163. Inovasi Solaroad Belanda dan Pelajaran bagi Indonesia

Penulis : AHMAD SAFRIL MUBAH
Tema : Fire
=========================================================================================================================================================

Di antara 193 negara di seluruh dunia, Belanda termasuk salah satu negara dengan inovasi terdepan. Dalam Global Innovation Index 2014 yang dirilis Cornell University dan World Intellectual Property Organization pertengahan tahun lalu, negeri Kincir Angin menempati peringkat kelima negara paling inovatif sejagat (Beatrice 2014). Beberapa tahun terakhir, serangkaian inovasi telah dilahirkan negara ini. Sebagai negara yang berlokasi di dataran rendah, Belanda selama ini dikenal dengan inovasi unggulnya di bidang perairan dan pertanahan. Tetapi, di luar dua elemen kehidupan itu, Belanda ternyata juga menghasilkan inovasi dalam elemen api, yakni pemancaran energi matahari melalui jalan yang dibangunnya.

Inovasi yang dinamakan SolaRoad itu diluncurkan pada 12 November 2014. Untuk tahap awal, Belanda memasang SolaRoad di jalur sepeda sepanjang 70 meter yang menghubungkan Krommenie dan Wormerveer di sebelah utara Amsterdam. Jalan itu dipilih sebagai lintasan ujicoba karena tiap harinya, sekitar dua ribu pengendara sepeda melintasinya. Selama tiga tahun ke depan, tim yang dipimpin lembaga riset Toegepast Natuurwetenschappelijk Onderzoek (TNO) akan memonitor secara tepat seberapa banyak energi yang mampu dihasilkan (The Guardian, 5 November 2014).

image001
Gambar 1. Lokasi Ujioba SolaRoad di Jalur Sepeda Krommien-Wormerveer
Sumber: www.gizmag.com

Belanda mengklaim SolaRoad merupakan inovasi jalan bertenaga surya satu-satunya di dunia. Sebagai pelopor, Belanda menyebut inovasi itu visioner karena mampu mengatasi krisis energi yang kemungkinan dihadapi Bumi di masa depan. Terlepas dari tercapai atau tidaknya visi itu, Indonesia patut belajar dari upaya inovatif Belanda dalam mengembangkan SolaRoad.

Inovasi Visioner
Pada 2009, para ahli energi Belanda membayangkan betapa besar manfaatnya jika jalan-jalan di negara ini berfungsi sebagai panel surya yang mampu menciptakan kekuatan energi penggerak kendaraan yang melintas di atasnya. Berawal dari mimpi itu, sebuah visi masa depan untuk menciptakan SolaRoad lantas dikembangkan. Dipimpin oleh TNO, kolaborasi sinergis dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Noord-Holland, perusahaan konstruksi jalan Ooms Civiel, dan penyedia jasa teknik Imtech untuk membentuk konsorsium pengembang jalan bertenaga surya.

Konsorsium itu memulai gagasannya dengan sederhana: cahaya matahari yang jatuh ke permukaan jalan diserap oleh sel surya dan dikonversikan menjadi aliran listrik. Untuk memungkinkan hal itu bekerja dengan sempurna, SolaRoad disusun menjadi empat lapisan yang mempunyai fungsi berbeda. Pertama, lapisan dasar berupa beton berukuran 2,5 x 3,5 meter yang berfungsi sebagai pondasi agar SolaRoad tetap kokoh meskipun dilindas oleh banyak kendaraan. Kedua, lapisan sel surya silikon yang menutupi lapisan beton di bawahnya yang berfungsi untuk memproduksi energi listrik. Ketiga, lapisan kaca setebal 1 sentimeter untuk melindungi lapisan sel surya silikon. Keempat, lapisan tembus cahaya ditempatkan paling atas untuk menyerap sebanyak mungkin sinar matahari yang mampu menembus hingga sel surya silikon dan menyalurkannya kembali ke atas sebagai sumber energi (www.solaroad.nl, 17 April 2015).

image003
Gambar 2. Lapisan Tembus Cahaya SolaRoad
Sumber: www.gizmag.com

Dengan cara kerja semacam itu, setelah melakukan serangkaian eksperimen selama lima tahun, konsorsium akhirnya menemukan terobosan baru berupa jalan pertama di dunia yang permukaannya mampu mengonversikan tenaga matahari menjadi listrik. Sumber energi ini diharapkan dapat disediakan oleh sekitar 450 kilometer persegi permukaan jalan tiap harinya. Setiap meter persegi permukaan jalan itu menghasilkan energi sebesar 50-70 kwh per tahun, atau cukup untuk menyalurkan energi ke satu hingga dua rumah (New York Times, 12 November 2014).

Target akhirnya, ke depan, 140.000 kilometer jalan di berbagai wilayah Belanda dapat berfungsi sebagai panel tenaga surya raksasa yang mampu memancarkan listrik untuk kendaraan, lampu jalan, sistem lalu lintas, dan kebutuhan rumah tangga. Karena itu, Sten de Wit, peneliti TNO, meyakini bahwa SolaRoad “could be a breakthrough in the field of sustainable energy supply” (www.solaroad.nl, 17 April 2015). Dapat dibayangkan, jika proyek inovatif ini berhasil, Belanda bakal terus dipasok oleh sumber energi berkelanjutan sehingga negeri Bunga Tulip ini tidak akan pernah kehabisan energi di masa yang akan datang.

Pelajaran

Indonesia dapat memetik tiga pelajaran dari inovasi Belanda. Pertama, impian visioner sangat penting dimiliki oleh sebuah bangsa yang ingin berinovasi secara unggul demi mencapai kemajuan. Belanda adalah bangsa yang tidak pernah berhenti bermimpi menjadi negara maju karena mereka percaya bahwa impian adalah kunci pembuka untuk menapaki jalan kemajuan. Di kala banyak negara khawatir terhadap pasokan kebutuhan energi masa depan, Belanda muncul dengan terobosan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Negara kita sudah sepatutnya juga punya impian serupa, menjadi pelopor inovasi yang berkontribusi tidak hanya bagi kemajuan bangsa, tetapi juga peradaban dunia.

Kedua, pendidikan dan penelitian adalah kunci utama untuk menjadi negara inovatif. Impian visioner saja tidak cukup jika tidak diwujudkan secara nyata dalam edukasi dan riset. Belanda sangat serius membenahi sektor pendidikannya karena mereka yakin bahwa semakin berkualitas pendidikan, kian unggul sumber daya manusia yang dimiliki negara ini sehingga impian menjadi negara maju yang inovatif akan dapat lebih mudah digapai. Manusia unggul memiliki peran sangat penting untuk menghasilkan produk riset inovatif. Hal itu ditopang pula oleh dana riset berlimpah yang disediakan pemerintah Belanda. Keunggulan manusia dan dukungan pemerintah inilah yang menjadikan terobosan baru seperti SolaRoad berhasil ditemukan. Belajar dari Belanda, Indonesia harus bersungguh-sungguh meningkatkan kualitas pendidikan dan penelitiannya.

Ketiga, kolaborasi antara sektor publik dan privat harus dijalankan secara sinergis dan strategis. Temuan SolaRoad menggambarkan betapa sinergisnya kolaborasi antara berbagai institusi di Belanda. Lembaga riset (TNO), pemerintah (Provinsi Noord-Holland), perusahaan (Ooms Civiel), dan penyedia jasa (Imtech) saling bekerja sama secara strategis untuk mencapai tujuan bersama. Hasil riset TNO tidak akan bisa diimplementasikan jika Ooms Civiel dan Imtech tidak menyediakan material dan jasa untuk membangun SolaRoad di lokasi yang disediakan Pemerintah Provinsi Noord-Holland. Artinya, jika Indonesia ingin pembangunan dijalankan secara inovatif, pemerintah dan swasta dengan didukung oleh masyarakat harus berkolaborasi dengan menghilangkan ego sektoral yang selama ini menghambat.

Referensi
Clarke, Beatrice, 2014. “Netherlands ranked 5th in 2014 Global Innovation Index,” 26 Juli. dalam http://www.iamexpat.nl/read-and-discuss/expat-page/news/netherlands-ranked-5th-2014-global-innovation-index#sthash.ZoLot12D.dpuf [internet]. diakses 17 April 2015.
http://www.solaroad.nl/en/de-techniek/ [internet]. diakses 17 April 2015.
http://www.solaroad.nl/en/hoe-is-het-idee-ontstaan/ [internet]. diakses 17 April 2015.
Lavars, Nick, 2014. “World’s first solar bike path set to open in the Netherlands” 5 November. dalam http://www.gizmag.com/solar-powered-pathway-netherlands/34613/ [internet]. diakses 17 April 2015.
New York Times, 2014. “Solar-Energy Roadway Test Begins in the Netherlands,” 12 November. dalam http://www.nytimes.com/2014/11/12/business/energy-environment/ solar-energy-roadway-test-begins-in-the-netherlands.html?_r=0 [internet]. diakses 17 April 2015.
The Guardian, 2014. “World’s First Solar Cycle Lane Opening in the Netherlands,” 5 November. dalam http://www.theguardian.com/environment/2014/nov/05/worlds-first-solar-cycle-lane-opening-in-the-netherlands [internet]. diakses 17 April 2015.