076. Oranje Huis, Filsafat Di Senja Hari Itu Menjual

Penulis : Gupita Paramarta
Tema : Earth

=========================================================================================================================================================

 Balada Jingga dan Radikalisme Senja

“Aku melihat keindahan pada senja mungkin kamu juga. Jika kamu berkata ‘senja’ itu indah itulah diksi yang belum mampu kujamah dengan jemari mimpi.”

Mungkin kalimat itu terasa pas bila ditujukan untuk William sang pendiam, seorang Pangeran dari Oranye. Yep, aku memang bukan seorang ahli sejarah Belanda, tapi aku hanya sekadar kenal William sebagai sosok pemberontak ambisius yang kemudian dihormati sebagai ‘Bapak Bangsa’ pendiri Negara BELANDA.

Ya oke, lalu apa kaitannya Sang Pangeran dari Oranye dengan filsafat? Belakangan ini, aku mencoba mencari celah antara makna kata ‘pemberontak’ mulai dari William van Oranje, arti warna secara sederhana atau yang berkaitan dengan filsafat radikal hingga analisis psikologis.

Menurut KBBI, nomina dari kata pemberontakan adalah perbuatan memberontak; penentangan terhadap kekuasaan yang sah. Sedangkan sebuah blog tetangga, yang memuat arti warna sederhana dengan tidak memisahkan warna merah dan jingga. Menurutnya melambangkan kekuatan, kemauan, eksentrik, aktif, agresif, dan bersaing.

Sementara seperti yang teman-teman tahu, Orange adalah gabungan warna dari merah dan jingga. Hal itu yang akhirnya mengaitkan kesimpulanku pada pilihan warna latar belakang seseorang berasal, dengan karakter sebagai William Van Oranje, dan juga efek psikologisnya. Oranye adalah warna yang segar dan natural, simbol pembaharuan dan antusiasme yang mewakili sunshine yang menyinari bumi. Apalagi jika kalian pernah mendengar ungkapan seorang Filsuf Rene Descartes, God created the world, but the Dutch created Holland.” Mungkin itu kalimat klasik yang sederhana mengenai Koninkrijk der Nederlanden, tapi buatku itu kalimat menarik yang cukup menyiratkan sesuatu yang bersifat hakiki pada manusia yaitu ‘memberontak’.

Memberontak merupakan sifat lahiriah dalam diri manusia dan suatu hal yang dapat disebut sebagai sikap defensive / pertahanan diri yang merupakan turunan dari eksistensialisme mahluk hidup. Lagi-lagi seperti yang diungkapkan oleh Descartes mengenai ‘Cogito Ergo Sum’ – ‘Saya berpikir maka saya ada.’ Yang dimana erat kaitannya dengan teori evolusi Darwin menjelaskan pentingnya proses adaptasi untuk terus hidup.

Pemberontakan William, yang semula merupakan pemberontakan melawan Spanyol yang bertujuan untuk keberlangsungan hidup, menjadi pemberontakan yang diwariskan oleh generasi penerusnya warga Negara Belanda. Pemberontakan warganya terhadap penolakan dari suatu kondisi statis untuk terus beregenarasi. Pemberontakan tiap sel-sel pada manusia, membawa angin segar untuk terus hidup mempertahankan eksistensi diri mereka dengan proses penyesuaian terhadap lingkungan. Yaitu; dengan cara melakukan terobosan-terobosan inovasi yang ada untuk membangun Belanda dengan segala keterbatasan wilayahnya yang memiliki permukaan rendah.

Sang Pemberontak Sejati

Tuhan memberikan Belanda generasi para filsuf dan innovator sebagai pendobrak atas segala reaksi kesenjangan akal yang tidak bersentuhan dengan alam material dan realitas materi. Yang dimana hal ini secara tidak langsung disebut sebagai pemberontakan.

Pemberontakan dalam hal ini adalah; sebagai sebuah proses penolakan mentah terhadap sesuatu dengan adanya proses berpikir. Padahal seperti yang kita sudah tahu, jika ditilik dari peta dunia, Belanda merupakan Negara mungil yang dataran buminya hanya mencakup 0,03%. Tapi dibalik dari keimutan Negaranya, ternyata Belanda merupakan salah satu dari beberapa Negara maju terinovatif di Eropa karena keberaniannya dalam ‘memberontak’.

Berikut merupakan beberapa kekuatan radikal Belanda dibalik predikatnya sebagai Negara inovatif di dunia:

  • Ide gila. Yep, Belanda tak pernah membatasi ruang gerak orang-orangnya untuk menelurkan ide-ide gila mereka. Lihat saja apa yang telah dilakukan oleh ilmuwan asal Belanda, Jalila Essaidi yang membuat inovasi unik dengan cara menciptakan kulit anti peluru! Inovasi unik tersebut dibuat dalam proyek bernama “2,6g 329m / s”, berdasarkan berat dan kecepatan peluru senapan laras panjang kaliber 22.

Pertama, kulit anti peluru dibuat dengan memanen protein sutra laba-laba dari susu kambing rekayasa genetika. Lalu protein tersebut dikumpulkan dan ditenun sehingga menghasilkan material sekuat baja. Kemudian digabungkan dengan sel kulit manusia dengan cara dikulturkan. Hasil kultur menunjukkan jaringan kulit anti peluru.

Essaidi dengan ide gilanya bermimpi untuk mengubah keratin protein yang menyebabkan kerasnya kulit manusia dengan sutra laba-laba sehingga sangat mungkin jika menyisipkan gen pembuat sutra laba-laba pada genome manusia hingga terciptalah manusia anti peluru!

1

Benar-benar gila ya!!!

  • Mark Post dengan hamburger istimewanya. Seorang Profesor Belanda dari Universitas Maastricht yang juga seorang animal lovers, mengembangkan sel induk otot sapi untuk tumbuh dan berkembang biak di laboratorium, sehingga sel-sel tersebut dapat menghasilkan daging burger yang sejuta kali lebih banyak dibandingkan jika hewan sapi tersebut harus disembelih untuk diambil dagingnya. Daging burger yang berasal dari daging sapi tabung ini menjadi daging burger termahal di dunia karena dibanderol dengan harga £ 250 ribu yang setara dengan 3,4 miliar Rupiah2

Waahhh… worth-it, no?

  • Polisi di Belanda merekrut tikus untuk mengendus kejahatan dan melakukan tugas forensik di balik gedung dengan jendela gelap. Tikus-tikut tersebut sengaja dikembang-biakkan yang berguna untuk membantu investigasi para polisi Belanda. Setiap tikus dihargai sekitar 10 Euro atau sekitar 143 ribu Rupiah, mereka dinilai mampu untuk meng-identifikasi bubuk senjata maupun bau narkoba. Tikus-tikus ini dinilai lebih murah jika dibanding dengan anjing pelacak yang bernilai puluhan ribu Euro untuk pembelian dan pelatihan. Uniknya lagi tikus-tikus ini dinamai seperti nama tokoh detektif seperti dalam cerita fiktif yaitu; Poirot, Thomson dan Thompson, Magnum serta Derrick. Lucu sekali ya…

3

  • Filsafat Belanda pada sistem pendidikan yang berkulitas; yang terlahir dari kemajuan inovasi dan gebrakan kreativitas Pemerintah Belanda untuk kemajuan pendidikan warganya dan support mereka untuk keberlangsungan eksistensi hidup manusia di bumi. Beberapa wilayah di Belanda sudah menerapkan digitalisasi komputer tanpa harus menggunakan text-book sebagai acuan belajar warganya. Tentu saja kebijakan ini erat kaitannya dengan program Go Green untuk mendukung upaya minimalisasi pembuatan lembar kertas yang berasal dari batang pohon. Bahkan nama beasiswa Erasmus pun diambil dari nama Filsuf Belanda yaitu Desiderius Erasmus sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi Erasmus yang telah membawa nama baik Belanda.

4

Well, menurutku bangsa Belanda sudah sepatutnya jika diberi julukan sebagai sang ‘Pemberontak’, dengan segala cara berpikir radikal mereka dan kekritisannya. Mereka sadar betul sinerji antara filsafat, ide, sejarah dan masa depan yang meniupkan inovasi radikal sebagai investasi hebat yang diwariskan secara turun-temurun.

Semoga bangsa kita pun kelak nantinya akan memiliki akar juang yang sama lebih hebatnya, sebagai oksigen bagi kemajuan Negara kita. Menjadi filsuf dan pemberontak gila memungkinkan kita pada keanekaragaman inovasi yang lebih tinggi, gila dan menantang!

Saya Gupita Paramarta, menulis di tepian bantal sudut kamar.

“Berani berfilsafat dengan filsafatnya sendiri. Karena filsafat itu menjual.”

 

Referensi Tulisan & Gambar:

http://id.wikipedia.org/wiki/William_sang_Pendiam

http://sains.kompas.com/read/2011/08/19/09514276/Ilmuwan.Ciptakan.Kulit.Antipeluru

http://www.tempo.co/read/news/2013/07/29/121500455/Ini-Dia-Burger-Termahal-di-Dunia

http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/13/09/27/mtryn9-polisi-belanda-rekrut-tikus-untuk-endus-kejahatan

Gambar Judul: http://www.marinvests.be/UPLOAD/_img/qr_oranje.png

Gambar 1:

http://3.bp.blogspot.com/-hwtCxckVr4Y/UAwHAdTgznI/AAAAAAAAEOY/cBenHGecbIo/s1600/Demo+Kulit+Manusia+Hibrida+Ditembak+Peluru.jpg

Gambar 2: http://www.maastrichtuniversity.nl/web/Main/Research/ResearchUM/FirsteverPublicTastingOfLabgrownCulturedBeefBurger.htm

Gambar 3:

http://us.images.detik.com/content/2013/09/27/1148/ilustrasiratreutersdlm.jpg

Gambar 4:

https://mydailyartdisplay.files.wordpress.com/2012/12/desiderius-erasmus-by-quinten-massys-1517.jpg