119. Proyek Delta Belanda: Karya Besar Peradaban

Penulis : Syaiful Anam
Tema : Water

=========================================================================================================================================================

Belanda dan air merupakan identitas yang tak terpisah. Hubungannya sangat spesifik, historis dan dialektis. Dan ketika membaca cerita tentang keduanya, saya seperti sedang membaca sebuah roman cinta yang di dalamnya terdapat romantisme, heroisme dan tregedi. Ya, ini juga mengingatkan saya pada novel terkenal karya Mary Mapes Dodge, Hans Brinker; or, the Silver Skates: A Story of Life in Holland—yang terbit, pertama kali, pada tahun 1865. Novel karya Dogde menjadi terkenal karena di dalamnya terdapat kisah seorang anak laki-laki Belanda yang berhasil menyumbat tanggul dengan jarinya.

Cerita tentang Belanda, dalam keseluruhannya, dapat dikatakan, adalah cerita tentang air dan banjir. Dengan topografi tanah yang sebagian besar berada di bawah permukaan laut, perjuangan bangsa Belanda dalam menaklukkan air sudah menjadi memori kolektif selama berabad-abad. Pada tahun 1170, 1953 dan 1990-an, contohnya, Belanda dilanda banjir besar dan menelan banyak korban. Namun gelombang badai pada tahun 1953 dicatat sebagai bencana yang terparah. Pada malam 1 Februari 1953 terjadi banjir besar yang memporak-porandakan Inggris, Belgia dan Belanda. Total korban tewas mencapai 2.167 jiwa, dan 1.835 korban berasal dari Belanda.

Bencana tahun 1953 menandai era baru bagi Belanda. Pada tanggal 18 Februari Komite Delta dibentuk. Komite ini bertujuan untuk merumuskan langkah-langkah penanggulangan bencana. Melalui rancangan proyek raksasa Delta Works (Kerja Delta), sebuah proyek pembangunan perlindungan banjir dan manajemen air yang terbesar di dunia, akhirnya Belanda berhasil menyelamatkan masa depan Belanda.

image001

Dalam sejarah bangsa Belanda, air memainkan peran sentral. Air, di satu sisi, telah membawa dampak kekayan bagi Belanda melalui sektor perdagangan dan perikanan; di sisi lain, air juga membawa sejumlah kerugian melalui intensitas bencana banjir. Namun, terlepas dari dampak kekayaan dan kerugian, secara geografis, posisi Belanda sangat diuntungkan, karena berada
di delta dari empat sungai besar. Proses “impoldering” yang berlangsung selama berabad-abad membuat luas permukaan Belanda bertambah hampir dua kali lipat. Akan tetapi daratan baru hasil dari proses impoldering tersebut separuhnya berada di bawah permukaan laut. Untuk menjaga agar daerah-daerah tersebut tetap kering, pada saat itu, air yang berlebihan secara terus-menerus dipompa keluar. Pembangunan tanggul, bukit pasir, bendungan dan penahan gelombang badai dalam skala kecil juga dilakukan.

Di masa lalu banjir besar sering terjadi di Belanda; dan tidak jarang menelan korban hingga ribuan jiwa. Untuk itu, agar selamat dari amukan air laut, masyarakat mulai membangun tempat-tempat untuk mengungsi, yang sering disebut “terpen” atau “gundukan”. Seiring dengan meluasnya terpen, desa-desa kecil dibangun di atasnya. Dan untuk menghubungkan desa satu dengan desa lainnya, masyarakat membangun tanggul-tanggul kecil di antara terpen-terpen tersebut. Tetapi tanggul-tanggul yang dibangun sebelum banjir tahun 1953 ternyata tidak cukup kokoh untuk mencegah luapan air yang terlampau tinggi. Sehingga, saat terjadi banjir besar pada tahun 1953, konstruksi-konstruksi penahan banjir tersebut tidak mampu menahan hantaman air. Berdasarkan dari kenyataan ini, proyek Kerja Delta mulai diimplementasikan.

Pembangunan bendungan-bendungan pasca banjir 1953, sebagai aksi nyata dari Kerja Delta, tidak langsung berjalan mulus; Kerja Delta menemui beberapa hambatan serius, di antaranya disebabkan oleh cepatnya fluktuasi air. Pasir dan batu-batu yang seharusnya membentuk bendungan malah hanyut. Oleh karena itu, dengan usaha keras, Komite Delta mencoba untuk menggunakan teknik baru, yaitu Phoenix unity caissons—atau teknik phoenix caission. Melalui teknik ini, yakni dengan melakukan prefabrikasi, kotak-kotak beton berongga dapat ditanam di dalam air dengan mudah. Kotak-kotak beton yang akan membentuk bendungan tersebut bisa tahan terhadap hantaman air selama dalam proses pengerjaan.

image003

Pada awal pengerjaan, bendungan-bendungan yang sedang dibangun didisposisikan terbuka, agar pasang-surut air laut dapat keluar-masuk melalui beton-beton berongga tanpa hambatan. Setelah itu, bagian atas beton ditutup dengan pasir dan batu-batu kecil. Batu-batu dan pasir juga dimasukkan ke dasar beton sebelum pintu gerbang yang telah dipasang pada beton tersebut ditutup. Kemudian pintu gerbang air diturunkan. Usai pintu gerbang diturunkan, pengerjaan bendungan dapat dinyatakan selesai. Veersegatdam dan beberapa bagian dari Grevelingendam, Volkerakdam dan Brouwersdam diselesaikan dengan menggunakan teknik ini.

Namun teknik phoenix caission diaggap masih belum maksimal untuk menutup celah-celah di beberapa bagian bendungan. Dengan demikian, sebuah teknik revolusioner harus diciptakan oleh Belanda melalui Komite Delta. Teknik revolusioner yang berhasil diciptakan adalah pembuatan jalur kereta kabel. Balok-balok beton besar, dengan berat masing-masing sekitar 2.5 ton, ditenggelamkan ke dalam air melalui jalur kereta kabel. Setelah balok-balok beton besar diturunkan ke dalam air dan membentuk bendungan, bendungan tersebut kemudian dipenuhi dengan pasir, sehingga air tidak lagi dapat mengalir. Teknik ini diaplikasikan pada bendungan Grevelingendam, Haringvlietdam dan Brouwersdam.

image005

Hasil dari Kerja Delta yang baru saja saya deskripsikan sungguh luar biasa, dan patut disebut sebagai karya besar peradaban. Sekarang air laut tidak dapat lagi keluar-masuk dengan bebas karena tersegel di belakang bendungan. Air pasang menghilang dan air garam berubah menjadi tawar. Wilayah-wialayah yang awalnya sering banjir, kini menjadi kering; yang biasanya kering saat air surut, kini selalu mendapatkan air. Tetapi di atas semua itu, yang paling utama, Belanda sudah terhindar dari bencana banjir besar.
Karya lain dari Kerja Delta yang sangat penting untuk saya sebutkan adalah penahan gelobang badai Oosterschelde. Penahan badai dengan panjang 3 km ini terdiri dari 65 pilar beton raksasa, dan yang 62 pilar dilapisi baja. Karena memiliki konstruksi yang kompleks dan besar, penahan badai Oosterschelde akhirnya dinobatkan sebagai penahan badai terbesar di dunia. Dan masih banyak karya-karya besar dari Kerja Delta Belanda yang tidak dapat saya disebutkan di sini secara detail, di antaranya adalah proyek Maeslantkering di Nieuwe Waterweg.

image007

Kerja-kerja inovatif revolusioner dari Delta Belanda ini dapat menjadi model global bagi pengembangan teknologi inovasi raksasa yang di dalamnya mampu menggabungkan antara keselamatan manusia dan alam. Dan Kerja Delta terbukti telah melakukannya. Kerja Delta melakukan kompromi unik antara keamanan, ekonomi, rekreasi dan alam.
Sekali lagi, kerja inovatif revolusioner ini patut disebut sebagai karya besar peradaban. “Jika Tuhan berhasil menciptakan dunia,” demikian, mungkin, parafrasa yang pas, “maka Belanda berhasil menciptakan Belanda”—dengan arif dan elegan. Fakta ini juga sejalan dengan ungkapkan terkenal dari Spinoza, filsuf jenius yang pernah dimiliki oleh Belanda: “If you want the present to be different from the past, study the past.” Ya, melalui pelajaran-pelajaran berharga dari masa lalu, Belanda berhasil membangun masa depan yang berbeda.

Referensi

1. Mary Mapes Dogde, Hans Brinker: A Story of Life in Holland, New York—New Edition.
2. Kees d’Angremond, “From Disaster to Delta Project: The Storm Flood of 1953” (Format PDF), www.iadc-dredging.com, di-download 11 April 2015.
3. www.waterandthedutch.com, “Delta Technology”, di-download 11 April 2015.
4. www.deltawerken.com, “The Delta Works”, di-download 12 April 2015.
5. www.grabs-eu.org, “The Netherlands Live with Water: Public awareness raising Campaign” (Format PDF), di-download 15 April 2015.
6. www.deltawerken.com, “Water Nature People Technology” (Format PDF), di-download 16 April 2015.
7. M. Danad, “Port of Rotterdam Reuse of caissons” (Tesis; Format PDF), 2015, www.repository.tudelft.nl, di-download 16 April 2015.