093. Sains Memanipulasi Elemen Dasar Untuk Agrikultur

Penulis : Taufik Rahman
Tema : Air

=========================================================================================================================================================

Ungkapan berikut ini mungkin sesuai dengan keberhasilan yang dicapai oleh Belanda dalam memanfaatkan sains dalam bidang agrikultur.

“Education as the key to creating a society which is dynamic and productive, offering opportunity and fairness for everyone” (David Blunkett)

Belanda tampil menjadi negara kuat dalam jajaran negara terbaik didunia, terutama dalam bidang agrikultur. Belanda merupakan negara agraris yang produktif, inovatif, dan kreatif dengan memperhatikan konsep ramah lingkungan, teknologi berkelanjutan, dan efisiensi energi. Kunci keberhasilan agrikultur negara ini adalah kebijakan-kebijakan dan teknologi hasil adopsi dari riset yang dilakukan oleh para peneliti. Salah satu pusat penelitian di Belanda yang berkontribusi aktif adalah Universitas Wageningen.

1

Salah satu metode bercocok tanam negara Belanda yang dikembangkan adalah manipulasi iklim. Belanda memiliki 10.000 Ha greenhouse yang dilengkapai teknologi canggih berbasis efisiensi waktu. Greenhouse ini digunakan untuk menanam sayuran seperti tomat, paprika, dan mentimun. Mekanisme dasar dari manipulasi iklim ini adalah pengaturan sifat fisik udara. Ketika musim panas, Belanda menerapkan sistem solar cell di rumah kaca yang berfungsi untuk menampung energi matahari, kemudian energi tersebut disimpan dalam tandon dan digunakan untuk meningkatkan suhu air sungai bawah tanah. Ketika musim dingin tiba, mesin-mesin blower mengalirkan energi bawah tanah dan mensirkulasikan udara untuk memanipulasi iklim dalam ruangan (greenhouse), sehingga proses bercocok tanam tetap dapat dilakukan.

Masalah lainnya adalah Belanda memiliki luas daerah hanya 41.526 km2 dengan kondisi geografis sebagian besar dibawah permukaan laut. Keadaan ini mampu dioptimalkan dengan mengubah wilayah pinggir laut menjadi daerah pertanian yang subur, peternakan, dan lokasi utama agroindustri untuk menyediakan seluruh kebutuhan pangan negara bahkan untuk kebutuhan ekspor. Hasilnya, sektor agroindustri mampu menyumbang 20% terhadap pendapatan nasional Belanda. Namun, kemajuan sektor agrikultur Belanda tidak hanya berfokus pada optimalisasi keuntungan tapi juga memperhatikan keberlanjutan dan keramahan lingkungan.

“Negara kami kecil, tetapi di dunia besaran perekonomian kami ada diurutan ke-16”. (Martin J Kropff, Rektor Universitas dan Researcher Wageningen)

Picture1

Hasil positif ditunjukan pada tahun 2011, Belanda berhasil menjadi negara dengan nilai ekspor produk pertanian terbesar kedua setelah USA, yaitu mencapai 72.8 miliar euro dan pengeskpor produk sayur serta bunga terbesar ketiga didunia.

Pada akhirnya, Belanda dengan luas hanya 41.526 km2 mampu mengungguli negara Indonesia dengan luas daerah 1.919.440 km2 dalam ekspor dibidang agrikultur. Padahal, bukti sejarah Indonesia menunjukan bahwa Belanda meninggalkan banyak ilmu pengetahuan tentang teknik pertanian seperti pengairan, pola tanam, pendidikan pertanian, pelatihan analisa usaha tani, dan cultuur stelsel yang mewajibkan 20% lahan petani ditanami komoditi ekspor. Teknik pertanian tersebut mampu menjadikan Indonesia sebagai negara pengekspor rempah terbaik pada masanya. Oleh karena itu, belajarlah hal positif dari masa lampau, gunakanlah sains dalam agrikultur untuk kemajuan Indonesia dalam sektor agraris.

“ if you want the present to be different from the past, study the past.”(Baruch Spinoza, Dutch Philosopher)

 

Referensi:

https://kompetiblog2012.wordpress.com/2012/05/17/459-belanda-potret-negara-agraris-yang -sebenarnya/

http://pameranpertanian.blogspot.com/p/negara-dengan-pertanian-terbaik.html?m=1

http://internasional.kompas.com/read/2010/08/30/05303243/Pertanian.Hidupi.Belanda.

http://ariensisca.blogspot.com/2014/10/kemajuan-pertanian-di-belanda.html?m=1

https://kompetiblog2012.wordpress.com/2012/05/14/371-pertanian-kreatif-di-belanda/

https://ikaariw.wordpress.com/2013/04/18/belanda-mengintip-masa -depan-melalui-pendidikan-dan-penemuan/