132. Water: The Netherlands Neighbour

Penulis : BARE KINGKIN KINAMU
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

Apa yang ada dipikiran kita ketika mendengar Belanda? Negeri yang pertama kali dikenal oleh anak-anak SD melalui cerita Guru-Guru mereka, dari buku-buku sejarah Indonesia, dari peta yang ada di buku geografi mereka, bahwa Negeri itu adalah negeri bunga tulip, negeri kincir angin. Lalu apa lagi?

Saya pikir semenjak saya dan kalian membaca dari buku, menjadi tahu sebutan untuk Belanda.

Letak geografis Belanda yang berada di bawah permukaan laut, adalah keunikan sendiri bagi semua orang. Yang orang-orang kenal melalui buku-buku pula, lewat sumber-sumber yang valid. Hingga akhirnya mereka tertarik untuk membuktikan kebenaran itu, dan berkunjung ke sana. Banarkah Negara van oranje itu mengapung di atas air laut?

Padahal, Negara-negara yang terletak di daratan Eropa tidak semuanya terletak di bawah permukaan air laut. Ini adalah sebuah kebetulan Tuhan yang luar biasa.

Alam. Air. Tanah. Api. Udara. Mereka bukan musuh. Mereka adalah tetangga.

Air adalah tetangga Belanda.

Negara di bawah permukaan air laut yang berhasil mengatasinya dengan berbagai cara.

Tanahnya rendah, di kelilingi lautan, dialiri sunga-sungai besar, lantas semua itu tak membuat Belanda menjadi Negeri yang tidak berpenghuni. Semuanya mendukung untuk menanggulangi berbakai peluang bencana. Tanah, air, udara, dan api. Saling merangkul. Tidak saling memukul. Malahan saling melengkapi.

Sebutan lain untuk Belanda, apa saja?

Negeri kincir angin, negeri bunga, negeri di bawah air, negeri bendungan. Belanda mungkin mencerminkan semua itu. Tanah, air, udara, dan api, menjadi satu –seperti karakter dalam Avatar namun di sini karakter itu muncul dalam satu kesatuan Negara: Belanda.

image001
Figure 1(sumber foto: http://en.wikipedia.org/wiki/Zuiderzee_Works) Nampak letak geografis Belanda dari atas, di bawah permukaan air laut

Tata kota yang begitu mempesona mata, pengolahan tanah, dan sayangnya Tuhan memberi takdir bahwa daratan Belanda terletak di bawah permukaan air laut, tapi mereka membuatnya sebagai sebuah kelebihan –bukan kekurangan. Melalui ide-ide yang spektakuler, orang-orang Belanda membuat sebuah inovasi yang luar biasa –bagaimana agar tetap bisa dihuni dengan nyaman, meskipun daratannya terletak di bawah permukaan air laut. Bagaimana mungkin?

Daratan mengapung di atas air? Itulah Belanda.

Dari sejarah pula Belanda belajar.

Pada tahun 1953 Belanda dilanda banjir. Gelombang setinggi 30 meter menghempas pantai selatan Belanda dan menelan ribuan korban akibat banjir akbar tersebut. Kita perlu mawas diri, korban banyak karena waktu itu teknologi yang digunakan untuk merancang dam belum secanggih sekarang.

image002
Figure 2(Sumber foto: http://ms.wikipedia.org/wiki/Banjir_Laut_Utara_1953) Banjir yang menewaskan ribuan orang di Belanda pada tahun 1953. Menghempas Belanda bagian selatan

Apakah benar sejak saat itu Belanda tidak pernah terkena banjir lagi? Kita sebagai manusia, tidak tahu kapan bencana akan terjadi. Memangnya aku dan kalian Tuhan? Bisa tahu waktu bencana akan terjadi.

The Dutch (sebutan untuk orang Belanda) berpikir dan merencakan hal-hal yang bisa menanggulangi bahkan berdamai dengan bencana yang setiap tahun mengancam.
Menanggulangi adalah sebuah inovasi.

Semenjak tahun 1953, Belanda membangun bendungan-bendungan untuk membendung laut yang mengelilingi daratan. Konsistensi mereka untuk berdamai tidak serta merta berhasil begitu saja tanpa sebuah proses. Butuh waktu untuk membendung, dan butuh dana. Pemerintah Belanda dengan sigap sejak saat itu membentuk komisi delta, merancang langkah-langkah teknis untuk menghadapi tantangan dari tetangga Negara–air.

Tetangga mereka terkadang cukup kejam. Sebelum tahun 1953. Tepatnya tahun 1287, dan 1916 air laut menerjang Netherlands (sebutan lain Belanda yang berasal dari kata “neder” yang berarti rendah, “land” yang memiliki arti tanah). Sejak tahun 1287, The Dutch mulai merenovasi bendungan yang sudah mereka buat sebelumnya, akan tetapi air laut masih bisa menerjangnya, dan menimbulkan korban jiwa –yang tidak sedikit. Semenjak itu proyek Zuiderzeeweken dimulai, hingga sekarang terus melakukan inovasi untuk mengatasi banjir. Yang sekarang kita tahu, bahwa permukaan air laut dari tahun ke tahun meningkat.

Sudah dari generasi dulu, hingga sekarang mereka terus bekerja mengolah inovasi tersebut. Melakukan perbaikan lintas generasi. Sekarang proyek tersebut dipegang oleh komisi delta.
Mulanya proyek Zuiderzeewerken, merupakan sistem yang terdiri dari pembangunan bendungan, reklamasi tanah, dan drainase air. Demi membatasi persinggungan yang berlebihan mereka dengan air. Proyek itu terus berkembang sejak ribuan tahun lalu.

Pernah ada yang berujar, air adalah bagian dari Belanda. Dan Belanda tidak boleh kalah darinya. Sudah sewajarnya ketua delta ini berujar demikian. Dan saya akan lebih senang lagi, jika Roy Neijland (Project Officer Netherlands Water Partnership (NWP)) meralat kata musuh itu sebagai tetangga. Air merupakan benda mati, yang menggerakkannya sebuah siklus yang sudah dirancang Tuhan demikian, karena Netherlands adalah daratan yang terpilih “bertentangga” dengannya. Air adalah teman. Tanpa air manusia bisa apa?

Karena kelebihan air itu, Belanda menginovasi banyak hal. Mulai dari bendungan, dan kincir angin sebagai pembangkit listrik mereka.
Saya sadar, manusia memang harus berusaha. Sejak bencana itu dilalui, The Dutch memperbaiki bendungan-bendungan untuk menanggulangi tetangga-nya. Bisa dikatakan hampir seribu tahun Belanda mencoba berdamai dengan tetangga-nya tanpa merusak alam sekitar. Perjuangan mereka akhirnya membuahkan hasil.

Menurut Roy, salah satu kunci dari penanganan bencana yang diakibatkan air di Belanda adalah konsistensi perencanaan dan keinginan untuk terus mencari solusi terbaik dengan melibatkan semua pihak. Masterplan yang dibuat diaplikasikan. Para ahli dan praktisi diundang untuk mengikuti sayembara guna mencari solusi konstruksi terbaik. Dam Maeslantkering juga dibuat dari desain pemenang sayembara [ ].

Meskipun Belanda sudah berhasil membuat bendungan, yang berhasil diselesaikan pertamakali pada tahun 1953 di sungai The Hollandse Ijssel, timur Rotterdam. Kemudian bendungan The Ooster Dam, yang panjangnya hampir 11 km. Dan, bendungan terakhir yang selesai dibangun adalah The Maeslantkering pada 1997 yang dibangun di Nieuwe Waterweg. Tanggul ini terdiri dari dua bagian lengan yang masing-masing panjangnya 300 meter. Jika diberdirikan, satu lengan setara dengan ketinggian menara Eiffle di Perancis. Sejak di bangun, dam ini pernah di tutup pada tahun 2007 bulan November, karena cuaca. Dam itu otamatis dikendalikan oleh komputer, yang bisa buka-tutup sendiri. Selain berfungsi untuk membendung air, dam tesebut juga digunakan sebagai objek wisata –seperti bendungan-bendungan yang ada di Indonesia. Serta sebagai sarana pendidikan.

image004
Figure 3 (Sumber foto: http://travel.nationalgeographic.com/travel/countries/netherlands-facts/) The Dutch, menyulap air-air yang mengelilingi daratan, menjadi kanal-kanal cantik

Meskipun secara keseluruhan bendungan tersebut sudah bisa berteman dengan baik dengan air, tidak menutup kemungkinan lain jika suatu waktu permukaan air laut bertambah tinggi. Hal ini membuat orang-orang Belanda selalu membuat inovasi ter-efektif dan efisien dari generasi dan generasi. Butuh sifat konsisten dan analisis yang baik, supaya semua terkendali.

Sekarang, kita bisa menikmati betapa indahnya Negara itu. Terapung di atas air. Hidup berdampingan saling melengkapi. Bendungan yang dibuat menjadi tempat rekreasi dan sarana pendidikan. Air tersebut sekarang malah semakin mempercantik Belanda. The Dutch membuat kanal-kanal yang menjadi tempat wisata.

Referensi:

http://en.wikipedia.org/wiki/Zuiderzee_Works

http://www.government.nl/issues/water-management

http://id.wikipedia.org/wiki/Kategori:Transportasi_air_di_Belanda

http://www.kwintessential.co.uk/resources/global-etiquette/netherlands.html