasa, tanpa bau, dan bebas klorin!

Apa itu klorin?

Klorin adalah bahan kimia yang biasa digunakan sebagai disinfektan dari kontaminasi mikroorganisme yang terbawa dari aliran sungai, danau, maupun sumber air lainnya. Hampir di seluruh dunia saat ini masih menggunakan bahan ini, namun tidak dengan Belanda. Sejak tahun 2005, klorin sudah tidak lagi digunakan sebagai disinfektan dalam air minum di sana2.

Pemerintah Belanda mulai merasa khawatir sejak adanya hasil penelitian tahun 1974 oleh Jan Rook, ilmuwan kimia di Rotterdam. Rook menyatakan bahwa proses klorinasi air ternyata dapat memicu terbentuknya Trihalomethanes (THM) yang berisiko mengganggu kesehatan3. Segera setelah hasil penelitian ini dilaporkan, Pemerintah memutuskan mengurangi klorin hingga seminimal mungkin, lalu akhirnya total dihilangkan pada tahun 2005. Ini adalah sebuah revolusi besar dalam penanganan air minum bagi Belanda.

Menurut Inoel, meskipun efek samping klorin dipengaruhi oleh tingkat konsentrasinya di dalam air, secara pribadi ia enggan bila air minumnya berklorin, apalagi klorin diketahui bisa menimbulkan reaksi pada kulit, memicu sesak napas dan iritasi mata. “Air bercampur klorin sudah pasti berbau dan rasanya nggak enak. Untuk menyeduh minuman pun, rasa dan baunya tidak hilang, malah minumannya ikut berubah rasa,” kata Inoel.

Visi jangka panjang Belanda

Bahasan ini tidak akan memaparkan secara mendetil tentang bahan kimia turunan yang terbentuk dari proses klorinasi, namun secara umum, THM adalah bentukan dari klorin yang bereaksi dengan bahan organik maupun anorganik yang secara alami ada di dalam air, berupa kloroform, bromodiklorometan, dibromoklorometan, dan bromoform4. Selama bertahun-tahun, sejumlah peneliti dari seluruh dunia telah mengisyaratkan bahwa THM dalam kondisi tertentu dicurigai menjadi penyebab timbulnya penyakit kanker.

Meski risiko ini masih belum dapat dikonfirmasi secara total, baik oleh International Agency for Research on Cancer maupun WHO, namun tentu saja, sikap tegas yang dilakukan oleh Pemerintah Belanda perlu mendapat acungan jempol. Negeri ini sangat konsisten dalam mengedepankan kenyamanan dan keselamatan publik, dengan visi jangka panjang. Sikap ini menarik perhatian berbagai negara di dunia, apalagi dengan adanya keterlibatan ekstensif Belanda dalam berbagai institusi internasional, seperti WHO, UNESCO, UNICEF, Worldbank, juga dengan kontribusi aktif dari lembaga riset internasional dan lembaga ilmiah lainnya, seperti Kiwa dan TU Delft2.

WHO menyatakan bahwa semua orang, dalam tingkat perkembangan, sosial, dan kondisi ekonomi apapun, berhak atas akses air minum yang aman dalam jumlah yang mencukupi5. Di Belanda, orang tak perlu lagi repot untuk mendapatkan air minum, cukup putar keran, Anda bisa langsung meneguk air bersih ‘tanpa cela’ tersebut. Air minum dalam kemasan akhirnya dianggap masyarakat Belanda sebagai sebuah kesia-siaan; mahal dan tidak ramah lingkungan karena meninggalkan sampah plastik.

2

Masalah air oleh Pemerintah Belanda benar-benar mendapat perhatian yang utama, terbukti dengan ditetapkannya Drinking Water Act (Drinkwaterwet) dan Drinking Water Decree (Drinkwaterbesluit)6 yang mengawasi secara ketat manajemen air.

Sumber air bersih di Belanda

Lalu dari mana asal air minum yang ada di Belanda? Berdasarkan data dari VEWIN, asosiasi perusahaan air minum di Belanda, diketahui bahwa sebanyak 55% sumber air minum di Belanda diperoleh dari groundwater (air tanah), 40% dari surface water (air permukaan), sementara sisanya 5% didapatkan dari dune water (air dari gumuk/bukit berpasir)6.

Masing-masing air dari sumber air ini membutuhkan penanganan khusus sebelum akhirnya dinyatakan layak sebagai air minum, misalnya untuk air tanah disaring dengan menggunakan pasir, air permukaan dimurnikan dengan menggunakan ozon, hidrogen peroksida, dan UV-radiation1, kemudian dilanjutkan dengan menggunakan karbon aktif (granular activated carbon filtration – GAC). 

Inovasi tanpa henti

Sayangnya, dengan makin tingginya polusi, juga air asin yang tercampur ke dalam air tawar – masalah yang dialami terutama di negeri-negeri di Eropa – kualitas air menjadi terancam. Tak ada jalan lain selain mencipta inovasi untuk mengatasi masalah tersebut, di antaranya:

Inovasi yang dilaporkan oleh VEWIN pada tahun 2014, salah satunya adalah ceramic-membrane yang dikembangkan oleh PWN Technologies dengan nama CeraMac®. Ceramic-membrane yang digunakan sebagai penyaring air, yang diyakini punya lebih banyak manfaat dibandingkan dengan membran polimer biasa, antara lain lebih hemat energi, memiliki produktivitas tinggi, lebih efisien, namun dengan upaya pemeliharaan yang rendah8.  Meski metode ini masih dalam pengujian dan akan dievaluasi lebih lanjut, namun VEWIN optimis atas potensinya yang menjanjikan di masa depan, terutama karena punya nilai ekonomis dan lebih ramah lingkungan.

3

Beberapa inovasi lain yang dikembangkan untuk memperbaiki kualitas air adalah sebagai berikut9:

1.    Teknologi NEREDA – proses purifikasi air limbah secara biologis: selesai pada tahun 2012, 2013, dan seterusnya.

Pada prinsipnya, air dalam pipa pembuangan air (sewage) dimurnikan dengan menggunakan bakteri yang sudah dikembangbiakkan secara khusus. Teknologi ini memungkinkan hilangnya sejumlah besar kotoran organik dan juga zat kimia seperti nitrogen dan fosfat di dalam air. Proses ini dapat menghemat ruang dan energi, juga lebih efisien. Lokasi proyek: Vroomshoop, Epe, Garmerwolde, Utrecht, South Africa, Brazil, dan Portugal.

42. Desalination  

Manajemen air untuk masalah salinisation adalah melalui proses RO (reverse-osmosis). Melalui proses ini, 99% dari seluruh garam terlarut yang ada dalam air bisa dipisahkan, sehingga air yang tersisa bisa diolah menjadi air minum, irigasi, maupun untuk industri. Salah satu proyek yang berfokus pada masalah ini adalah Voltea BV, yang mengembangkan teknik Capacitive Deionization (CapDI). Lokasi proyek: Sassenheim.

5

Sudah tentu ini hanya sebagian kecil inovasi yang sedang dikembangkan di Belanda. Melalui inovasi-inovasi tersebut, Inoel dan keluarganya, juga siapa saja yang ada di negeri kincir angin tersebut, bisa minum setiap hari dari keran, tanpa takut sakit. Masa depan mereka lebih terjamin dengan kenyamanan yang lebih terlindungi. Cheers!

6

Referensi:

  1. Wawancara dengan narasumber: Inoel Arifin, dilakukan melalui email pada tanggal 6 April 2015.
  2. Drinking water and the Netherlands, http://ocw.tudelft.nl/fileadmin/ocw/courses/SanitaryEngineering/res00053/embedded/11_addendum_deel.pdf, diakses pada tanggal 5 April 2015.
  3. The Dutch secret: how to provide safe drinking water without chlorine in the Netherlands, http://repository.tudelft.nl/view/ir/uuid%3A620befdf-83a2-4a00-907a-3af64cd3fe68/, diakses pada tanggal 5 April 2015.
  4. About Thrihalomethanes, http://www.epa.gov, diakses pada tanggal 8 April 2015.
  5. Chlorine in Drinking-water, Background document for development of WHO Guidelines for Drinking-water Quality, www.who.int/water_sanitation_health/dwq/chlorine.pdf, diakses pada tanggal 8 April 2015.
  6. Towards better water quality, http://www.government.nl/issues/water-management/water-quality/towards-better-water-quality, diakses pada tanggal 6 April 2015.
  7. VEWIN Movie – “Ordinary Tapwater”, https://www.youtube.com/watch?v=IqchWXLgVXI, diakses pada tanggal 5 April 2015.
  8. http://www.pwntechnologies.nl/solutions/ceramac/index.html, diakses pada tanggal 9 April 2015.
  9. Innovative water management projects combined, http://www.government.nl/news/2014/03/26/innovative-water-management-projects-combined.html, diakses pada tanggal 6 April 2015.

Sumber foto:

  1. Dokumentasi pribadi Inoel Arifin
  2. Healthfitnessrevolution.com
  3. Dutchwatersector.com
  4. Blog.epa.gov