083. Inovasi Belanda: Mengubah Panas Menjadi Listrik

Penulis : Lianitya Cahyo Asmoro
Tema : Fire

=========================================================================================================================================================

Bukan hal yang asing jika kita mendengar inovasi yang dilakukan oleh negeri Belanda. Mulai dari menyulap laut dan rawa-rawa menjadi daratan untuk memperluas negara mereka (bahkan Belanda dijuluki sebagai Negara di bawah permukaan laut), menjadikan angin sebagai sumber energi listrik melalui kincir angin. Pada awalnya kincir angin yang dikembangkan Belanda sejak abad ke-13, penggunaannya hanya untuk mengatasi masalah banjir.  Sekitar tahun 1973, kincir angin modern atau turbin angin dimanfaatkan oleh Belanda sebagai alat pembangkit energi listrik. Bahkan saat ini Belanda mempunyai inovasi baru yaitu mengubah energy panas (api)  dari sisa pembakaran limbah menjadi energi listrik untuk keperluan rumah tangga. Bagaimana bisa? Berikut penjelasannya.

Sampah dan limbah merupakan masalah bagi semua Negara, termasuk Belanda. Sampai dengan abad ke-17 penduduk Belanda masih suka membuang sampah dengan seenaknya. Di abad berikutnya, masyarakat mulai menyadari bahwa sampah mulai menimbulkan penyakit, sehingga pemerintah menyediakan tempat-tempat pembuangan sampah. Di abad ke-19, mulai ada petugas pemerintah daerah yang datang mengambil sampah dari rumah-rumah penduduk dan mengumpulkannya di tempat pembuangan akhir. Di abad ke-20 sampah yang terkumpul tidak lagi dibiarkan tertimbun sampai membusuk, melainkan dibakar. Kondisi pengelolaan sampah di Belanda saat itu kira-kira sama seperti di Indonesia saat ini.

Pada abad ke-21 teknologi pembakaran sampah yang modern mulai diterapkan. Teknologi yang memungkinkan pembakaran tidak menimbulkan efek samping yang dapat merugikan kesehatan yang disebut dengan insinerasi. Insinerasi atau pembakaran sampah (bahasa Inggris: incineration) adalah teknologi pengolahan sampah yang melibatkanpembakaran bahan organik. Insinerasi dan pengolahan sampah bertemperatur tinggi lainnya didefinisikan sebagai pengolahan termal. Insinerasi material sampah mengubah sampah menjadi abu, gas sisa hasil pembakaran, partikulat, dan panas. Gas yang dihasilkan harus dibersihkan dari polutan sebelum dilepas ke atmosfer. Panas yang dihasilkan bisa dimanfaatkan sebagai energipembangkit listrik. Insinerasi memiliki banyak manfaat untuk mengolah berbagai jenis sampah seperti sampah medis dan beberapa jenis sampah berbahaya di mana patogen dan zat kimia bisa hancur dengan temperatur tinggi (sumber: http://brainly.co.id/tugas/1656920).

Amsterdam sebagai kota terpadat di Belanda, tentunya memiliki masalah pengolahan sampah dan limbah yang kompleks. Pemerintah Belanda memutuskan untuk membuat sebuah perusahaan pengolahan sampah dan limbah yang berada di Amsterdam yaitu “City of Amsterdam Waste and Energy  Company” yang bertujuan menghasilkan energi baru yang dapat dipakai kembali. Menurut catatan Kompasiana, dalam sehari sampah dari kota Amsterdam diangkut 600 truk dan berisi 4400 ton. Lebih dari 1,4 juta sampah domestik dan industrial diproses setiap tahunnya atau 25% dari total sampah yang dihasilkan warga Belanda dalam setahun.

Sampah dari berbagai penjuru Amsterdam diangkut menggunakan truk sampah untuk ditampung di sebuah tempat penampungan setinggi 30 meter. Kemudian sampah tersebut diangkut menggunakan penjepit besi untuk di bakar hingga 1000-1200 derajat celcius selama 24 jam setiap harinya. Sebelum dibakar sampah mesti dipilah-pilah, bahkan sejak dari rumah. Hanya yang tidak membahayakan kesehatan yang boleh dibakar. Sampah yang memproduksi gas beracun ketika dibakar harus diamankan dan tidak boleh dibakar. Dari hasil pembakaran tersebut akan menghasilkan udara dan uap panas.

Udara panas dapat memutar turbin generator yang diubah menjadi sumber energi listrik. Sementara uap panas yang dihasilkan bisa digunakan untuk mensuplai 50.000 pemanas rumah tangga dengan kekuatan 91 kw. Listrik yang diproduksi mencapai 900kw per jamnya, cukup untuk menerangi lampu-lampu di jalanan kota Amsterdam. Dalam setahun Amsterdam mampu menghasilkan 1.000.000 mwh listrik atau setara dengan kebutuhan 1% energi listrik di Belanda. Dan menghasilkan 17.740 ton besi serta 2,6 ton metal. Dari satu ton sampah yang diproses hanya ½ kilogram saja karena sisanya menjadi limbah yang tak bisa digunakan.

1

Metode pengolahan sampah menjadi listrik di Amsterdam
(Sumber: Kompasiana)

Seiring dengan makin berkembangnya teknologi, nampaknya pengelolaan sampah harus tetap menjadi perhatian, mengingat masyarakat dan sampah hidup berdampingan setiap harinya dimana pengelolaan sampah yang buruk dapat mengganggu kesehatan manusia. Dari sini kita dapat belajar dari negeri Belanda sebuah hal yang tadinya dianggap tak berguna dan menjijikan dapat berubah menjadi sebuah energi yang dapat diambil manfaatnya. Bukan tidak mungkin insinerasi diterapkan di Indonesia, mengingat cadangan pembangkit listrik di Indonesia sudah semakin memprihatinkan. Sudah saatnya Indonesia membuat inovasi-inovasi untuk menciptakan sumber energi alternatif yang dapat mendukung kebutuhan listrik di Indonesia yang semakin hari akan semakin meningkat.