167. Cerita dari Belanda, Solusi untuk Jakarta, Catalysis tidak Sebatas Kata

Penulis : Shinta Purnama Sarie
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

Kapan terakhir kali melihat birunya langit di Jakarta
Apa kamu juga punya masker untuk naik kopaja dari satu ke satu tempat?
Apa bisa bertahan dengan asap-asap kendaraan di Jakarta?
Ada harapan Jakarta sebagai rumah yang nyaman?

Sudah tidak perlu membayangkan berapa banyak kendaraan di Jakarta. Tapi bayangkanlah bagaimana tingkat polusi di Jakarta. Kendaraan berbahan dasar BBM ini rajin menyumbang CO2. Polusi. Ya itu satu-satunya yang membuat kita jengah.

Problematika ini berdampak pada tingkat stress, kesehatan. Lantas apakah ada harapan bagi lalu lintas Jakarta?

Ya, Catalysis, temuan Prof. Bert Weckhuysen mampu membuktikan ada harapan bagi Jakarta.

Polusi mungkin terdengar sepele. “Ah saya tidak tinggal di Jakarta, ngapain repot-repot peduli tentang polusi?” ungkap teman saya di Makassar. Polusi memang bukan topik populer di kalangan kita. Contoh saja drama Haji Lulung lebih menarik dan diperbincangkan ketimbang lajunya deforestasi di Indonesia. Padahal hutan-hutan adalah penyelamat dari tragedi emisi gas rumah kaca dan pemanasan global.

Lain halnya dengan Prof. Bert Weckhuysen, beliau menjadi peduli tentang polusi mengingat masa depan anak-anaknya. “Anak saya gak pernah ngerti apa itu hujan asam dan saya harap gak pernah lihat ataupun tahu. Tapi bagaimana kalau hal seperti dibawah ini yang dilihat oleh anak-anak saya di TV,” ungkap Prof. Bert WEckhuysen di acara TEDx

image001
Judul Foto: Layar Presentasi Prof. Bert Weckhuysen (Foto Kredit: TEDx)

Menjawab tantangan ini, beliaulah yang menemukan teknik inovatif Catalysis untuk mengurangi CO2. Catalysis sendiri diartikan sebagai tingkat reaksi kimia karena adanya zat tambahan (zat tambahan tersebut bernama Catalyst). Zat Catalyst ini bereaksi cepat dengan energi seminim-minimnya.

image003
Judul Foto: Saringan air dengan mengoksidasi Catalyst untuk mengkonversi CO menjadi CO2 yang tidak beracun di ruangan bersuhu (Foto Kredit: Wikipedia)

“Itulah yang saya lakukan sebagai ahli kimia, mendefinisikan molekul dan membedakan molekul jahat dan molekul baik, dan meminimalisir molekul yang jahat,“ ungkap Prof. Bert Weckhuysen.

Prof. Bert Weckhuysen mengungkapkan ada 2 cara dalam mengurangi CO2 sebagai molekul jahat:

image005
Judul Foto: Alternatif 1: dengan menggunakan tumbuhan hijau-hijauan di sekitar pabrik, kita bisa mendaur ulang CO2 dan sampah organik bisa menjadi bio-refinery yang digunakan di industri pabrik-pabrik. CO2 dari pabrik akan ditangkap oleh tanaman-tanaman, kemudian limbah tanaman bisa menjadi bio-refinery untuk pabrik. Dan begitu seterusnya. (Foto Kredit:TEDx)

image007
Judul Foto: Alternatif 2: atau menggunakan Catalyst dengan mengandalkan energi matahari. Peranan Catalyst adalah menjadikan CO2 jauh lebih sedikit dan tidak berbahaya dengan bantuan energi matahari. Catalyst dapat mengubah CO2 jauh lebih merata ketimbang jumlah tanaman. (Foto Kredit:TEDx)

Catalysis yang ditemukan oleh Prof Bert Weckhuysen ini disambut hangat oleh dunia internasional. Dan memberi harapan untuk memperlambat efek perubahan iklim. Usaha beliau tidak sia-sia. 2008, beliau membuat CatchBio, Catalysis untuk Kimia Berkelanjutan Biomass, dengan 21 mitra dari universitas Belanda, lembaga penelitian, dan industri dengan pendanaan sebanyak EUR 28 juta.

Suksesnya Catalysis ini memberikan secercah harapan bagi Jakarta. Selain dibangun mall boleh juga dong dibangun Catalysis untuk menyerap CO2 yang berputar-putar disekitar kita. Dan semoga kita semakin sering melihat birunya langit Jakarta! Harapan dari seorang peduli lingkungan untuk ibukotanya.