130. Air Telah Mengubah Wajah Belanda

Penulis : Yovita Marsha Listyono
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

Negeri Nederland atau Belanda adalah “habitat” yang tepat untuk menyebut warganya telah memiliki kesadaran tinggi akan sustainability air dalam menjaga lingkungan, pencegahan, dan penanggulangan bencana alam. Ciri khas ini telah terlihat dari kata Nederland. Neder berasal dari bahasa Belanda yang artinya ke bawah dan land yang artinya negara. Secara harafiah, berarti Nederland adalah negara yang berada di bawah (baca: di bawah permukaan laut).

Memang diakui bahwa sekitar 21% populasi Belanda berada di bawah permukaan laut dan 50% tanah di Belanda kurang dari satu meter di atas permukaan laut. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila bencana alam seperti banjir sering terjadi. Salah satunya yang menonjol karena adanya ekstraksi gambut yang makin meluas. Ekstraksi gambut yang terjadi secara terus menerus tanpa diimbangi dengan membangun sebuah sistem teknologi pengelolaan air yang tepat guna tentunya dapat menyebabkan daratan menjadi menurun. Permukaan air laut menjadi semakin tinggi yang dapat membuat banjir sering terjadi. Akibatnya, bisa ditebak Belanda mengalami pelambatan pertumbuhan ekonomi karena terlalu sibuk dengan permasalahan air yang tak kunjung usai. Belum lagi permasalahan tentang dampak sosial dari banyaknya warga yang menjadi korban akibat banjir.

Namun, halangan tersebut bukanlah penghambat untuk maju. Negeri yang sangat kita kenal dengan sebutan negeri kincir angin dan kejunya yang enak ini tidak menyerah dalam mengatasi masalah air yang telah menjadi momok bertahun-tahun. Sumber daya manusianya terus berusaha mempelajari dan mencari solusi agar masalah ini dapat cepat teratasi. Para ahli berpikir dan berusaha keras bahwa sistem pencegahan dan pengaturan banjir menjadi solusi kunci dan inovasi. Bagi penulis, solusi inovatif yang telah dilakukan oleh para ahli Belanda dalam mengatasi permasalahan air adalah sebagai berikut.

Pertama, pembuatan bendungan. Ya, bicara soal bendungan memang telah menjadi keahlian para ahli Belanda. Oleh karena itu, dibangunlah bendungan untuk pertama kalinya yang bernama Aufsluitdijk pada 1927-1933. Bendungan ini memiliki panjang 30.5 Km dan lebar 90 M serta tingginya 7.25 M di atas permukaan laut. Bendungan Aufsluitdijk menggunakan teknik menguras dan mengeringkan laut dengan cara mempertemukan dua titik di tengah laut menjadi sebuah daratan baru. Pondasinya begitu kuat. Batu besar yang dibungkus tikar-tikar raksasa dari batang-batang pohon besar menjadi pondasi utama bendungan ini. Tanah liat berbatu yang disebut kel-lem juga berperan penting dalam membangun pondasi bendungan. Tanah liat tersebut digunakan agar bendungan tetap kokoh, meskipun terkena arus pasang surut air laut. Proyek bendungan Aufsluitdijk ini adalah proyek yang sangat luar biasa. Sebab, telah berhasil membelah laut selatan dan membentuk dua provinsi baru di negeri Belanda.

image001

Kedua, pembuatan Delta Plan atau dalam bahasa Belanda disebut Deltawerken. Proyek ini sebenarnya sudah direncanakan sejak 1937 oleh Rijkswaterstaat atau semacam Departemen Pekerjaan Umumnya negeri Belanda. Deltawerken ini terdiri dari sepuluh bendungan besar dan tiga penahan gelombang. Pembangunannya dilakukan di beberapa daerah yang berbeda. Pembangunan dilakukan dengan konstruksi yang lebih modern. Deltawerken memang sebuah konstruksi besar dan modern serta sangat inovatif. Proyek ini dibangun untuk menghadapi gelombang arus besar dan karakter tanah yang fluktuatif. Teknik tinggi dalam pembuatan Deltawerken ini menunjukan bahwa para geolog dan para insinyur Belanda dalam membangun proyek ini sangatlah mumpuni. Perpaduan kerjasama ini telah memberikan solusi inovatif dalam menghadapi berbagai aspek yang berhubungan permasalahan air di negeri Belanda. Tak hanya aspek penciptaan teknologi air berbasis riset yang baik, tapi aspek sosial dan permasalahan ekologi yang mengemuka, seperti kehidupan para nelayan dan arus lalu lintas perdagangan pelabuhan juga diperhatikan secara terencana dan rapi.

Sementara, waktu yang diperlukan untuk membangun Deltawerken memang perlu waktu lama. Lamanya bahkan melebihi pembangunan bendungan Aufsluitdijk. Pembangunan Deltawerken dilakukan secara bertahap selama 39 tahun. Deltawerken pertama dibangun di sungai Hollandse yang terletak di sebelah timur Rotterdam pada 1958. Deltawerken kedua dibangun dengan nama The Ooster Dam dengan panjang sekitar 11 km. Lalu Deltawerken ketiga dengan nama The Maeslantkering selesai dibangun pada 1997.

Ketiga, pembangunan pelabuhan. Tidak tanggung-tanggung ada 3 pelabuhan besar yang sukses dibangun untuk menggerakkan dan meningkatkan roda perekonomian warga Belanda. Adapun ketiga pelabuhan tersebut adalah Pelabuhan Amsterdam, Pelabuhan Zeeland dan Pelabuhan Groningen.

image003

Pelabuhan pertama adalah pelabuhan Amsterdam. Pelabuhan yang terletak di ibu kota Belanda ini merupakan pelabuhan terbesar kedua di Belanda dan terbesar kelima di Eropa. Pelabuhan ini digunakan untuk mengimpor minyak, batu bara, biji besi serta biji-bijian. Selain itu, pelabuhan ini juga termasuk pelabuhan terbesar untuk perdagangan kakao. Amsterdam merupakan penyuplai utama kakao untuk industri cokelat di benua Amerika dan Eropa. Barang-barang yang berasal dari pelabuhan ini melewati laut utara. Selain untuk kegiatan perdagangan, pelabuhan yang terletak di Amsterdam ini juga terkenal akan banyaknya kapal pesiar yang bisa menjadi tontonan eksotis menarik. Pelabuhan yang kedua adalah pelabuhan Zeeland. Pelabuhan ini disebut sebagai pelabuhan masa depan karena tempatnya yang strategis berada di antara sungai Seine dan Sheidt. Selain itu, letak pelabuhan ini juga berada di antara Rotterdam dan Antwerpen, Belgia. Pelabuhan ini akan menjadi pelabuhan yang menghubungkan Belanda dengan Inland, Paris, dan Belgia. Pelabuhan ketiga atau terakhir adalah pelabuhan Groningen. Pelabuhan ini terletak di bagian utara Belanda. Lewat pelabuhan ini, barang-barang dikirim ke negara Jerman. Pelabuhan ini menjadi andalan untuk jalur perdagangan antara Belanda dan Jerman.

Perspektif di atas merupakan beberapa inovasi kreatif dan solutif menurut pandangan penulis yang telah dilakukan oleh Belanda yang berkaitan dengan air. Bertahun-tahun warga Belanda “melawan” ancaman air yang mengepungnya untuk tetap bertahan hidup. Mereka terus berusaha dan pantang menyerah mencari solusi terbaik. Tak heran, akhirnya Belanda sekarang menjadi negara acuan dalam bidang inovasi pembangunan air, semisal sebagai konsultan air berbasis riset. Selain dapat menghasilkan terobosan-terobosan inovatif keilmuan perairan berbasis Sains, seperti pembangunan bendungan, delta, dan pelabuhan-pelabuhan seperti tersebut di atas, warga Belanda ternyata juga memiliki jiwa dan nilai-nilai karakter hidup yang pantang menyerah, kreatif, tanggung jawab, kemandirian, sosialitas, demokrasi, dan penghargaan terhadap lingkungan alam. Ya, oleh karena itu, tidak salah bila penulis berani mengatakan dan berteriak lantang : “Air telah mengubah wajah Belanda!”

Referensi :
http://id.wikipedia.org/wiki/Belanda diakses pada tanggal 2 April 2015
http://www.deltawerken.com diakses pada tanggal 2 April 2015
http://market-insight.blogspot.com/2010/04/dibalik-bendungan-belanda.html diakses pada tanggal 2 April 2015

Referensi Foto:
http://www.deltawerken.com diakses pada tanggal 2 April 2015
http://theloadstar.co.uk/wp-content/uploads/Rotterdam.jpg diakses pada tanggal 2 April 2015