181. Dutch aWEARness – Ide Absurd yang Mewujud Nyata

Penulis : Prita Ika Dewi
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

Siapa yang sedang tidak pakai baju hayooo? Ngakuuu… #tutupmata

Saya yakin 100 persen, semua yang sedang membaca tulisan ini pasti sedang mengenakan pakaian. Tapi yang saya tidak terlalu yakin adalah apakah pembaca tahu bagaimana proses pembuatan pakaian itu sampai akhirnya sampai ke tangan Anda. Percayalah pada saya, sebagian besar pakaian yang ada di lemari pakaian Anda telah mengalami perjalanan yang panjang… dan mengerikan. Hah? Apanya yang mengerikan?

image001
Sumber : www.thetshirtman.co.uk

Bukan bermaksud mendramatisir, tapi beberapa pakaian yang pernah melekat pada tubuh Anda pasti punya cerita horornya masing-masing. Jika pakaian Anda terbuat dari katun misalkan, maka perjalanannya dimulai dari tanaman kapas. Tanaman kapas dikenal sebagai tanaman yang sangat “haus” pestisida, dan Anda pasti tahu efek buruk pestisida bagi kesehatan manusia. Jika pemanenannya dilakukan secara mekanis, maka herbisida dan perontok daun akan diaplikasikan pada tanaman kapas. Kedua zat kimia berbahaya ini akan melekat sangat lama di kapas, benang, dan akhirnya pakaian Anda, entah sampai kapan. Apakah hal ini sudah membuat bulu kuduk Anda berdiri?

Sepertinya Anda masih harus bertahan karena saya akan melanjutkan tulisan ini dengan memaparkan beberapa fakta seram tentang industri tekstil dan pakaian jadi di dunia. Lakshmi Challa melalui artikelnya, “Impact of Textiles and Clothing Industry On Environment: Approach Towards Eco-Friendly Textiles” menyebutkan bahwa untuk dapat menumbuhkan kapas yang cukup digunakan untuk memproduksi satu buah t-shirt katun dibutuhkan sekitar 970 liter air. Bayangkan berapa jumlah t-shirt yang telah diproduksi sepanjang sejarah manusia ini? Jumlahnya bisa sangat menakjubkan. Tidak hanya menyerap banyak air, tapi proses pembuatan tekstil juga meracuni air dengan limbah pewarnanya yang seringkali tidak dapat diproses dengan sempurna. Sebenarnya efek yang dirasakan oleh alam dari proses produksi tekstil dan pakaian jadi ini tidak hanya pada kualitas air, tapi juga udara dan tanah. Pelepasan gas-gas berbahaya seperti nitrogen oksida dan karbon monoksida semakin menurunkan kualitas udara yang kita hirup serta berpotensi meningkatkan suhu bumi. Sementara tanah juga menerima dampak dalam berbagai aspek, salah satunya adalah ketika pakaian telah menjadi sampah, yang kemudian memakan banyak tempat untuk pembuangannya karena sangat sulit untuk diurai. Tanah juga menderita pencemaran dari zat pewarna dan bahan-bahan kimia lain yang terkandung di dalamnya.

image002
Sumber : www.nwfabricshow.com

Kompleksitas permasalahan produksi tekstil dan pakaian jadi ini mungkin membuat Anda geleng-geleng kepala dan melambaikan bendera putih tanda menyerah. Dapatkan permasalahan penyediaan barang kebutuhan pokok manusia yang satu ini diatasi? Adalah seorang Rien Otto, pria berkebangsaan Belanda yang telah berkecimpung selama dua dekade di bidang produksi tekstil dan desain pakaian, yang memiliki ide untuk membuat proses ini dapat menjadi lebih baik dan lebih ramah lingkungan. Melalui Dutch aWEARness, perusahaan tekstil dan pakaian jadi yang didirikannya pada tahun 2012, ia mempelopori sistem Rantai Pasok Sirkuler (circular supply chain) untuk tekstil.

image003
Sumber : www.dutchawearness.com

Sebuah ide yang awalnya terlihat sangat absurd ternyata tidak mustahil untuk diwujudnyatakan. Para praktisi di bidang tekstil mungkin bertanya-tanya, bagaimana mungkin sistem rantai pasok industri tekstil yang biasanya linier dapat diubah menjadi rantai pasok sirkuler? Rupanya Rien Otto sepakat dengan pendapat ilmuwan besar Albert Einstein tentang ide, bahwa ide haruslah absurd, barulah ia punya harapan untuk diwujudkan. Harapan besar untuk mengubah dunia menjadi lebih baiklah yang kemudian mengantar keberhasilan Otto menciptakan terobosan dalam industri tekstil dan pakaian jadi.

Kunci dari rantai pasok sirkuler adalah kemampuan produk untuk menjadi bahan baku bagi proses selanjutnya. Rien Otto mengetahui bahwa ada sebuah perusahaan di Austria yang bernama Backhausen, yang memproduksi suatu bahan poliester yang dapat didaur ulang dan digunakan untuk pelapis furnitur. Dengan memanfaatkan teknologi yang sama ia bermaksud menciptakan bahan jadi yang berkarakter kuat sekaligus dapat didaur ulang. Returnity adalah nama produk tekstil yang dihasilkan dari teknologi tersebut. Bahan ini terbuat dari poliester yang tahan lama, namun diproses dengan teknologi yang mampu menghemat penggunaan air hingga 95% daripada pemrosesan katun standar. Bahan yang bersahabat ini juga memiliki kehebatan lain yaitu setelah masa pakainya habis, ia dapat menjadi bahan baku untuk proses pembuatan pakaian selanjutnya. Coba saja keluarkan kalkulator dan hitung-hitung berapa penghematan air yang dapat dilakukan jika kita menggunakan bahan ini dan menerapkan sistem rantai pasok sirkuler dalam industri tekstil dan pakaian jadi.

image005
Siklus Returnity – Sumber : www.dutchawearness.com

Saat ini Dutch aWEARness telah menjalin kerjasama dengan beberapa perusahaan besar di Eropa seperti Royal HaskoningDHV, EcoChain Technologies, Bukk Fashion, Backhausen, dan Van Schoot Pompcentrum untuk memproduksi pakaian kerja atau seragam pegawainya. Pakaian ini memiliki masa pakai tertentu, yang kemudian setelah masa pakainya habis, maka pakaian tersebut harus dikembalikan ke produsennya. Konsep membeli baju akhirnya berubah menjadi meminjam baju. Setelah masa peminjaman baju itu selesai, maka baju harus kita kembalikan pada pemiliknya, yaitu produsennya. Baju itu kemudian akan diproses kembali menjadi bahan mentah, dan selanjutnya menjadi baju lainnya, dengan kualitas pakaian jadi berikutnya yang 100% sama baiknya dengan baju sebelumnya. Rupanya, inilah sistem rantai pasok sirkuler yang dimaksudkan oleh Rien Otto.

Spontan saya berpikir, “Ah, inikan hanya ada di Belanda. Bagaimana dengan negara-negara lainnya di dunia? Jika proses ramah lingkungan ini hanya terjadi di Belanda, tentu dampaknya tidak akan terlalu signifikan bagi ekosistem bumi”. Kekhawatiran saya dan mungkin para pembaca lainnya ternyata tidak berasalasan. Saat ini Dutch aWEARness telah mengembangkan bahan Eco Pro Fabric yang akan digunakan secara luas di Eropa. Tak berhenti disitu, Rien Otto bahkan memiliki cita-cita untuk menyebarkan konsep Rantai Pasok Sirkuler yang ramah lingkungan tersebut ke seluruh dunia. Ia ingin berkunjung ke negara-negara lain di dunia, dan membantu perusahaan-perusahaan tekstil dan pakaian jadi untuk dapat menerapkan sistem ini. Akankah Indonesia yang dikenal sebagai negara produsen tekstil terbesar kesembilan di dunia menjadi salah satu tujuannya? Bisa jadi. Tapi jika Anda tak sabar menunggu, setidaknya kita dapat belajar dari keberanian Rien Otto mewujudkan ide absurdnya menjadi suatu karya nyata seperti Dutch aWEARness dengan Returnity nya. Kerjasama antara pelaku industri dan akademisi bisa jadi mengantar Indonesia menghasilkan proses produksi tekstil dan pakaian jadi yang lebih ramah lingkungan dan sehat.

image006
Sumber : www.launch.org

Referensi :
1. http://dutchawearness.com/circulareconomy/circular-economy/
2. http://www.sustainablebrands.com/news_and_views/next_economy/katharine_earley/dutch_awearness_creating_first_closed-loop_supply_chain
3. http://www.fibre2fashion.com/industry-article/textile-industry-articles/impact-of-textiles-and-clothing-industry-on-environment/impact-of-textiles-and-clothing-industry-on-environment2.asp
4. http://www.launch.org/innovators/rien-otto.
5. http://nwfabricshow.com/what-makes-a-company-sustainable/#.VTdLK_BxfyY
6. http://www.thetshirtman.co.uk/shop/product/childrens-hoodies/hip-childrens-scary-face-hoody/