122. CHANGING HOME FOR CLIMATE CHANGE

Penulis : Taufik Rahman
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

Air merupakan elemen penting untuk keberlangsungan hidup manusia, namun jalan ceritanya akan berbeda bagi negara seperti Belanda. Bagi negara ini, air bisa menjadi sumber manfaat, bencana atau bahkan memberi inspirasi untuk berinovasi dalam menciptakan lingkungan hidup yang aman dan kondusif. Hal ini cukup beralasan, mengingat bahwa Belanda memiliki luas daerah hanya 41.526 km2 dengan kondisi geografis sebagian besar dibawah permukaan laut sehingga Belanda menjadi rentan terkena bencana banjir (Lihat Gambar 1). Seperti dalam ungkapan berikut ini:

“Small and densely populated, the Netherlands is one of the countries most at risk from climate change and rising sea levels.” (Alix Kroeger)

image002

Dewasa ini, telah terjadi pemanasan global yang memicu cairnya es di daerah kutub dan secara tidak langsung akan meningkatkan rata-rata permukaan air laut di seluruh belahan dunia, termasuk Belanda. Para ilmuwan Belanda memperkirakan bahwa kenaikan permukaan air laut akan mencapai 110 sentimeter pada tahun 2100 (Lihat Gambar 2), berdasarkan analisis yang dilakukan oleh TU Delft menunjukan kemungkinan perubahan iklim akan menyebabkan kenaikan permukaan air laut setinggi 65 cm, dan pemerintah Belanda juga memperkirakan bahwa dalam dua dekade mereka membutuhkan tanah untuk membangun 500 ribu rumah penduduk baru.

image004

Berbagai permasalahan diatas mampu membentuk penduduk Belanda untuk berpikir maju, inovatif, tidak takut bereksperimen, dan cepat dalam mengatasi keterbatasan negara mereka. Berikut merupakan beberapa langkah yang telah ditempuh oleh Belanda:

Dyke Rings
Proyek ini merupakan salah satu langkah pencegahan banjir dengan cara meninggikan daerah yang berbatasan langsung dengan laut (lihat Gambar 3). Hal ini bertujuan untuk mencegah masuknya air laut kedaerah daratan yang lebih dalam dan meminimalisir kerusakan serta kerugian yang ditimbulkan banjir akibat luapan air laut.

image006

Namun, proyek ini dianggap kurang mampu menyelesaikan masalah banjir di Belanda karena setiap tahun permukaan air laut terus bertambah oleh pemanasan global dan suatu saat permukaan air akan melampaui ketinggian tanggul. Oleh karena itu, diperlukan suatu inovasi baru yang memiliki fleksibilitas terhadap kenaikan permukaan air, seperti ungkapan berikut:

“Kamu tidak dapat menyelesaikan masalah dengan dykes, kita harus mengubah strategi. Kita jangan melihat air sebagai bahaya, tapi sebagai peluang dan tantangan” (Kabat)

Reklamasi tanah
2000 tahun yang lalu, nenek moyang Belanda mereklamasi tanah di Laut Utara dan telah membuat bendungan penghalau banjir sederhana. Pada awal abad 16, teknologi reklamasi berkembang dengan ditandai terciptanya Polder Beemster dan hingga sekarang Belanda memiliki sekitar 3000 polder yang tersebar di seluruh penjuru negeri. Akhirnya pada tahun 1986, Belanda berhasil menciptakan provinsi baru bernama Flevoland. Provinsi tersebut merupakan area yang dibuat sendiri melalui proses reklamasi dan telah menampung lebih dari 400 ribu jiwa (Lihat Gambar 4).

image008

Floating House (Rumah Terapung)
Inovasi baru ini merupakan rumah yang dapat mengapung diatas permukaan air karena fondasinya terbuat dari kubus berlubang. Proyek ini dibuat untuk memberikan alternatif lain bagi penduduk Belanda agar bisa hidup dan bertahan bersama air ketika terjadi banjir. Pada dasarnya, rumah terapung adalah usaha penyelamatan penduduk setelah polder dan bendungan tidak lagi mampu melawan banjir (lihat Gambar 5 dan 6).

image010

image012

Terdapat dua jenis rumah terapung, yaitu: rumah terapung permanen dan rumah yang mengapung hanya ketika terjadi banjir tapi tetap didarat selama musim kering. Prinsip dasar dari rumah terapung ini diungkapkan oleh salah seorang arsitek berikut:

“Pondasi dari bangunan ini diisi oleh semen dan gabus. Tiang-tiang penyangga pada bagian dasar rumah membuat rumah tetap pada tempatnya, tapi memungkinkan untuk naik turun sesuai dengan ketinggian permukaan air. Itulah triknya”(Arsitek Floris Hund dari Marlies Rohmer)

Untuk lebih memahami tentang mekanisme kerja dari rumah terapung, maka lihatlah ilustrasi pada Gambar 7. Pada ilustrasi tersebut didukung oleh sketsa rumah terapung dalam kondisi normal dan pada saat kondisi banjir sebagai perbandingan, sehingga mekanisme dasarnya lebih mudah teramati.

image014

Secara garis besar mekanisme kerja rumah terapung adalah ketika banjir terjadi maka ruang bagian dasar bangunan akan terisi dengan air dan rumah akan terangkat oleh gaya keatas air tersebut (lihat Gambar 7). Namun, pada dasarnya semua rumah dilengkapi pipa, saluran, dan kabel untuk air, gas, dan listrik yang dibuat fleksibel disesuaikan dengan kemampuan rumah yang bisa bergerak.

Pembangunan rumah terapung di Belanda ini merupakan perpaduan teknologi canggih yang dibalut kreatifitas, inovasi, dan estetika dalam pembuatannya sehingga memiliki daya tarik yang sangat tinggi. Hal ini merupakan langkah awal dalam teknologi pembangunan, pengelolaan kota yang ramah lingkungan, dan pertahanan terhadap perubahan iklim. Berikut ini, merupakan beberapa contoh daerah di Belanda yang telah menerapkan sistem rumah terapung:

IJburg district of Amsterdam
Daerah ini merupakan kumpulan hunian terapung yang dilengkapi dermaga dan jalur lintasan perahu untuk alat transportasi (lihat Gambar 8).

image016

Maasbommel
Di daerah ini, terdapat 37 rumah dekat tanggul sungai Maas yang terkenal sebagai sungai banjir musiman. Secara ekonomi rumah ini lebih murah 5% dibandingkan dengan rumah konvensional (lihat Gambar 9).

image018

Bangunan dibuat diatas tanggul yang tinggi untuk menjaga kemungkinan meningkatnya permukaan laut dimasa mendatang, rumah berdiri diatas tanah dan dapat terapung ketika sungai meluap, pondasi terbuat dari beton berongga yang ditopang batang besi, dan tiang diantara rumah berfungsi sebagai penjaga rumah agar hanya bergerak naik turun ketika banjir.

IJ Lake – Amsterdam merupakan hunian 3 tingkat dari baja ringan yang didukung oleh beton berongga yang tenggelam dalam air. Terdapat 17 pemukiman yang didukung oleh sarana dermaga dan jalur lintasan perahu (lihat Gambar 10.a)

Regenboogkade adalah contoh hunian rumah terapung yang dapat diakses dengan mengendarai mobil meski dalam keadaan banjir (lihat Gambar 10.b)

Borneo-Sporenburg adalah rumah tradisional kanal Belanda dengan interpretasi modern. Pemukiman ini dilengkapi oleh sarana transportasi perahu (lihat Gambar 10.c)

Lelystad merupakan salah satu contoh hunian rumah terapung permanen (lihat Gambar 10.d)

image020

Untuk mewujudkan sebuah kota dengan kenyamanan tinggi diperlukan suatu konsep kota yang sangat komperhensif dengan memperhatikan berbagai faktor seperti: pengaturan ruang, penyediaan lahan terbuka, tata pengaturan bangunan, sistem sanitasi dan lain sebagainya. Selain itu, diperlukan inovasi dalam pemanfaatan sumber daya yang ada untuk menghasilkan nilai tambah dari hunian tersebut. Dalam hal ini, teknologi menjadi kunci utama dalam mewujudkan sebuah kota yang memperhatikan kenyamanan para penghuni dan ramah lingkungan.

Referensi:
https://fivenonblondes.wordpress.com/2008/01/30/floating-houses/. Diakses tanggal 16 April 2015
http://www.inspirationgreen.com/floating-homes.html. Diakses tanggal 16 April 2015
http://www.dailymail.co.uk/sciencetech/article-2240293/Could-amphibious-homes-prove-solution-floods-Floating-houses-range-ideas-touted-combat-increasingly-frequent-inundations.html#ixzz3XRWSHr5w. Diakses tanggal 16 April 2015
https://iinparlina.wordpress.com/2012/05/15/creative-green-city-tidak-hanya-unik-dan-indah-melainkan-juga-merupakan-jawaban-dari-berbagai-tantangan/. Diakses tanggal 16 April 2015
http://www.dw.de/floating-houses-to-fight-climate-change-in-holland/a-17532376. Diakses tanggal 16 April 2015
http://myworldempires.blogspot.com/2013/04/belanda-negerinya-rumah-mengapung.html. Diakses tanggal 16 April 2015
https://therivermanagementblog.wordpress.com/2014/02/12/room-for-the-river-dutch-flood-control/ . Diakses tanggal 16 April 2015