097. Ketika Negara Api Menyerang

Penulis : Lia Nur Aini
Tema : Fire

=========================================================================================================================================================

“Kenapa harus pakai kata Nederland Indische Dierenartsen School ? seperti tidak bangga saja dengan Bahasa Indonesia, atau biar dibilang mainstream. Pakai bahasa Indonesia saja lah biar lebih familiar. Toh, penjual di pasar juga ga paham dengan kata itu”.

Kata temanku suatu hari ketika melihat aku mengenakan jas himpunan mahasiswa yang bertuliskan Nederland Indische Dierenartsen School yang artinya Sekolah Dokter Hewan Hindia Belanda atau lebih dikenal dengan Kedokteran Hewan. Dia memang sedikit sewot apabila melihat hal-hal yang tidak menunjukkan kecintaan pada Tanah Air. Bukannya aku tidak cinta Tanah Air, akan tetapi ada dasar tersendiri, menurutku dan menurut teman-teman di himpunan mengapa lebih memilih nama tersebut.

1

Fakultas Kedokteran Hewan (Dokumen Pribadi)

 

Dulu, sebelum Hindia-Belanda (Nederlandsch-Indie) berubah nama menjadi Indonesia. Ketika Kerajaan Majapahit hancur dan tinggal Kerajaan kecil saja yang tersisa. Saat situasi warga Pribumi masih niraksara dalam lingkungan dan suasana yang damai. Namun, semuanya berubah ketika negara api menyerang, Belanda.

Saat itu situasi benar-benar tidak menguntungkan pihak Pribumi. Bagaimana tidak, setelah kedatangan Portugis dan Spanyol yang ingin menguasai rempah-rempah, kini saat Belanda juga turut serta ingin menguasai rempah-rempah Pribumi. Tentu dengan prinsip ekonomi dengan mengambil keuntungan yang sebesar-besarnya. Berawal dari kedatangan Cornelis de Houtman pada yahun 1596 dengan empat buah kapal berawak kapal 249 orang mendarat di Banten. Awalnya mereka diterima dengan ramah oleh masyarakat disana, akan tetapi setelah mengetahui maksud dari pihak Belanda, Raja Banten menentang Belanda dan menyuruhnya untuk pergi dari Banten. Pasca kejadian tersebut, Belanda kembali mengirim pasukannya yang nantinya akan menjadi cikal perusahaan swasta belanda yang berkedudukan di Indoneisa, VOC.

Belanda bukanlah negara yang kaya akan minyak bumi yang dapat menghasilkan api (panas). Pada hal ini, api disosokkan sebagai wujud semangat belanda dalam membentu imperium seberang lautan. Meskipun harus mengakui keunggulan Inggris dalam hal penjajahan, akan tetapi Belanda telah  mendominasi perdagangan dunia pada paruh kedua abad ke-17. Hal itu didukung dengan semakin berkembangnya kekuatan angkatan laut Belanda pada akhir abad ke-16. Dalam hal teknologi pelayaran pun Belanda telah unggul, bayangkan saja, kejadian itu sudah terlewat lima abad dari sekarang.

Kondisi Pribumi saat itu benar-benar berubah. Warga Pribumi harus benar-benar berkorban tenaga, pikiran bahkan jiwa untuk merebut kembali Tanah Air dari pihak penjajah. Hingga tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia merdeka dan diakui oleh Belanda. Pasca proklamasi kemerdekaan, banyak sekali perubahan yang terjadi baik dari bidang sosial, ekonomi, politik, budaya dan pendidikan. Salah satu inovasi pendidikan baru yang diwariskan Belanda adalah Kedokteran Hewan.

Pada abad ke-19, pemerintah Hindia Belanda merasa membutuhkan tenaga kesehatan hewan menangani Kavaleri, sapi perah dan sapi pekerja. Kemudian pada tahun 1820 mereka mendatangkan dokter hewan dari Belanda yaitu R.A. Coppreters. Pada tahun 1834, Dokter hewan korps Kavaleri mulai didatangkan secara teratur. Pada tahun 1860 dibangun Sekolah Kedokteran Hewan di Surabaya. Pendidikan berlangsung selama 2 tahun. Namun sekolah tersebut ditutup pada tahun 1975 karena kurang dukungan dari politisi dan tentara kolonial.

2

Kegiatan Belajar Siswa NIVS (www.kaskus.com)

Namun pendidikan dokter hewan dilanjutkan dalam bentuk lain, yaitu berupa magang pada “Dokter hewan Gubernemen” (Gouvernements Veearts= Dokter Hewan Pemerintah). Dalam periode 1875 – 1880 tercatat ada sembilan pemuda” bumi putera” yang magang pada tujuh orang dokter hewan Gubernemen, delapan orang di antaranya pada tahun 1880 diluluskan sebagai “Inlandsche Veearts”. Meskipun pengetahuan dan kemampuan para dokter hewan “ bumi putera” itu dinilai sangat memuaskan, namun pemerintah dalam hal ini Departemen Kepamongprajaan (Binnenlands Bestuur), berpendapat pendidikan dokter hewan perlu diselenggarakan secara intensif. Maka Direktur B.B lalu mengusulkan agar pendidikan dokter hewan ini diselenggarakan seperti halnya pendidikan “ Dokter bumiputera” (Inlandsche Geneeskundige ) pada STOVIA ( School tot Opleiding van Indische Artsen = Sekolah Dokter Djawa). Akan tetapi hal tersebut ditentang oleh Direktur Departemen Penjajahan, Keibadatan dan Kerajinan (Onderwijs, Eeredienst en Nijverheid) maupun dari Direktur STOVIA.

Pada tahun 1892 Janeman, anggota parlemen Belanda, mengusulkan pada Gubernur Jenderal Pynacker Hordyk agar mendirikannya lembaga pendidikan untuk ajun dokter hewan pribumi (Inlandsche veeartsen) di Batavia karena terjadi ledakan wabah rinderpest yang terjadi mulai tahun 1879. Namun usul tersebut mendapat tentangan dari kalangan ilmuan, birokrat dan militer colonial dikarenakan kehadiran dokter hewan pribumi dengan gaji rendah dan keterampilan yang menyamai dokter hewan eropa dikhawatirkan akan menyaingi posisi mereka di dalam pemerintahan. Kemudian pada 5 Mei 1907, Profesor Melchior Treub, Direktur Pertanian, mendirikan sekolah veteriner dan sebuah laboratorium yang pendidikan di Cimanggu Kecil Bogor.

Pada tahun 1910, kursus dokter hewan diubah menjadi Sekolah Dokter Hewan Bumi Putera (Inlandsche Veeartsen School) dan pada tahun 1919, sekolah tersebut dipisahkan dari Laboratorium, yang akhirnya pada tahun 1920, berdirilah Nederland Indische Veeartsen School (NIVS) yang semula untuk mendidik ahli tingkat menengah sebagai pembantu dokter hewan keluaran Utrecht. Dalam perkembangannya ternyata lulusan NIVS mampu menyamakan kualitasnya dengan lulusan Fakultas Kedokteran Hewan Utrecht. Pada umumnya lulusan NIVS ini dipraktek kerjakan sebagai Gouvernement Indische Veearts.  Selain itu juga dapat dipekerjakan sebagai dokter Hewan daerah yang berpemerintahan sendiri (localle resoten; gemeenten dan regentschappen) dan tugasnya adalah menjalankan veterinair hygiene, yang antara lain meliputi, pemeriksaan makanan untuk manusia berasal dari ternak, perusahaan susu, daging; perusahaan andong, dokar dan grobak dan pasar hewan.

Dokter hewan pemerintah diperbolehkan menjalankan praktik partikelir (swasta) akan tetapi demi kepentingan dinas, praktik ini dapat dilarang. Sesudah bekaja selama 2 -5 tahun, banyak diantara mereka yang menjadi dokter hewan kepala daerah (ambtslringhoo/d) dengan tugas dan kewajiban yang sama dengan dokter hewan lulusan Utrecht. Pemegang ijasah NIVS dapat melanjutkan pelajarannya di Veeartsenijkundige Fakulteit di Utrecht dengan mendapat kebebasan ujian kandidat sehingga pelajaran dapat diselesaikan dalam waktu 3 tahun.

Lahirnya sejarah dokter hewan bangsa Indonesia bermula dari kelulusan salah satu mahasiswanya adalah seorang laki-laki kelahiran Kakas, Minahasa, Sulawesi Utara, 30 Juni 1888 yaitu Drh Johannes Alexander Kaligis yang merupakan dokter hewan pertama yang lulus dari angkatan pertama Indische Veeartzen Scholl” (IVS) pada tahun 1910 dan bekerja di “Veeartsnijkundige Institute” atau Balai Penyelidikan Penyakit Hewan.

Adanya negeri api menjajah Indonesia telah memeberikan inovasi baru bagi Indonesia yakni profesi dokter hewan. Aku bangga dengan kata Nederland Indische Dierenartsen School, lebih tepatnya menghargai tanpa melepas kecintaanku kepada Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Bagaimanapun juga, profesi dokter hewan Indonesia harus dapat bersaing dengan dokter hewan di semua negara, karena itu perjuangan.

 

Sumber :

Anonimous. 2015. Sejarah Aktivitas Kolonial dan Monopoli Perdagangan VOC di Nusantara (1602-1800). www.sejarahnusantara.com,

Anonimous. 2015. Sejarah. http://fkh.ipb.ac.id/index.php/fakultas/sejarah,

Anonimous. 2010. Memaknai Satu Abad Dokter Hewan Indonesia. www.majalahinfovet.com

Brown Karen, Daniel Gilfoyle. 2010.  Healing the Herds : Disease, Livestock Economies and the Globalization of Veterinary Medicine. Ohio University Press

Priosoeryanto, Arifiantini. 2014. The history of the veterinary profession and education in Indonesia.  Argos 2014 (50):342-5

Suryadi. 2015. Profesi Seorang Dokter Hewan. www.websiteduniahewan.com