148. PLTA KRACAK; HARTA YANG TERLUPAKAN ZAMAN

Penulis : R.Fitriani Umar Saputra
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

“Setiap hari kau memandangnya, senapas jauh darimu, dekat laksana nyawa. Namun bisa jauh, jauh sekali umpama tuhan”
-Andrea Hirata, Maryamah Karpov-

Mungkin kalimat inilah yang dapat menggambarkan pikiranku saat akan menulis tulisan ini. Awalnya aku mencoba mencari inovasi Belanda dari internet. Beribu artikel kutemukan, dan tidak ada satupun yang kuanggap menarik untuk diceritakan. Penat mencari, aku memutuskan berjalan-jalan keluar. Di tengah jalan aku tertegun melihatnya. Sesosok bayangan gagah yang berdiri tegak tak tegoyahkan, memandang sekitarnya dalam dingin dan diam. Dialah PLTA Kracak, satu dari beberapa PLTA tertua di Bogor yang telah beroperasi dari zaman Belanda hingga sekarang. Sosok yang selalu membuatku takjub bagaimana bisa sebuah bangunan mengubah hidup banyak orang. Sosok yang membuatku sadar, bahwa sesungguhnya inovasi terbesar umat manusia adalah saat hal itu bermanfaat bagi sesama.

Sebelum membahas lebih jauh mengenai PLTA Kracak, mari kita tengok alasan mengapa Belanda membangun PLTA ini. Setelah mendapat informasi dari beberapa sumber, saya menemukan beberapa alasan yang menjadikan Belanda membangun PLTA di daerah Kracak, Leuwiliang, Bogor. Pertama, Bogor adalah kota hujan yang memiliki intensitas hujan yang cukup tinggi, yaitu sekitar 3.500 – 4000 mm setiap tahun, sehingga tersedia pasokan air dalam jumlah banyak. Selain itu, daerah Leuwiliang memiliki iklim yang sejuk dan tanah yang subur, sehingga Belanda memutuskan untuk membangun perkebunan dan pabrik pengolahan teh yang sekarang disebut Perkebunan Teh Cianten. Tapi untuk mendukung operasional pabrik, Belanda harus memasok listrik dalam jumlah yang cukup besar. Oleh karena itulah Belanda membangun PLTA di daerah Kracak, untuk memasok listrik ke pabrik teh dan wilayah-wilayah sekitar Jakarta dan Bogor.

image003

image001
Gambar Perkebunan Teh Cianten, Bogor, Jawa Barat
Sumber : http://jakarta.panduanwisata.id

Sesuai namanya, PLTA yang terletak di Desa Kracak, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor ini dibangun pada tahun 1921 dan mulai beroperasi pada tahun 1926. PLTA Kracak merupakan PLTA tipe Semi Run-Off River, yang menggunakan kolam tando harian (KTH) yaitu Waduk Gunung Bubut yang merupakan sub unit dari PLTA Kracak dan digunakan untuk menampung debit dua sungai sekaligus, yaitu Sungai Cianten dan Sungai Cikuluwung.

image005
Waduk Gunung Bubut, sub unit PLTA Kracak
Sumber : http://wikimapia.org

Waduk ini dibuat dengan cara mengeruk salah satu bukit dan melapisinya dengan konstruksi beton. Luas areal permukaan waduknya sendiri mencapai 42.000 m², sedangkan luas dasarnya 35.000 m². Waduk ini dapat menampung air sebanyak 187.000 m³ dengan ketinggian maksimal air yang bisa ditampung adalah 7,25 m. Dengan pipa berdiameter dua meter, air yang dibendung tersebut kemudian dialirkan ke bawah untuk menghidupkan turbin PLTA yang dipasang di rumah pembangkit (power house). Dengan sistem ini PLTA dapat mengatur pasokan air yang digunakan untuk menghasilkan listrik dan dapat menyimpan air untuk saat-saat tertentu. Jadi misal pada waktu malam hari dibutuhkan daya yang besar maka air yang tersedia digunakan untuk memutar turbin sedangkan pada waktu siang hari dimana rata–rata kebutuhan listrik lebih sedikit dibanding pada malam hari, maka KTH akan digunakan untuk menampung air. Dengan sistem ini PLTA Kracak yang mulai beroperasi tahun 1926 ini memiliki kapasitas 18,9 MW (3 x 6,3 MW) dan dapat menyuplai listrik ke Jakarta dan Bogor.

image008

image007
PLTA Kracak, Lewiliang, Bogor, Jawa Barat
Sumber : https://misterhendrian.wordpress.com

Ada beberapa fakta mengejutkan tentan PLTA Kracak. Seperti yang telah kita ketahui, PLTA Kracak dibangun oleh Belanda pada tahun 1921 atau 94 tahun yang lalu, dan yang mengejutkan, bangunan PLTA ini masih berdiri kokoh hingga sekarang. Bahkan, saat terjadi gempa hebat di wilayah Bogor pada tahun 2002, bangunan ini berhasil selamat tanpa kerusakan yang berarti, sedangkan bangunan di sekitarnya rusak parah, bahkan ada yang hancur lebur. Apakah rahasia dari bangunan PLTA Kracak sehingga dapat terus tegak berdiri tanpa memperdulikan zaman?

Setelah melakukan pencarian dari berbagai sumber, saya berhasil mendapatkan suatu kesimpulan yang cukup mencegangkan. Menurut Samsudi (2000) ada 2 faktor yang menentukan kekokohan suatu bangunan, yaitu faktor struktural dan faktor geoteknik. Faktor struktural bangunan dapat dilihat dari bahan baku pebuatan bangunan, struktur bangunan, desain, dan lain-lain. Seperti yang telah kita ketahui, bangunan Belanda lebih menekankan pada kekokohan sehingga pada bangunan Belanda selalu ditemukan tembok yang terbuat dari dua pasang atau lebih batu bata tebal sebagai penahan beban, dengan kontruksi rangka atap sistem kuda-kuda Bangunan Belanda juga biasanya menggunakan besi tuang yang sangat kuat sehingga menambah kekokohan bangunan. Sedangkan faktor geoteknik yang paling sederhana dapat dilihat dari ponasi bangunan. Bangunan belanda biasanya menggunakan pondasi yang dalam untuk memperkokoh bangunannya.

Selain dua hal diatas, ada satu lagi yang menurut saya menjadi suatu inovasi orang Belanda yang diterapkan dalam pembangunan PLTA ini yang merupakan dasar dari analisis pembangunan yang digunakan di Indonesia, yaitu Analisis BOW. Menurut Mudjisantosa (2013) BOW adalah singkatan dari Burgerlijke Openbare Werken, suatu ketentuan dan ketetapan umum yang ditetapkan oleh Dir BOW pada Februari 1921 di zaman pemerintahan Belanda. Analisis ini memungkinkan kita mengetahui jumlah tenaga kerja, bahan bangunan, dan watu yang diperlukan untuk mengerjakan suatu proyek tertentu. Dengan adanya analisis ini PLTA Kracak dapat dibangun dengan lebih efisien, tepat waktu, dan terencana.

Selain bangunan yang kokoh, peralatan infrastruktur di PLTA Kracak pun tidak kalah mencengangkan. Tahukah anda? Turbin dan generator di PLTA Kracak masih orisinal sejak pertama kali dipasang dan belum pernah diganti. Begitu juga dengan pipa untuk suplai air (penstock) sepanjang 1,5 km dari waduk ke turbin yang juga sudah terpasang sejak zaman dahulu. Artinya, peralatan yang terpasang di PLTA Kracak ini sudah berumur 89 tahun dan masih berfungsi dengan baik.

Hal-hal diatas membuat PLTA Kracak menjadi satu dari sekian banyak bangunan Belanda di Indonesia yang bukan hanya berfungsi sebagai peninggalan sejarah, tapi juga merupakan suatu inovasi yang sangat mempengaruhi budaya Indonesia, baik dari segi arsitektur bangunan hingga pola pemanfaatan air masyarakat. Sejak adanya PLTA Kracak ini, pandangan masyarakat Indonesia terutama daerah Bogor dan sekitarnya mengenai air menjadi berubah total. Dari sinilah masyarakat mulai mengenal pengubahan tenaga air menjadi listrik. Dari sini pula masyarakat mengadopsi teknik pembangunan yang digunakan Belanda untuk membangun berbagai fasilitas umum seperti jembatan, bendungan, dan lain-lain untuk memperkokoh dan mengefisienkan penggunaan sumber daya dalam proyek pembangunan hingga kini. Jadi menurut saya, PLTA Kracak adalah salah satu inovasi terbesar Belanda yang paling mempengaruhi kehidupan, dan pola pikir bangsa, terutama masyarakat di daerah Bogor dan sekitarnya.

Referensi
Samsudi, Samsudi (2000) ASPEK – ASPEK ARSITEKTUR KOLONIAL BELANDA PADA BANGUNAN PURI MANGKUNEGARAN. Masters thesis, Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro.

https://www.facebook.com/media/set/?set=a.366395880091374.84971.169891086408522&type=1

http://www.mudjisantosa.net/2013/08/analisa-bow.html

http://hellobogor.com/waduk-gunung-bubut-bogor/