099. DIY Versi Belanda

Penulis : Annisa Nurul Khomsa
Tema : Water

=========================================================================================================================================================

Punya barang-barang bekas di rumah? Seperti kain-kain lama yang tak terpakai atau barang-barang lainnya yang malah membuat kamar kamu berantakan.

Pusing melihat barang-barang lama kamu? Tapi kamu masih sayang untuk membuangnya. Ingin membeli barang baru tapi lagi hemat atau lagi ada duit tapi budget tidak mumpuni.  Solusinya adalah DIY atau Do It Your Self. DIY ini terdiri dari kata Do it : Act sedangkan Yourself : independency, yang bertujuan untuk mengurangi hidup konsumtif dan mencari tahu hal yang dapat dilakukan sendiri dan mengexplorenya. Istilah ini populer usai perang dunia ke dua dan mempunyai sejarah berbeda di Amerika dan Eropa.

DIY , memang tidak bisa jauh dari dunia seni dan kreatif misalnya saja salah satunya dunia crafter. Dimana mereka sangat suka membuat barang-barang kece dan unik dengan budget sedikit. Barang-barang bekas, atau kita beli bahan-bahannya sendiri pun bisa disulap menjadi barang yang menarik yang tentunya jauh lebih murah daripada barang jadi di pasaran.

Selain itu hasilnya pun  lebih unik karena buatan kamu sendiri, juga bisa kita pakai sendiri atau malah menjadi ladang bisnis yang menghasilkan. Dari yang bermasalah dan bisa menjadi sampah misalnya botol bekas air mineral, ketika kita atasi masalahnya ternyata  kita bisa membuatnya sendiri alias Do It Yourself, hasilnya  bisa dimanfaatkan menjadi benda yang lebih bernilai. Misalnya celengan pinky pig ini.

1

Prinsip DIY ini merupakan prinsip yang dipakai para creative people. Mereka bukan lebih memikirkan “how to buy it”tapi “how to make it”.Sehingga mereka bisa keluar dari permasalahan mereka sendiri dan bisa menghasilkan karya yang keren karena kemandiriannya. Misalnya saja me-make over barang-barang lama menjadi inovasi barang-barang yang lebih bernilai.

2

Jika kita kaitkan dengan Belanda, Belanda juga merupakan negara yang mempunyai mentalitas self-service country, berusaha mengatur kebutuhannya sendiri sehingga membuat mereka mandiri. Kemandiriannya inilah yang memunculkan kreatifitas dan inovasi di berbagai bidang.

Masalah tidak membuat mereka berhenti alias mentok  tapi terus melaju melewati masalah tersebut. Kita tentu tahu salah satu icon Belanda adalah sepeda. Yuaps, sepeda seperti sudah menjadi primadona di negeri ini. Memang “Dutch”sebutan bagi orang-orang belanda, sangatlah sederhana dalam kesehariannya contohnya saja kemana-mana kendaraan pribadi mereka adalah sepeda dan tidak memperlihatkan mereka kaya atau miskin. Padahal bisa saja mereka mampu membeli mobil paling keren abad ini.

Di negeri ini setiap orang secara kasat mata tampak pada kelas yang sama, yang membedakan hanya rekening mereka. Sungguh kompaker sekali mereka yah, bukan mementingkan kepuasan pribadi dengan berkendara mobil tapi mementingkan kenyamanan lingkungan dan orang lain dengan bersepada. Sehat iyah, terhindar dari macet iyah, irit juga iyah ditambah udara bersih dari polusi. Manfaatnya memang plus-plus dibandingkan dengan kendaraan kekinian yang tidak ramah lingkungan dan bikin macet.

Amsterdam merupakan salah satu kota di Belanda yang menjadi urutan pertama  the top 20 most bicycle -friendly  cities index di dunia  pada tahun 2013 oleh The Copenhagenize index. Termasuk kota-kota lainnya mendominasi, seperti Utrecht di urutan ke tiga serta eindhoven urutan ke enam. Sepeda seperti menjadi jantung transportasi di negeri ini, tidak bisa dipisahkan dan menjadi icon yang sudah melekat.

Seperti yang dikatakn oleh mahasiswa berkebangsaan inggris yang kuliah di universitas Amstedram  “The Netherlands is designed  for cyclists, so it’s by far the best way to get around, whether you’re going to the supermarket or the club”.

Saking sudah melekatnya dengan kegiatan sehari-hari dan menjadi transportasi utama. Bahkan disaat hujan pun masih menggunakan sepeda sambil menggunakan payung. Yang menurut kita, orang Indonesia pasti aneh melihatnya.

3

Source: http://www.bicycledutch.wordpress.com

Dan apa yang terjadi jika tempat parkir di Amsterdam sebagai ibukota negeri kincir angin ini kehabisan tempat? Karena di zaman sekarang, dituntut serba cepat dan efisien. Tentu ini akan sangat mengganggu aktifitas sehari-hari mereka, karena  kita tahu bahwa sepeda merupakan alat transportasi utama di negeri ini.

Source : http://www.telegraph.co.uk

Source : http://www.telegraph.co.uk

Ternyata lagi-lagi mereka mulai memutar otak, mereka merencanakan membuat  ruang garasi sepeda bawah air dan garasi terapung untuk memenuhi kebutuhan parkir sepeda yang semakin meningkat. Bangsa yang sebagian besar wilayahnya dikelilingi air ini, merencanakan 7000 ruang garasi sepeda dibawah tepi laut  berdekatan dengan pusat satasiun yang menghubungkan terowongan bawah tanah  ke kereta dan sistem metro. Dua pulau terapung dengan ruang untuk 2000 sepeda setiap masing-masing pulau juga akan di bangun dan diselesaikan kira-kira pada tahun 2020.

Source : http://www.fastcodesign.com

Source : http://www.fastcodesign.com

Bayangkan saja wajar jika ini terjadi, karena populasi penduduk di Amsterdam mencapai 810.000 dengan 881.000 sepeda dan hanya memiliki 400.000 ruang parkir. Ini sih namanya overload sepeda yah, ruang untuk penyimpanan dengan sepeda itu sendiri tidak sebanding. Saking banyaknya sepeda dan kurangnya tempat parkir, jika salah parkir akan didenda €70 per sepeda. Sehingga pada tahun 2013, sebanyak 73.000 sepeda disita di jalanan. Salah satu contoh tempat parkir  sepeda di bawah tanah yang crowded sekali  yaitu Haarleem seperti yang terlihat di vidio di bawah ini.

Source : https://www.youtube.com/watch?v=xJTC-WzQmIw

Source : https://www.youtube.com/watch?v=xJTC-WzQmIw

Karena keterbatasannya, bangsa Belanda mandiri dengan mengatasi masalahnya. Seperti halnya DIY, yang juga salah satu maknanya yaitu independency. Anthony Robbins pernah berkata bahwa “Every problem is a gift, without problems we would not grow”. Masalah dan keterbatasan, yang membuat mereka terus berinovasi.

Dengan keterbatasan, bukan berarti membatasi imaginasi mereka. Justru mereka mendobrak batasan itu dan keluar dari permasalahannya. Bukan tidak ada tindakan dan diam saja menunggu dibantu oleh orang lain. Tapi justru menginspirasi orang lain dengan inovasi-inovasinya. Bangsa yang besar dan terkenal karena inovasi dari setiap masalah-masalahnya. Berusaha mengatasi permasalahannya sendiri dan menjadi negara yang mandiri. Do It Yourself, mereka terapkan dengan tindakan nyata.

Punya masalah? Do it yourself…………….

 

Referensi :

  1. http://www.fastcodesign.com/3042791/amsterdam-is-planning-on-building-an-underwater-parking-garage-for-bikes
  2. http://www.slideshare.net/HelmiHardian/diy-culture-helmi-hardian-debrina-tedja
  3. https://www.youtube.com/watch?v=xJTC-WzQmIw
  4. http://www.telegraph.co.uk/news/worldnews/europe/netherlands/11433834/Amsterdam-to-build-underwater-parking-for-bicycles-after-running-out-of-space.html
  5. http://www.dutchdailynews.com/amsterdam-ranked-most-bicycle-friendly-city-in-the-world/
  6. http://www.theguardian.com/education/2015/apr/01/six-ways-the-dutch-are-nailing-student-life
  7. Nuffic. 2010. Life and Study. Netherlands: Nuffic