078. Belanda dan Air

Penulis : Iswandany Kaslan
Tema : Water

=========================================================================================================================================================

Prakata

ELEMEN KEHIDUPAN atau ELEMENTS OF LIFE … Gunakan kata-kata tersebut sebagai kata kunci pada mesin pencarian di internet, anda akan temukan daftar panjang pembahasan apa yang dimaksud dengan elemen kehidupan. Dari kaca mata apa dan mana anda mau melihat dan membahasnya? Biologi, kimia, geografi, filosofi atau bahkan astrologi? Syukurlah ternyata ada benang merah yang menghubungkan kesemua bahasan, seolah ada kesepakatan lintas waktu dan budaya yang akhirnya mengerucut pada enam, lima dan empat elemen terpenting dalam kehidupan.

Di sisi lain, dalam Budaya Populer yang mendunia, yang dari waktu ke waktu menginterpertasikan elemen kehidupan ini, akhirnya apa yang disebut sebagai “classical elements” lah yang muncul. Klasikal dalam arti merujuk pada konsep-konsep kuno yang merangkum paham-paham yang ada dalam filosofi Yunani, Cina, Jepang, Budha dan Hindu. Empat elemen utama yang selalu muncul adalah TANAH (earth), AIR (water), UDARA (air) dan API (fire).

Ke empat elemen terpenting dalam kehidupan ini secara filosofi dan mendunia dipercaya merefleksikan unsur-unsur terpenting yang paling sederhana dan prinsip-prinsip pembentukan dan kekuatan mendasar dari segala sesuatu yang ada di muka bumi ini.

Selanjutnya, bagaimana elemen-elemen ini hadir atau diwujudkan dalam kehidupan satu bangsa dan negara? Secara filosofis maupun kasat mata! Artikel ini boleh jadi merupakan satu interpretasi secara lebih harafiah tentang salah satu unsur tersebut; dan bagaimana keberadannya  di satu kawasan dalam lingkup satu bangsa dan negara digali dan dimanfaatkan demi kesejahteraan bangsa dan negara bersangkutan.

 

Belanda dan Air

Belanda, dalam bahasa aslinya disebut Nederland, secara harafiah berarti “Low Country”; nama yang tidak hanya asal namun sesungguhnya terinspirasi dari kondisi geografisnya yang rendah dan rata di bagian barat dan utara dan bagian yang sedikit lebih tinggi di sebelah timur dan selatan. Dengan luasan kira-kira sepertiga Pulau Jawa, bagian yang rendah dan rata didapat dari hasil reklamasi laut dan delta sungai selama berabad-abad dalam sejarah bangsa dan negara ini. Hasil terbaik yang patut diacungi jempol adalah kenyataan bahwa sebagai negara dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi di Uni Eropa, lebih kurang seperempat dari kawasan mereka berada dibawah permukaan air laut; tidak tanggung-tanggung beberapa kota terendah berada kira-kira tujuh meter di bawah permukaan air laut.

Kondisi geografis yang demikian pulalah yang menyebabkan bangsa dan negara ini begitu dekat dengan air. Dominasi  air terlihat jelas dengan hadirnya tiga sungai  besar di benua Eropa: Rhine, Meuse dan Scheldt, yang melewati Belanda sebelum akhirnya mencapai lautan.  Air, buat mereka, adalah berkah namun sekaligus musuh yang senantiasa harus diwaspadai. Bangsa Romawi dulu sempat bertanya-tanya bagaimana mungkin ada bangsa yang mau tinggal di kawasan sedingin dan sebasah itu. Namun perjuangan nenek moyang orang Belanda menyiasati dan mengelola apa yang diberikan alam di akhir “Ice Age” yang terakhir, kira-kira 10,000 tahun yang lalu itu, ternyata membuahkan hasil yang luar biasa seperti terlihat sekarang, indah mempesona dengan pernuh perhitungan.

Kata yang paling tepat untuk apa yang telah dilakukan bangsa ini terhadap air, si elemen kehidupan yang tidak dapat tidak harus mereka terima, waspadai, kelola dan manfaatkan ini, adalah inovasi. Inovasi dalam definisi yang sesungguhnya yang melibatkan ide-ide, metode-metode dan bahkan penemuan-penemuan baru mau tidak mau digunakan dan dikerahkan guna “melawan” atau tepatnya “menyiasati” “mother nature” yang demikian kaya berkah namun pada saat yang bersamaan “sumber petaka” bila tidak bisa “ditangani” dengan bijaksana.

Apa saja inovasi yang telah dilakukan bangsa dan negara Belanda terhadap air, mulai dari yang paling sederhana dan “kerap dipandang remeh” hingga yang paling mutahir dan canggih yang menobatkan bangsa ini menjadi “the God of Water Management”? Sebelum menjawab pertanyaan ini, satu hal yang cukup menggelitik adalah kenyataan bahwa, menurut banyak pengamat bangsa dan negara ini, kita bisa mendefinisikan Belanda dengan beberapa kata, dan kata-kata tersebut mengisyaratkan tidak lain dan tidak bukan tentang kedekatan mereka dengan air dan apa yang telah mereka lakukan terhadap unsur yang satu ini.

Kata- kata dimaksud adalah WAD (MUDFLAT),  DIJK (DIKE), POLDER (POLDER), MOLEN (MILL). Mulai dari yang pertama yang berarti kawasan berlumpur yang tergenang dan kering bergantian sesuai dengan kondisi pasang; banyak kawasan di negara ini yang pada dasarnya adalah mudflat.  Kedua adalah dike, dinding buatan yang didirikan dengan sengaja untuk menghalau dan mengatur arah air. Ketiga, polder adalah tanah atau daratan yang rendah yang didapat dengan proses reklamasi. Keempat, kincir, simbol yang begitu melekatnya dengan negeri ini sebenarnya adalah inovasi di awal abad ke 15 yang memanfaatkan tenaga angin, yang memungkinkan dilakukannya  pengeringan air dalam jumlah yang besar, seperti pengeringan danau; dan pada akhir abad ke 16, munculah inovasi MOLENGANG, serangkaian kincir yang membentuk satu sistem pemompaan yang mampu mentransfer air dari daratan terbawah ke kanal-kanal yang ada jauh di atasnya

Kembali pada pertanyaan inovasi apa yang telah dilakukan bangsa dan negara Belanda pada elemen air? Berbicara tentang dikes, polders, mills atau canals sebenarnya tak lain tak bukan adalah berbicara tentang inovasi. Lebih jauh, kanal-kanal yang pada awalnya dibuat sebagai alat pengatur kelebihan air kemudian dipergunakan untuk irigasi dan transportasi. Bila anda datang bertandang ke negara Belanda, ke kota Amsterdam khususnya, semua akan tampak dengan teramat sangat jelas.

Kanal-kanal Amsterdam yang terkenal seantero jagad ini ternyata telah dibangun sejak abad ke 17. Berbentuk semi-konsentris dan semi-sirkular, mereka sebenarmya terdiri dari empat lapis dengan kanal-kanal kecil yang saling berhubungan diantaranya; kondisi ini membuat  kanal-kanal Amsterdam terlihat bak sebuah kipas yang terbuka. Fakta mencengangkan adalah kanal-kanal ini merupakan kesatuan dari hampir 100 km badan  air yang mennghubungkan 90 “pulau” dengan 1,500 jembatan di atasnya. Keberadaan mereka ditengah-tengah kota Amsterdam tentunya merupakan hasil dari satu rencana pembangunan kota yang sangat kalkulatif.

Dewasa ini, anda bisa menyaksikan bagaimana kanal-kanal ini telah menjadi sarana transportasi tambahan kota; restauran-restauran dan rumah-rumah apung dengan desain kontemporer dan berkelas turut pula hadir mempercantik suasana kota. Mengelilingi kota Amsterdam dengan “taksi air” menyusuri kanal-kanal agaknya menjadi kegiatan wajib bagi para pelancong yang ingin kenal kota Amsterdam dengan lebih dekat dan ingin merasakan bagaimana sesungguhnya selama ini bangsa Belanda telah berhasil hidup dengan damai berdampingan dengan unsur alam yang menakjubkan ini. Bahkan UNESCO, pada tahun 2010, telah memasukan monument ini dalam Daftar Warisan Dunia, dengan predikat “warisan budaya dengan nilai universal yang mengagumkan”.

Sementara bangsa seluruh dunia terus berdecak kagum atas apa yang telah dilakukan oleh Belanda, inovasi mereka terhadap air agak nya terus berlanjut. Menjaga, merawat, memperbaiki, menyempurnakan seluruh sistem terus dan senantiasa dilakukan. Dari tingkat nasional, provinsi hingga daerah terkecil, “waterboard” (dewan air) hadir menangani segala sesuatu yang berhubungan dengan manajemen air.  Sementara itu, inovasi-inovasi tingkat lanjut dalam konteks yang lebih universal dicanangkan, beberapa projek diantaranya adalah projek yang memastikan ketersediiaan air bersih, projek yang menjamin kualitas air sebelum dibuang sebagai limbah, projek pengembangan tempat penyimpanan sementara air hujan yang berlebihan, dan seterusnya dan seterusnya.

Tentunya seluruh bangsa di dunia menunggu dan siap belajar dari bangsa Belanda tentang manajemen air karena cepat atau lambat manajemen air akan menjadi kunci “survival” kita bangsa manusia di atas planet bumi ini.

 

Referensi:

(http://en.wikipedia.org/wiki/Classical_element)

(http://en.wikipedia.org/wiki/Geography_of_the_Netherlands)

(http://en.wikipedia.org/wiki/Netherlands)

(http://www.iamexpat.nl/read-and-discuss/expat-page/articles/7-words-that-defined-the-netherlands)

Water Management in the Netherlands, Rijkswaterstaat Ministry of Infrastructure and the Environment

http://www.hostelworld.com/videos/39/10-things-you-need-to-know-about-amsterdam

http://www.iamexpat.nl/read-and-discuss/expat-page/articles/7-words-that-defined-the-netherlands#sthash.E0dK4Qze.dpuf

http://www1.american.edu/ted/ice/dutch-sea.htm