091. Air di satu tangan dan Api di tangan lainnya: Inovasi dalam Teknologi Delta dan Pelaksanaan Diplomasi Kebencanaan Kerajaan Belanda

Penulis : Satrio “Ody” Dwicahyo
Tema : Water

=========================================================================================================================================================

 

Die draghen dwater in deene hand ende in dander tfier, geloef hem niet, daer no hier”[i]

 

Pada sebuah lukisan berjudul “Nederlandse Spreekworden” karya Pieter Bruegel The Elder yang dilukis pada tahun 1559 terdapat figur seorang perempuan di pojok kiri bawah lukisan.  Sosok perempuan yang terlukis sedang membawa bara api di satu tangan dan sebuah ember air ini diinterpretasikan sebagai bentuk simbolik dari peribahasa yang dituliskan di awal tulisan[ii]. Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, peribahasa tersebut kurang lebih bermakna: Jangan mempercayai siapapun yang membawa air di satu tangan dan di tangan yang lainnya.[iii] Secara denotatif, peribahasa ini dapat dipahami sebagai “jangan mempercayai orang yang ‘bermuka dua’”.

Tulisan ini tidak akan menuduh siapapun atas tindakannya “bermuka dua” melainkan akan menggunakan perumpamaan tersebut untuk membangun eksplanasi tentang diplomasi kebencanaan yang dilakukan oleh Kerajaan Belanda. Istilah diplomasi kebencanaan memang menyiratkan makna yang dapat dikatakan saling bertolak belakang. Diplomasi di satu sisi, setidaknya menurut Henry Kissinger, adalah tindakan yang “harus” menimbulkan efek baik bagi pelakunya[iv] sementara bencana, bagaimanapun ia didefinisikan, pasti menimbulkan efek buruk bagi manusia yang mengalaminya.[v] Dua sisi yang berlainan dari diplomasi kebencanaan ini dapat diibaratkan sebagai “air dan api”.

Air, Delta, dan Kerjasama

Kerajaan Belanda yang berkedudukan di dataran yang sangat rendah tentu menaruh perhatian yang serius kepada upaya menyelamatkan wilayahnya sehingga masyarakat Belanda tidak perlu dihantui ketakutan akan tenggelam. Didorong oleh teknologi yang sangat maju, pemerintah Belanda tergerak untuk memperluas cakupan penerapan teknologi ini ke wilayah lain di dunia.

Setidaknya terdapat tiga bidang teknologi yang dianggap pemerintah Belanda sebagai sektor paling penting dari teknologi di bidang manajemen air. Tiga bidang tersebut adalah teknologi delta, teknologi maritim, dan teknologi air yang mencakup distribusi air untuk masyarakat luas dan pertanian.[vi] Dari ketiga sektor teknologi tersebut, teknologi delta adalah teknologi yang paling sering menyita perhatian dunia.

Belanda sendiri telah “berdiri” di atas delta paling aman sedunia.[vii] Klaim atas keamanan posisi Belanda tidak hanya menjadi konsumsi pribadi kerajaan dan masyarakat Belanda. Dalam banyak hal, inovasi di bidang teknologi delta ini yang mendorong Kerajaan Belanda untuk mengulurkan tangannya untuk membantu beberapa negara. Negara-negara yang dibantu oleh Belanda tidak hanya berasal dari negara dengan latar belakang ekonomi yang kurang beruntung. Negara pertama yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah negara adidaya yaitu Amerika Serikat sementara negara kedua adalah Indonesia.[viii]

Terdorong oleh kejadian Badai Katrina yang menimbulkan kerusakan parah di New Orleans pada 2005, pada tahun 2013 Kedutaan Besar Kerajaan Belanda di Washington DC memfasilitasi terlaksananya Dutch Dialogues Initiative antara American Planning Association dengan Waggoner & Bell Architecs.[ix] Pertemuan ini membahas sebuah proyek bernama The Greater New Orleans Urban Water Plan yang secara garis besar bertujuan untuk melindungi New Orleans dari bahaya banjir.[x] Selain itu, kerjasama yang dibiayai oleh Louisiana Office of Community Development ini memperkuat relasi para peneliti dari kedua negara baik dalam proyek pendataan infrastruktur yang mengalami kerusakan ataupun pembuatan cetak biru sebagai basis rencana dari Urban Water Plan.[xi]

Selain The Greater New Orleans Urban Water Plan, para peneliti dan perencana Belanda melalui lembaga Arcadis pada 2014 membantu pengembangan pertahanan jaringan kereta api New York dari bahaya banjir.[xii] Proyek ini, serupa dengan Greater New Orleans Urban Water Plan, juga terdorong oleh bencana alam Badai Sandy pada 2012. Melalui proyek ini, Belanda dianggap meneruskan tradisi mereka yang kuat dalam memfasilitasi konsultasi pada banyak proyek yang berkaitan dengan banjir di seluruh dunia.[xiii]

Sementara proyek di Indonesia terwujud dalam pengamanan Jakarta dan Semarang dari Banjir yang telah dimulai sejak 2007.[xiv] Proyek ini terbagi menjadi dua bagian: proyek bantuan sistem peringatan dini untuk banjir dan bantuan pemeliharaan kanal-kanal besar di kedua kota dengan dana dari Bank Dunia.[xv] Khusus untuk Jakarta, pemerintah Kerajaan Belanda mendorong pengembangan strategi antisipasi banjir melalui Jakarta Coastal Development Strategy.[xvi]

 Salah satu rekomendasi yang menunjukkan niat Kerajaan Belanda dalam memperkuat relasinya dengan pemerintah Indonesia adalah meminta pemerintah Indonesia untuk menduduki “kursi supir” dalam proyek yang terfokus pada pantai utara Jakarta.[xvii] Selain itu, Kerajaan Belanda juga merekomendasikan pemerintah untuk menjalin komunikasi dengan stakeholder lainnya seperti dewan perwakilan, investor, dan masyarakat madani tanpa melupakan kewajiban untuk memberdayakan masyarakat kurang mampu di Jakarta Utara.[xviii]

Bencana di satu tangan, Persahabatan di tangan yang lain

Seiring dengan berkembangnya isu pemanasan global yang salah satu dampaknya akan menyebabkan kenaikan level air laut, bencana banjir (terutama yang disebabkan oleh gelombang pasang) menjadi mimpi buruk bagi banyak orang di berbagai negara. Berbekal “ketakutan” yang dikonversi kedalam keinginan untuk berinovasi di bidang elemen air, Belanda berhasil menggandeng banyak negara untuk perlahan-lahan menghapus mimpi buruk itu. Selain Amerika Serikat dan Indonesia, Belanda juga mengulurkan tangannya dalam proyek St. Petersburg di Russia , proyek Delta Mekong di Vietnam, dan banyak negara lainnya.[xix]

Inovasi Belanda dalam bidang air terutama yang diaplikasikan dalam diplomasi kebencanaan  dapat diumpamakan seperti membawa hal buruk di satu tangan dengan hal baik di tangan yang lain. Berangkat dari peribahasa yang sama, dapat dikatakan bahwa Belanda sedang menjalankan kebijakan “Die draghen ramp in deene hand ende in dander vriendschap”  atau “Bencana di satu tangan dan persahabatan di tangan yang lain”.

Maasvlakte sebagai sebuah inovasi teknologi di bidang delta yang paling diunggulkan oleh Belanda
2
Desain Greater New Orleans Urban Water Plan
3
Vision of Greater New Orleans Urban Water Plan disusun oleh Waggonner & Ball
4
Pertemuan Gita Wirjawan dengan Perdana Menteri Mark Rutte dalam peresmian Jakarta Coastal Defense Strategy 

 


Referensi:

 

[i] www.literatuurgeschiedenis.nl/lg/middeleeuwen/spreekwoord.html?id=28 diakses pada 15 April 2015 pukul 2:44 WIB

[iv] Henry Kissinger. Diplomacy. (Simon & Schuster; 1994, New York)., hlm. 2

[vii] Ibid.                                                                                         

[viii] Ibid.

[x] Ibid.

[xi] Ibid.

[xiii] Ibid.

[xv] Ibid.

[xvi] “Jakarta Coastal Development Strategy End-of-project review Final Mission Report” published by NL Agency Ministry of Infrastructure and Environment

[xvii] Ibid., hlm. 20 Recommendations no. 83

[xviii] Ibid., Recommendations no. 86.