146. PONDASI APUNG, SOLUSI MODERN DI TENGAH KEBUTUHAN AKAN DARATAN

Penulis : Suyanti
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

Leder nadeel heb z’n voordeel ‘setiap kekurangan mempunyai kelebihan’

Belanda dan air adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Secara geografis, Belanda merupakan Negara dengan dataran rendah yang kira-kira 20% wilayahnya dan 21% populasinya berada dibawah permukaan laut, dan 50% tanahnya berada kurang dari satu meter di atas permukaan laut. Daratan di Belanda diperoleh dengan cara mereklamasi tanah dan menahan aliran air dari Laut Utara dengan membangun tanggul, pompa, dan sistem drainase. Selama berabad-abad, Negara ini terus-menerus memompa air keluar untuk menjaga 3.500 daratan rendah atau area lahannya tetap kering. adanya tanggul membantu Negara ini dari datangnya banjir dan mempertahankan tanah tetap berada diatas air.

Tetapi solusi ini juga bukan tanpa resiko karena pemompaan harus dilakukan secara terus menerus, jika dihentikan maka suatu waktu air tersebut akan kembali lagi mengenangi daratan. Di satu sisi, adanya perubahan iklim di dunia menyebabkan peningkatan curah hujan dan kenaikan permukaan laut yang menyebabkan terancamnya dataran rendah. Sementara untuk membangun sebuah perkotaan dibutukan wilayah daratan yang lebih banyak, contohnya untuk membuat perumahan, jalanan, dan lain-lain. Karena itu, diperlukan solusi untuk menciptakan lahan dimana manusia tetap bisa membangun kota tanpa harus khawatir dengan kurangnya lahan didarat dan serangan air yang setiap saat bisa terjadi serta kekhawatiran akan merusak kelestarian alam.

Koen Olthuis, seorang arsitek dari Belanda yang memfokuskan karya-karyanya untuk mengembangkan arsitektur berbasis air yang menempatkan rumah, bangunan, dan struktur lain di atas air dengan memakai pondasi terapung. Pondasi ini menggunakan struktur yang bisa mengambang di atas permukaan air seperti stereofoam untuk menopang bangunan agar tidak tenggelam sekalipun terjadi banjir. Berawal dari keinginan untuk melindungi daratan rendah di Belanda dari serangan permukaan laut yang semakin tinggi, banjir serta pertumbuhan populasi manusia maka muncullah ide untuk membangun diatas air. Koen Olthuis merubah prinsip Belanda dari berjuang melawan air menjadi tinggal dengan air.

Salah satu proyek yang telah dibangun oleh Koen Olthuis adalah proyek The Citadel, yang merupakan kompleks apartemen mengambang pertama di dunia. Proyek ini direncanakan sebagai bagian dari proyek “New Water” di Naaldwijk, Belanda. New Water sendiri adalah proyek pada lahan seluas 70 hektar yang akan menjadi standar bagi pengembangan manajemen air di Belanda dan direncanakan akan mampu menampung 1200 rumah, saran rekreasi dan zona ekologis .The Citadel direncanakan memiliki 60 apartemen yang dirancang untuk mengapung di atas air dengan kedalaman 6 kaki (sekitar 1,8 meter) dan akan ditingkatkan menjadi kedalaman 12 kaki (3,6 meter). Untuk menghubungkannya kedaratan, hunian ini akan dilengkapi dengan jembatan terapung.

image001
Bentuk desain apartemen mengambang di Belanda (sumber : http://properti.kompas.com)

Kemudian, proyek pembangunan masjid terapung yang berlokasi di dermaga kota Den Haag, Belanda, yang disponsori oleh Al-Shahab, sebuah yayasan internasional yang bertujuan untuk mempererat hubungan Antara Negara islam dan Negara-negara di benua eropa. Masjid ini akan dibangun dengan desain terapung yang separuh badan masjid berada di air dan separuh muncul di permukaan. Sementara untuk interior masjid akan dibuat persegi panjang dengan beberapa tiang menara di sudut-sudutnya. Bagian dalam masjid dirancang tanpa sekat dan bagian atasnya dibuat transparan agar bisa langsung memandang ke langit. Adapun tiang penyangga masjid berfungsi sebagai sirkulasi air laut untuk menopang bangunan tetap berada di permukaan. Proyek ini direncanakan akan akan selesai tahun 2018 mendatang.

image002
Masjid terapung di Den Haag, Belanda (http://www.waterstudio.nl)

Selain apartemen dan mesjid, rupanya waterstudio juga telah merencanakan pembangunan kompleks perumahan Watervillas yang telah dimulai sejak 2008. Sejauh ini, dampak terbesar dari pembangunan hunian terapung karya Koen Olthuis terdapat di Holland. Koen Olthuis telah merampungkan pembangunan watervillas di Holland yang mana lebih dari 50% daerahnya berada dibawah permukaan laut.

image003
Salah satu water villa di westland, Holland, the netherland (sumber : http://inhabitat.com)

Selain di dalam negeri, rupanya perusahaan Waterstudio.NL juga menerapkan pembangunan yang berkonsep floating city di Negara-negara lain yang juga keadaan daerahnya juga didominasi perairan.

Koen Olthuis dan perusahaannya WaterStudio merancang sebuah lapangan golf mengambang di Maldives dengan memanfaatkan keindahan alam dan kecanggihan teknologi yang ramah lingkungan. Lapangan golf ini merupakan salah satu dari seri pulau mengambang terbesar didunia yang dibangun pemerintah untuk menggantikan pulau yang tenggelam. Seri pulau ini akan dihubungkan dengan terowongan bawah laut yang transparan. Pembangunannya sendiri akan dilakukan di Timur Tengah atau India untuk mengurangi anggaran, kemudian akan diderek ke Maldives, hal in bertujuan untuk menjaga alam Maldives agar tidak rusak. Adapun rencana pembangunan dilakukan di akhir 2012 dan selesai di akhir 2013 serta akan resmi di buka pada 2015.

image004
Rancangan lapangan golf terapung di Maldives (sumber : http://qz.com)

Pada tahun 2012 Waterstudio.NL mendapatkan “Architecture & Sea Level Rise” Awards dalam kategori App-grading Wet Slums (pembangunan pemukiman kumuh dan basah). Penghargaan ini didapatkan atas karyanya membangun City-Apps yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat diwilayah kumuh dengan menggunakan struktur urbanisasi terapung. Umumnya, permasalahan utama di kawasan kumuh adalah tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, kurangnya ruang terbuka serta lokasi yang berada di derah perairan sehingga dengan adanya City-Apps, masyarakat akan bisa menggunakan lebih banyak ruang walaupun di air. City-Apps menggunakan sarana berbentuk terapung yang di desain lebih fleksible serta mudah beradaptasi, menyesuaikan dengan kebutuhan pemakainya, terutama yang spesifik dengan permasalahan kebutuhan makanan, tempat tinggal, sanitasi dan energi. City-Apps bukanlah produk permanen, oleh sebab itu, jika suatu saat tidak diperlukan lagi maka bisa dipindahkan ke tempat lain. Untuk pertama kalinya konsep ini akan di aplikasikan di daerah kumuh korail di Dhaka, Bangladesh.

image005
Floating Platform for slums small (sumber: http://www.waterstudio.nl)

image006
Water sanitation for slums small (sumber : http://www.waterstudio.nl)

Pengaplikasian system pondasi apung ini bukan hanya bertujuan untuk mengatasi perubahan iklim dan kepadatan penduduk. Tetapi hasilnya juga bisa membantu masyarakat, dari segi social dan ekonomi serta dapat menjaga keindahan alam sekaligus sebagai objek pariwisata. Solusinya ini tentunya lebih ramah lingkungan, fleksibel, inovatif, modern serta sangan usable. Kita berharap kedepannya konsep ini akan bisa diterapkan di Indonesia terutama di daerah ibukota Jakarta yang sangat padat penduduk dan sering banjir.

Referensi:

http://suprememastertv.com/bbs/board.php?bo_table=featured&wr_id=823

http://id.wikipedia.org/wiki/Belanda

http://www.waterstudio.nl/archive/777

http://qz.com/117913/meet-the-architect-whos-designing-floating-islands-from-schools-in-slums-to-14m-villas-in-the-maldives/

http://inhabitat.com/waterstudio-nl-unveils-daylit-waterfront-family-home-in-the-netherlands/