161. Teknologi Hidroponik Bangkitkan Pertanian Belanda

Penulis : Arifanny Faizal
Tema : Earth
=========================================================================================================================================================

Apabila melihat sejarah, Belanda pernah terkena dampak perang dunia ke-2 dan mengalami krisis ekonomi. Tak mau terjebak pada krisis, Belanda mencoba bangkit melalui sektor pertanian. Setidaknya saat itu Belanda harus bisa memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri demi keberlangsungan hidup warga negaranya.

Belanda boleh jadi termasuk negara yang berukuran kecil, luasnya hanya sekitar 41.526 km2. Namun, keterbatasan lahan sama sekali tidak menghalangi Belanda untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negerinya. 60% dari luas tanah Belanda dikerahkan untuk pertanian, langkah yang menurut saya sangat berani. Awalnya pertanian dilakukan secara konvensional, tetapi dalam perkembangannya Belanda menerapkan inovasi berupa penggunaan teknologi hidroponik. Dengan penerapan teknologi tersebut, kini Belanda menjadi produsen produk hidroponik terbesar di dunia. Bahkan kini Belanda bukan hanya berhasil memenuhi kebutuhan pangan dalam negerinya, tetapi juga telah menjelma menjadi eksportir pertanian terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat.

image001
Sumber: Wikipedia.org

image003
Sumber: masgustian.blog.ugm.ac.id

Padahal, Belanda mendapatkan banyak tantangan untuk mengelola alamnya. Selain luas lahan yang kecil, tanah Belanda cenderung lebih rendah dari permukaan air. Diperlukan usaha sebelum akhirnya tanah bisa digunakan untuk bercocok tanam. Untungnya tanah Belanda termasuk kategori tanah yang subur. Tapi cuaca pun menjadi hambatan, pada musim salju misalnya, tentu tanaman tidak bisa berkembang. Untuk menghadapi semua tantangan itu, bertahun-tahun kemudian petani Belanda mulai bercocok-tanam dengan teknologi hidroponik modern dan teknologi lainnya yang dilakukan di dalam rumah kaca (green house).

Sebelum menjelajah tentang teknologi hidroponik mari kita telusuri sejarah rumah kaca. Rumah-rumah kaca komersil pertama kali didirikan di Belanda sekitar tahun 1850, setelah terdapat penemuan bahwa tanaman tumbuh lebih cepat jika mendapat cahaya terus menerus di sebuah lingkungan bersuhu tetap. Seiring waktu berjalan, kualitas rumah kaca terus meningkat sampai pada tahun 70-an terdapat standar resmi rumah kaca yang pertama. Apabila kita berkunjung ke Belanda sekarang dapat kita saksikan deretan rumah kaca. Jelas saja, luas keseluruhannya mencapai sekitar 10.000 hektar yang merupakan jumlah rumah kaca terbanyak di dunia.

Awalnya kegiatan pertanian di dalam rumah kaca masih menggunakan cara-cara konvensional. Hingga pada dekade 1980-an terjadi momen penting bagi perkebunan dengan menggunakan teknologi hidroponik. Para peneliti Belanda menemukan kandungan metil bromid berbahaya di dalam air tanah. Ironisnya, kandungan yang bersumber dari pensteril tanah tersebut telah tersebar di berbagai daerah. Pemerintah Belanda langsung melarang obat steril tersebut. Dampak pelarangan itu membuat para pekebun beralih ke hidroponik. Penggunaan teknologi hidroponik juga sebenarnya tidak terlepas dari meningkatnya permintaan dan kebutuhan akan bahan pangan.

Proses panjang terjadi di dalam rumah kaca. Komoditas hidroponik utama seperti paprika, tomat, bawang dan mentimun awalnya sulit ditemukan di Belanda. Belanda mengatasinya dengan mengimpor bahan baku pertanian. Total 40% dari bahan baku pertanian memang berasal dari impor. Kemudian bahan baku itu diproses di dalam rumah kaca dengan teknologi hidroponik dan aneka teknologi lainnya. Setidaknya hampir semua kegiatan produksi di dalam rumah kaca menggunakan teknik hidroponik dengan sistem Nutrient Film Technique (NFT) dan kultur rockwool.

image005
Sumber: indonesiabertanam.com

image007
Sumber: indonesiabertanam.com

NFT adalah suatu metode budidaya tanaman dengan akar tanaman yang tumbuh pada lapisan nutrisi yang dangkal dan tersirkulasi. Tanaman tumbuh dalam lapisan polyethylene dengan akar tanaman terendam dalam air yang berisi larutan nutrisi yang disirkulasi secara terus menerus dengan pompa. Dengan demikian tanaman dapat memperoleh cukup air, nutrisi dan oksigen.

image009
Sumber: tokomarari.com

Selain NFT, Rockwool atau biasa dikenal dengan Mineral Wool juga merupakan teknik hidroponik yang sering digunakan di Belanda. Rockwool dibuat dengan memanaskan bebatuan mineral dalam suhu yang sangat tinggi sehingga menjadi serat-serat. Serat-serat ini kemudian dimasukkan dalam semacam alat pintal dan kemudian menjadi bentuk yang mirip dengan busa. Rockwool yang dipotong kecil berbentuk kubus selanjutnya ditempatkan dalam pot kecil berlubang (Net Pot) sehingga akar tanaman yang keluar dari Rockwool dapat terus berkembang dan terjuntai untuk bisa menyerap nutrisi dan oksigen yang terkandung dalam air dibawahnya.

Untuk mendukung teknologi hidroponik yang ada di dalamnya, rumah kaca juga dilengkapi panel surya serta teknik insulasi yang baik untuk menurunkan emisi karbon dioksida juga mendaur ulang kelebihan energi di musim panas untuk digunakan di musim dingin. Dengan demikian, tanaman tetap dapat tumbuh dengan baik meskipun musim dingin sedang berlangsung karena mendapat suhu yang tetap. Penggunaan aneka teknologi seperti manipulasi iklim tersebut serta teknologi hidroponik, robort dan komputerisasi sudah menjadi bagian yang integral dengan rumah kaca.

image010
Sumber: sangsutradara.wordpress.com

Rumah kaca dengan berbagai teknologi di dalamnya telah mendatangkan keuntungan yang luar biasa untuk Belanda. Rumah kaca yang hangat milik perusahaan tomat keluarga Duijvestijen misalnya. Pasokan listrik kebun tomat seluas 14,5 hektar itu memanfaatkan energi panas bumi untuk listrik, pemanasan rumah kaca, hingga produksi CO2, yang dikembangkan sejak lima tahun lalu (2010). Teknologi ini berkontribusi menghasilkan 9.750 ton tomat per tahun. Pada tahun 2015 keluarga Duijvestijen mendapatkan penghargaan petani terbaik dunia dalam ajang pameran buah segar di dunia, Fruit Logistica, di Berlin, Jerman.

Menurut saya, keberhasilan Belanda mengelola tanahnya—di bidang pertanian terjadi karena kerjasama yang erat antara pemerintah dan lembaga-lembaga lainnya. Terdapat hubungan yang sinergi antara hasil penelitian dengan penggunaan hasil penelitian untuk kepentingan negara. Di antara yang memberikan sumbangsihnya adalah institusi riset atau perguruan tinggi seperti Wageningen University and Research Centre, TNO, NIZO Food Research, Utrecht University dan Technische Universiteit Eindhoven.

Keberhasilan juga terjadi karena intensifikasi lahan pertanian dengan sistem kluster terpadu. Misalnya, kluster pertanian terbesar di Belanda yakni Westland, Zuid-Holland. Di sini terdapat ratusan hektar rumah kaca berteknologi tinggi yang terintegrasi dengan pelabuhan (Rotterdam) dan bandara (Schiphol). Pengintegrasian ini membuat para pembeli dari berbagai negara untuk lebih mudah jika ingin mendapatkan tanaman hidroponik.

Melihat pengalaman Belanda yang dapat hidup dari sektor pertanian, perlu disadari bahwa industri pertanian bisa dijadikan pendorong utama perekonomian. Terbukti bahwa agribisnis Belanda bertanggungjawab atas 10% dari Produk Nasional Bruto (GNP) Belanda dan 60% dari surplus perdagangan Belanda menjadi tanggung jawab sektor pertanian. Belanda telah membuktikan bahwa lahan yang terbatas pun bisa menjadi bermanfaat jika dimanipulasi dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan. Indonesia, dengan lahan yang jauh lebih luas, tentu bisa melampaui Belanda asalkan bisa memanfaatkan ilmu pengetahuan secara maksimal. Jika hal itu terwujud, tentu akan mendatangkan keuntungan bagi kita semua.

Daftar Bacaan

http://indonesia-in.nlembassy.org/organization/bagian-dalam-kedutaan/pertanian

http://www.hollandtrade.com/media/hollandtrade-infographics/agrifood/

http://internasional.kompas.com/read/2010/08/30/05303243/Pertanian.Hidupi.Belanda

http://travel.kompas.com/read/2015/04/17/154500027/Wisata.Belanda.Semangat.Belajar.dari.Keterbatasan

http://news.detik.com/read/2013/11/17/173444/2415273/103/pada-belanda-kita-belajar-tani-dan-pangan

http://ppmkp.pancatech.com/wp/artikel-umum/belajar-dari-inovasi-pertanian-negeri-kincir-angin.html

http://tokomarari.com

Majalah Hello Holland!
Istiqomah, Siti, Menanam Hidroponik diakses di https://books.google.co.id/books?id=XrkcH3yiQS8C&pg=PA5&lpg=PA5&dq=hidroponik+belanda&source=bl&ots=_L9MyWV81X&sig=VeiEeJYrPaa-TT-L–Q8LB9-ltw&hl=id&sa=X&ei=qh41Vd2DIpScuQTFk4HYDw&ved=0CEoQ6AEwCg#v=onepage&q=hidroponik%20belanda&f=false