064. Pesona Legendaris “Kincir Angin” dari Belanda

Penulis : Akhmad Fauzi Anwar
Tema : Air

=========================================================================================================================================================

Setiap negara memiliki ciri khas  dan pesona legendarisnya masing-masing. Salah satu negara yang memiliki ciri khas yang sangat unik dan legendanya yang terkenal hingga saat ini adalah Belanda yang sering disebut sebagai “Negeri Kincir Angin”. Pesona Belanda sebagai negara yang sering di sebut “Negeri Kincir Angin” tersebut bukanlah tanpa alasan. Hal itu terjadi karena Belanda menjadi negara dengan inovasi luar biasa yakni memanfatkan angin untuk dijadikan teknologi dengan membuat kincir angin. Dengan memanfaatkan tenaga angin yang ada, Belanda mampu membuat sebuah teknologi yang tidak hanya bermanfaat untuk negaranya sendiri tetapi juga sangat menginspirasi penduduk dunia untuk berkembang dan mengahsilkan teknologinya sendiri seperti yang dilakukan oleh Belanda.

Sesungguhnya hal luar biasa tersebut memancing rasa penasaran setiap orang untuk mengetahui sejarah dan latar belakang pembuatan kincir angin tersebut serta fungsinya dalam kehidupan masyrakat Belanda. Jika dilihat kembali sejarahnya, sebenarnya kincir angin pertama kali digunakan oleh bangsa  Persia pada abad ke-5. Kemudian kincir angin tersebut menyebar ke seluruh Eropa. Berawal dari situ, kincir angin yang ada di Belanda mulai digunakan sejak abad ke-13 yang awalnya di bawa oleh bangsa Persia. Hal tersebut dilakukan karena Belanda merupakan negara dengan daerah dataran rendah yang memiliki permukaan tanah di bawah permukaan air laut (http://www.destinasi.europewishlist.com). Hal tersebut menyebabkan Belanda sering mengalami banjir sehiingga kincir angin ini sangat bermanfaat menanggulangi permasalahan tersebut. Mekanisme kerjanya yakni kincir air yang ada di dalam kincir angin tersebut mengalihkan aliran air ke daerah penampungan air yang dibuat melalui bendungan kanal. Selanjutnya air yang masih tersisa pada bekas kawasan banjir dikeringkan dengan angin yang dihasilkan oleh kincir angin tersebut.

Selanjutnya dengan adanya kincir angin tersebut, dalam setiap masa perkembangannya Belanda tidak hanya menggunakannya untuk mengalihkan aliran air saat banjir saja melainkan sudah dimanfaatkan untuk keperluan lainnya.  Menurut fungsinya, kincir angin yang ada di Belanda dibagi menjadi 2 yakni kincir angin untuk keperluan industri dan kincir angin untuk penyaluran air. Kincir angin untuk kepentingan industri juga terdapat banyak jenisnya dan diberi nama sesuai dengan penggunaannya. Contohnya adalah kincir angin untuk menggergaji (sawnmill red) atau kincir angin untuk menggiling jagung (commill red.) (http://www.destinasi.europewishlist.com). Dengan kincir angin tersebut melalui inovasi teknologi angin yang digunakan dapat menggerakan mesin penggergaji dan penggiling jagung yang digunakan masyrakat Belanda dalam kegiatan industrinya. Unuk fungsi kincir angin yang kedua yakni sebagai penyaluran air adalah jenis standaard molen atau postmill yang paling tua. Kincir angin ini berguna dalam menangkap dan mengalihkan banyak angin dan kincir air yang terpasang di dalamnya sangat membantu proses pengalihan dan pengeringan air dengan cepat.

Selain itu juga dengan adanya kincir angin ini, ada pemanfaatan dari energi angin yang dijadikan sumber energi lain yakni energi listrik yang sangat bermanfat bagi penduduk Belanda. Angin yang meniup bilah kincir angin akan memutar poros di dalam neclle. Selanjutnya poros tersebut dihubungkan dengan gearbox yang ada di dalam rangkaian mesinnya. Dengan begitu, kecepatan poros akan menggerakan roda gigi yang ada di dalamnya sehingga generator akan mengubah energi mekanik menjadi energi listrik (http://www.alpansteeel.com). Energi listrik tersebut selanjutnya dialirkan menuju transformer untuk menaikkan tegangannya dan siap untuk didistriusikan. Inovasi teknologi bersal dari udara yang sangat bermanfaat bagi masyarakat di Belanda.

Dengan adanya teknologi kincir angin yang dapat menghasilkan energi listrik ini, maka perkembangannya berlangsung sangat cepat keseluruh dunia. Hampir tiga perempat kapasitas instalasi energi angin sekarang berada di Eropa. Energi ini telah memenuhi kebutuhan listrik 35 juta rumah tangga di Eropa. Selain itu juga, delapan puluh persen penduduk di daerah Eropa sangat mendukung  penggunaan sumber energi  yang dapat diperbaharui karena ramah lingkungan dan bebas dari polusi yang dapat merusak lingkungan (http://www.destinasi.europewishlist.com). Hanya dengan memanfaatkan kondisi geografis eropa yang memiliki udara berupa angin sangat potensial sehingga pemanfaatannya dalam berbagai bidang aspek kehidupan sangat bermanfaat bagi banyak orang.

Dalam aspek lingkungan hidup, dengan adanya pemanfaatan angin menjadi energi lain menggunakan kincir angin ini sangat ideal untuk dilakukan karena tidak mengahsilkan polusi atau eksternalitas negatif. Dari setiap megawattt energi yang dihasilkan oleh kincir angin ini sebanding dengan  pengurangan emisi 0,8 -0,9 ton gas rumah kaca yang dihasilkan BBM dan Batubara per tahunnya atau jika inovasi ini dikembangkan di Indonesia (pegunungan papua) bukan tidak mungkin Indonesia bisa mengahemat BBM sebesar 0,75 kiloliter per tahun (http://www.alpansteeel.com). Berbeda halnya jika pemanfaatan energi ayng dilakukan hanya dengan menggunakan bahan bakar fosil tentu akan mengahasilkan polusi yang dapat merusak lapisan ozon sehingga mengganggu kesetimbangan ekologi.

Selain itu juga manfat lain dengan adanya inovasi yang dilakukan oleh Belanda adalah biaya yang dapat dihemat dari penaggulangan kerusakan ingkungan juga akan semakin berkurang. Dengan mengembangkan kincir angin tersebut Belanda dapat mengalihkan biaya produksi atau biaya eksternalitas negatif yang awalnya menjadi beban atau tanggungan  jika Belanda menggunakan sumber energi lain seperti dari BBM kepada pemanfaatan yang lainnya. Sehingga kesejahteraan masyrakatnya dapat meningkat. Maka pantaslah Belanda sebagai nagara legendaris yang mempunyai julukan “Negeri Kincir Angin” yang patut diteladani oleh negara lain untuk dapat membuat inovasinya sendiri sesuai dengan kondisi dan keadaan yang ada di negaranya.