172. Cara Belanda Bersahabat dengan Air

Penulis : N. Aisyah Utami
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

Belanda.

image001
Istana Huston Bosch
(ardi-ajja.blogspot.com)

Tiap kali memikirkan negara ini, hal pertama yang terlintas dalam pikiran saya adalah kincir, terompah kayu, tulip, dan Batavia. Diantara banyak hal tadi, mungkin Batavia yang paling aneh, bukan? Ya. Batavia dahulu adalah sebuah kota pemerintahan, nama kota yang sering berseliweran di buku sejarah, sebagai tempat pemerintah Hindia Belanda berkuasa.

Oud Batavia

image003
(dreamofacity.com)

Ah, sudahlah! Batavia sudah jadi sejarah. Nama itu menghilang seiring waktu dan perubahan jaman juga kekuasaan. Sudah menjadi Jakarta. Dan kini, hanya menjadi bagian dari Kota Tua Jakarta, dimana deretan bangunan berarsitektur jaman Belanda bertebaran, menjadi museum. Bahkan untuk tempat pemotretan pre-wedding.

Namun Batavia, Kota Tua Jakarta, benar-benar sering mengingatkan saya pada Belanda. Sebab Jakarta dan Belanda sama-sama berada di dataran yang lebih rendah dari permukaan laut. Itulah sebabnya, banjir sering sekali melanda Jakarta. Tapi, mengapa malah jarang terjadi di Belanda?

Saya sering berpikir, mungkin saja, Belanda tak terkena banjir karena tata ruang kotanya sangat baik, teratur, sampai ijin pembangunan rumah saja diatur. Bisa jadi, tinggi bangunan pun sampai diperhitungkan dengan sangat matang, agar menjaga kekuatan tanah. Bukankah di Belanda juga ada desa terapung? Giethoorn. Bahkan sudah ada sejak tahun 1230. Wah, Belanda benar-benar memperhitungkan soal tata ruang kotanya ya!

Giethoorn

image005
(bunchofbackpackers.com)

Tapi saya kemudian mendapatkan fakta bahwa di Belanda pun sering terjadi banjir, dulu. Kemudian, orang-orang Belanda pun belajar dari pengalaman mereka, dan berinovasi terus sehingga kawasan mereka terlindung dari banjir. Hingga di abad ke-11, mereka menerapkan sistem polder untuk menjaga daratan dari ancaman banjir.

Sebenarnya, polder itu apa sih? Hmm …. Polder merupakan bentukan dataran rendah yang dikelilingi oleh tanggul. Nah, di daerah tadi, air buangan yang sering berupa air limbah rumah tangga dan air hujan dikumpulkan di suatu kanal, lalu saat mulai meninggi, akan dipompakan ke sungai yang langsung bermuara ke laut. Duh, saya malah terbayang kastil-kastil di negeri dongeng yang dikelilingi oleh kanal dengan sepasang buaya ganas di dalamnya.

Proyek Delta

image007
(7wonders.org)

Lanjut ya ….

Nah, dari pengembangan sistem polder inilah, pada abad ke-13, Belanda membangun banyak kincir angin sebagai pendukung sistem polder. Jadilah, si kincir angin menjadi salah satu ikon dari Negeri van Oranje ini. Humph, ternyata kincir angin bermula dari sebuah pemikiran sederhana untuk menyelamatkan dataran Belanda dari bencana banjir ya. Karena kincir-kincir tadi diguunakan oleh masyarakat Belanda sebagai penggerak pompa yang lebih hemat energi, apalagi karena Belanda dianugerahi potensi tenaga angin yang sangat besar. Pantas saja Rene Descartes pernah berkata, “God created the world, but the Dutch created Holland.”

Semuanya berawal dari dorongan untuk melindungi diri dari salah satu elemen yang sebenarnya menjadi bagian terdekat dalam kehidupan kita sebagai manusia, yaitu air. The Dutch punya cara mereka sendiri untuk bersahabat dengan air.

Selanjutnya, sistem polder yang terus-menerus dikembangkan tadi, memunculkan banyak ide. Salah satunya, pembangunan Proyek Delta (Deltawerken). Belanda membangun infrastuktur polder strategis untuk menguatkan pertahanan mereka terhadap banjir. Pembangunan Proyek Delta bahkan dilakukan selama 5 dekade. Wah, bangsa Belanda benar-benar serius menangani masalah banjir yang mengancam wilayah mereka ya. Bahkan Proyek Delta ini sampai menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia modern.

Kembali ke Batavia. Kembali ke Jakarta. Setiap kali mengunjungi Kota Tua, saya selalu membayangkan diri saya sedang berada di Belanda. Walaupun kaki saya sedang memijak tanah Jakarta, dataran yang berada lebih rendah dari permukaan laut. Sama seperti Belanda bukan? Akankah Jakarta juga bersahabat dengan air seperti Belanda? Semoga segera.

Sumber ide :
• www.wikipedia.org/Belanda
• anggunsugiarti.blogspot.com
• vanzaakijn.blogspot.com
• ecoyouthtoyota.com/ecofeatures
• travelblog.tocktab.com