139. Sistem Polder, Secercah Harapan untuk Jakarta

Penulis : Nathania Intan Elizabeth Winata
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

image001
Sumber : mozaik.matawanita.com

Di Jakarta kita ini ada yg namanya banjir musiman. Sepertinya Jakarta bisa belajar dari Belanda yang ahli dalam mengatasi air. Belanda adalah salah satu negara dengan pengembangan inovasi terhadap tata kelola air yang sangat hebat. Belanda secara geografis merupakan negara berpermukaan rendah, dengan kira-kira 20% wilayahnya dan 21% populasinya berada di bawah permukaan laut, dan 50% tanahnya kurang dari satu meter di atas permukaan laut. Kenyataan yang unik ini terabadikan dalam namanya: Nederland, yang artinya “negeri-negeri berdaratan rendah”. Dengan kondisi geografis yang berada di bawah permukaan laut, tidak menjadikan Belanda negara yang kerap tergenang air. Kenyataan inilah yang membuat saya tertarik untuk mengangkat tema air.

Dengan wilayah geografis yang seperti itu, Belanda terus melakukan inovasi sampai sekarang yang bertujuan untuk membangun kehidupan negaranya. Inovasi yang dilakukan warga Belanda sejak zaman dahulu, sampai sekarang masih dapat digunakan, di mana tanggul-tanggul dan kincir angin sampai sekarang masih dapat berfungsi dengan baik. Dengan perairan dan daratan yang sedemikian rupa, insinyur–insinyur Belanda berpikir bagaimana agar di masa yang akan datang, dengan tata letak geografis Belanda yang rendah, jangan sampai merugikan masyarakat Belanda. Dengan wilayah daratan dan pengairan yang baik, hal ini menguntungkan dan menjadikan Belanda sebagai negara yang mengandalkan peternakan dan perkebunan sebagai mata pencaharian dan penghidupan mereka.

Tanam-tanaman, rempah-rempah dan buah-buahan tumbuh subur di negara Belanda. Dengan lahan dan kondisi geografis yang tidak terlalu luas, malah mampu membuat masyarakat Belanda bertahan, terus berkembang dan bahkan mampu memasok hasil perkebunan yang sehat ke negara-negara lainnya.

Mari kita mulai membahas tentang Belanda yang memang ahlinya dalam mengatasi air di negaranya. Wilayah yang terletak di bawah permukaan laut membuat para insinyur di negara ini memutar otak untuk menyelamatkan negerinya dari genangan air. Tanpa tanggul dan sistem drainasi yang baik, bukan tidak mungkin setengah dari wilayah Belanda akan terendam air.

Salah satu sistem pengolahan air yang dilakukan oleh para insinyur tersebut adalah, sistem drainasi, yaitu sistem Polder. Sistem ini telah ada sejak abad ke 12 dan terus diperbaharui hingga lahir istilah “Modern Polder.” Apakah sih sebenarnya sistem polder itu? Polder adalah dataran rendah yang dikelilingi oleh tanggul. Air buangan dari Polder seperti air limbah rumah tangga dan air hujan dikumpulkan dan dipompa ke sungai yang bermuara ke laut.

Sistem pengaturan air seperti ini tidak hanya mengatasi masalah banjir yang bisa saja merendam Belanda tapi juga berguna terhadap sistem pengairan pertanian di Belanda. Pengeringan lahan juga berpotensi memperluas lahan karena pengeringan ini ikut menambah lahan pertanian. Pada sistem ini, air dikendalikan sedemikian rupa sehingga jika ada air yang berlebihan dan berpotensi menimbulkan banjir maka akan dipompa keluar sistem Polder.

Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat gambar dibawah ini:

image004
Gambar : website, www.ecoyouthtoyota.com, diakses April 1, 2015

Pompa-pompa yang menggerakan air ini digerakan oleh kincir angin. Makanya negeri ini juga punya sebutan negeri kincir angin. Menggunakan tenaga angin dalam menggerakan kincir menjadi salah satu solusi juga untuk menghemat energi, terlebih lagi Belanda juga memiliki potensi tenaga angin yang sangat besar.

Selain sistem Polder, Belanda juga mengembangkan beberapa sistem pengaturan air lainnya. Kabarnya, pada saat penjajahan dulu beberapa tempat di Indonesia telah dibuatkan sistem drainasi khas negeri bunga tulip tersebut. Bahkan, ada juga yang memiliki saluran bawah tanah. Beberapa kota yang disinyalir memiliki sistem drainasi yang dibangun Belanda adalah Yogyakarta, Medan, dan Surabaya. Pemerintah setempat telah melakukan pengkajian terhadap drainasi peninggalan Belanda tersebut untuk memaksimalkan pengelolaan air dan pencegahan banjir di wilayahnya.

Meski di sebelahnya laut atau sungai yang tinggi permukaan airnya melebihi dataran yang berada di kawasan polder, daerah tersebut tetap aman dari limpasan air. Dalam kenyataannya, tanggul tersebut nyaris tak terlihat sama sekali, karena bisa difungsikan sebagai jalan raya dan rel kereta api. Di kawasan perumahan biasanya para pengendara mobil tak pernah tahu bahwa jalan yang mereka gunakan berfungsi sebagai tanggul.

Meski demikian air tak seluruhnya bisa ditahan, karena di samping air limpasan tentu ada pula air rembesan yang masuk ke kawasan tersebut. Air ini juga harus dikelola, karena jika permukaan air di sebelah kawasan polder tinggi tentu jumlah air rembesan juga banyak. Ini dapat pula menyebabkan terjadinya genangan. Melalui drainasi tertutup air ini harus dialirkan ke dalam waduk penahan air yang telah dibuat di kawasan tersebut.

Sumber air lain yang bisa menyebabkan banjir di daerah tersebut adalah air hujan. Dalam sistem ini air hujan yang menggenangi permukaan kawasan dialirkan melalui drainasi permukaan ke dalam waduk.

Selain air hujan ada juga air yang berasal dari limbah rumah tangga. Untuk air yang berasal dari limbah rumah tangga, air tak boleh langsung disalurkan ke waduk. Air limbah harus terlebih dahulu diolah sebelum dialirkan ke waduk. Ini dilakukan untuk menjaga agar waduk tidak tercemar. Setelah diolah air dialirkan langsung ke saluran pemompaan atau ke waduk melalui saluran.

Saat musim hujan waduk harus dikontrol ketinggiannya. Jika air sudah melebihi ambang batas maka air tersebut harus dialirkan ke laut atau ke saluran makro/sungai. Jika melalui saluran makro/sungai, maka saluran tersebut harus mengalir langsung ke laut. Untuk mengeluarkan air dari kawasan tersebut polder mempunyai struktur keluar (outlet structure). Struktur ini berupa pompa air dan bisa juga dilengkapi dengan pintu air. Dengan kontrol seperti ini maka kawasan akan terbebas dari banjir. Jika sistem ini berjalan dengan baik, maka air tak akan membanjiri kawasan tersebut, walaupun tinggi air di sekitar kawasan jauh melebihi tinggi muka tanah di wilayah polder.

Sistem seperti inilah yang banyak digunakan di kota-kota besar di Belanda, termasuk untuk Bandara Schiphol, Amsterdam. Salah satu pelabuhan udara tersibuk di dunia ini memakai sistem polder, karena posisinya yang berada di bawah permukaan air laut. “Sejarah perkembangan sistem ini sendiri sudah ada sejak seribu tahun lalu”, kata Sawarendro, ahli polder yang cukup terkemuka di Indonesia.

Air adalah salah satu sumber kekuatan dan energi yang ada di bumi ini. Air adalah sumber kehidupan, semua makhluk hidup memiliki ketergantungan terhadap air. Jangan sampai salah satu anugerah Tuhan ini menjadi musuh buat kita bersama. Jika Jakarta bisa belajar dari apa yang sudah dilakukan oleh Belanda, bukan tidak mungkin kita tidak akan lagi mendengar yang namanya banjir musiman lima tahunan.

Sumber:

http://en.wikipedia.org/wiki/Netherlands#Geography_of_the_Netherlands

https://www.britannica.com/EBchecked/topic/409956/Netherlands

http://www.cruquiusmuseum.nl/englishsite/drainage.html

http://www.fao.org/fileadmin/templates/giahs/PDF/Dutch-Ploder-System-2010.pdf

http://surabaya.tribunnews.com/2014/02/12/pemkot-malang-akan-optimalkan-tiga-drainasi-peninggalan-belanda.

http://koran.tempo.co/konten/2011/11/02/253479/Drainasi-Peninggalan-Belanda-Lebih-Mampu-Atasi-Banjir

Sawarendro (2013). ILWI-Pendalian Banjir. Diakses April 1, 2015, dari pendalianbanjir.com/kliping-1-pengendali-banjir-dengan-sistem-polder.html