089. Belanda Jatuh Hati Pada Angin

Penulis : Eka Putri Perwita Suci
Tema : Air

=========================================================================================================================================================

Nederland berarti “negara berdaratan rendah”, hanya 50% dari 41.543 km2 wilayahnya yang berketinggian lebih dari satu meter di atas permukaan laut, sedangkan 20% daratan dan 21% populasinya berada di bawah permukaan laut. Meskipun hanya seluas Provinsi Sumatera Barat (42.013 km2), namun negara kecil yang pernah menguasai Nusantara selama 350 tahun itu memiliki prestasi besar dalam bidang teknologi. Setelah berhasil menaklukkan air melalui teknologi reklamasi laut dan danau yang disebut polder, Belanda kemudian jatuh hati pada angin.

Sebagai negara kecil, berpenduduk terpadat di Eropa (408 jiwa/km2, atau 3,5 kali lipat rata-rata kepadatan Uni Eropa 116 jiwa/km2), terdapat banyak industri maju dan ladang pertanian intensif, Belanda membutuhkan pasokan energi sangat besar. Ketersediaan energi fosil (batubara, minyak bumi, dan gas alam) dunia yang semakin menipis, harga yang tidak stabil, dan tuntutan mengurangi pemanasan global (global warming) akibat polusi dan emisi gas karbon dioksida (CO2), memaksa Belanda mencari sumber energi lain. Pilihan akhirnya jatuh pada energi angin (wind power). Angin merupakan sumber energi yang bersih, terbarukan, dan ramah lingkungan (clean, renewable, and environtment friendly), karena tidak menghasilkan CO2 atau gas-gas lain yang berperan dalam pemanasan global. Angin juga tidak menghasilkan limbah yang berbahaya bagi manusia maupun lingkungan.

Belanda mulai mengembangkan energi angin pada 1970-an ketika terjadi krisis energi dunia. Pada 1973 kincir angin modern pertama yang disebut wind mill (turbin angin), wind farm (ladang angin), atau  wind park (taman angin), dimanfaatkan sebagai sumber energi pembangkit listrik di Desa Camperduin di Provinsi North Holland. Dimotori oleh pakar energi angin, Chris Westra, sistem energi tenaga angin dikembangkan untuk memasok listrik bagi sekitar 27 ribu rumah tangga di wilayah Camperduin dan sekitarnya. Dalam perkembangannya, kincir angin pembangkit listrik tidak hanya dibangun di daratan (onshore), tetapi juga di lepas pantai (offshore).

Sampai Desember 2013 terdapat 1.975 turbin angin beroperasi di daratan Belanda dengan kapasitas agregat 2.479 MW, ditambah 228 MW beroperasi di laut. Belanda sedang berupaya memenuhi target Uni Eropa memproduksi 14% total elektrisitas dari sumber energi terbarukan (renewable energy) pada 2020. Ladang angin daratan terbesar berlokasi di Eemshaven di Provinsi Groningen, di bagian utara Belanda. Di sini terdapat 156 MW ladang angin terdiri campuran turbin angin Vestas V90 3MW (dikenal sebagai GroWind) dan Enercon E 82 3MW (dikenal sebagai Westereems). Ladang angin besar lain berlokasi di Delfzijl-zuid (72 MW), Lelystad (46 MW), Terneuzen (Koegorspolder, 44 MW), dan Biddinghuizen (WP Kubbeweg, 34 MW). Sebagian besar energi angin diproduksi di Provinsi  Flevoland. Yang menakjubkan, di Eemmeerdijk Wind Park banyak turbin angin dioperasikan hanya menggunakan dua pedang (two blades).

Ada dua ladang angin terbesar yang telah dibangun di laut Belanda. Pada 2006 dibangun Egmond aan Zee Offshore Wind Farm, terdiri 36 turbin Vestas V90 3MW menghasilkan total 108 MW yang cukup menerangi 100.000 rumah. Proyek tersebut menelan biaya US$ 272 juta dan merupakan milik bersama Royal Dutch Shell dan perusahaan utilitas Belanda Nuon. Tahun 2008 dibangun ladang angin terbesar kedua bernama Princess Amalia Wind Farm, terdiri 60 turbin Vestas V80 2MW menghasilkan total 120 MW yang cukup melistriki 125.000 rumah dan membantu Belanda mengurangi 225.000 ton emisi CO2. Taman angin juga dikembangkan di lepas pantai IJmuiden oleh Econcern dan Eneco Energie dengan total biaya US$ 522,3 juta.

1

Princess Amalia Wind Park di Laut Utara
Sumber: http://en.wikipedia.org/…/File:Prinses_Amalia_windmolenpark_4.jpg

Kapasitas energi listrik yang dihasilkan dari satu turbin angin dengan baling-baling berdiameter 127 meter di lepas pantai Belanda diperkirakan sekitar 6 MW yang sanggup melistriki 6.250 rumah. Berdasarkan hasil perhitungan ekologis, terbukti bahwa turbin angin efektif mengurangi emisi CO2, gas utama penyebab efek rumah kaca. Turbin angin tunggal dengan daya 750 kW, mampu menghasilkan sekitar dua juta kWh daya listrik selama setahun. Setiap turbin angin akan mencegah emisi sebesar 2 juta kWh x 1,5 pon CO2/kWh = 3 juta pon CO2 atau 1,5 ton CO2 per tahun.

Pemerintah Belanda berencana meningkatkan pemanfaatan energi tenaga angin untuk memasok kebutuhan listrik bagi warganya dengan membangun 6.000 MW turbin angin sampai tahun 2020. Sebagai langkah awal, pemerintah menetapkan 65 tempat untuk ladang angin lepas pantai di Laut Utara dan IJsselmeer. Komitmen pemerintah Belanda untuk mengembangkan energi angin merupakan bagian dari upaya negara itu dalam meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan. Apalagi, saat ini sumber utama bahan baku kelistrikan negara tersebut masih didominasi oleh energi-energi fosil. Pada akhir 2020 mendatang, kontribusi energi angin diharapkan mencapai 46% (30% turbin angin lepas pantai dan 16% turbin angin daratan) dari total sumber energi terbarukan Belanda.

2

Rancang Bangun Dutch Windwheel di Rotterdam
Sumber: http://dutchwindwheel.com/en/sustainable-icon.php

Belanda kini sedang merancang bangun turbin angin paling inovatif di dunia disebut Dutch Windwheel (Roda Angin Belanda). Dutch Windwheel dioperasikan oleh Dutch Windwheel Corporation menggunakan teknologi EWICON (Electrostatic WInd energy CONverter) yang dikembangkan oleh konsorsium Delft University of Technology (Johan Smit and Dhiradi Djairam) dan Wageningen University. Pada konstruksi ini, turbin angin dengan kerangka tabung baja mengubah energi angin menjadi listrik tanpa bagian yang bergerak mekanis, tanpa suara, dan tanpa bayangan. Teknologi EWICON memanfaatkan titik-titik air yang terbawa angin sebagai pemicu perubahan energi kinetik menjadi mekanik. Titik-titik air dan angin tersebut berhembus dari kutub negatif ke positif melalui lubang besar dengan tabung-tabung baja di tengah lingkaran bangunan Dutch Windwheel yang kemudian berubah dan keluar menjadi energi positif yang dapat digunakan sebagai energi listrik. Di sekeliling sisi bangunan dilapisi panel PVTs (photovoltaic thermal hybrid solar) atau panel surya yang juga berfungsi sebagai pembangkit energi dan penampungan air hujan, yang dapat dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan di dalam gedung. Dutch Windwheel juga dilengkapi dengan pengolahan limbah pembuangan yang dapat menghasilkan energi biogas.

Dutch Windwheel merupakan sebuah karya inovasi teknologi energi terbarukan berkelanjutan yang menghasilkan energi angin tanpa suara, menangkap tetesan air hujan, mendaur ulang air kran, dan menghasilkan biogas. Bangunan setinggi 174 meter ini terdiri dua bangunan berbentuk lingkaran dengan fondasi terendam di dalam air, sehingga tampak seperti terapung. Lingkaran luar akan berfungsi semacam “London Eye’, dengan 40 kabin berputar yang memperlihatkan panorama indah kota Rotterdam. Lingkaran dalam menjadi tuan rumah (host) 72 apartemen, 160 kamar hotel di tujuh lantai, beberapa galeri komersial dan restoran. Yang paling menakjubkan adalah turbin besar tanpa pedang (a huge bladeless turbine) yang membentang di tengah lingkaran dalam. Dutch Windwheel yang akan menjadi ikon masa depan Belanda dan landmark Rotterdam, kota pelabuhan terbesar di Eropa, ini diharapkan dapat menarik 1,5 juta wisatawan setiap tahun. ***

 

Referensi:

http://en.wikipedia.org/wiki/Netherlands

http://ilmupengetahuanumum.com/pembagian-wilayah-provinsi-di-indonesia/

http://www.listrikindonesia.com/pemanfaatan_energi_angin_di_belanda_belum_optimal_123.htm

http://en.wikipedia.org/wiki/Wind_power_in_the_Netherlands

http://www.zmescience.com/ecology/renewable-energy-ecology/dutch-windmill-energy-16022015/

http://dutchwindwheel.com/en/sustainable-icon.php

http://www.pbl.nl/sites/default/files/cms/publicaties/pbl-2014-netherlands-national-energy-outlook-2014.pdf

http://www.greenpeace.nl/Global/nederland/report/2013/klimaat%20en%20energie/energy-revolution-scenario.pdf