196. Inovasi Wakawaka dari Belanda

Penulis : Irfan Tri Raharjo
Tema : Fire
=========================================================================================================================================================

Tidak cuman Ibu Kartini yang bisa menginspirasi banyak orang, tapi ternyata Shakira juga, mungkin karena sama-sama wanita ya..?
Nah kalo habis gelap terbitlah terang, itu versi ibu kita Kartini ya. Tapi gimana kalo yang ngomong itu Shakira, mungkin jadinya habis gelap terbitlah Wakawaka…
Tapi ini bener, ada kabar gembira untuk anda…

Ini terkhusus buat anda yang suka bawa smart phone kemana mana ya, ato yang demen foto-foto selfie pake smart phone, ato yang sering selfie kemana-mana pake smart phone, dan tiba-tiba… peet …ternyata baterenya abis. Kalo hal ini terjadi maka ingatlah anda pada lirik lagu Shakira di Piala Dunia 2010, di Afrika yang judulnya WAKA WAKA. Ini seriuss…

Seperti halnya Kartini yang menginspirasi banyak orang di Indonesia, Shakira ini rupa-rupanya mengilhami dua orang Belanda yaitu Om Camille Van Gestel dan Om Kim van der Leew. Nah, ceritanya Om Camille dan Om Kim ini lagi ada di event Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Mereka lagi bikin proyek pengurangan jejak karbon dari pencahayaan lampu LED. Sebagai informasi saja, tidak ada merkuri yang terlibat dalam pembuatan lampu LED. Jadi LED cukup bersahabat dengan ozon.

Kembali ke Om Camille dan Kim, nah mungkin pada saat pertandingan final Belanda lawan Spanyol mereka berdua mau poto selfie pas Iniesta barusan bikin gol. Pas lagi siap-siap moto…eeh tiba-tiba baterai smartphone nya habis. Trus Om Camille bilang ke Kim… “Syeetdaggh…Kim, kenapa kaga’ elo isi baterenya ? pan ane udh bilang…”. Nah si Om Kim nya ngotot ngga mau kalah “Lah, semalem pan mati listrik Mil…”
Ya kira-kira seperti itulah ya dialog mereka berdua, meski cerita riilnya bukan seperti itu. Tapi gapapa…mereka mah gitu orangnya…

image001
Figure 1 Camille dan Kim, sumber: digitaltrends.com

Namun menurut sumber yang saya kutip (digitaltrends) menyatakan bahwa di Afrika sana, orang beli handphone itu cuman satu, tapi beli baterainya bisa dua sampe tiga. Kenapa? Karena ternyata jarak antar desa disana jauh. Bahkan terkadang mereka rela naik motor untuk ambil baterai yang kosong tadi kemudian menuju desa terdekat hanya untuk mengisi ulang baterai tersebut. Seperti tipikal orang Belanda pada umumnya yang sangat peduli terhadap sesama, Om Camille dan Kim mikirin gimana caranya mengatasi hal ini. Super keren nggak tuh? Bisa bisanya mikirin kemaslahatan orang lain. Tapi jangan salah, dulu nenek moyang kita sempat dibantuin Belanda, untuk ngangkut hasil panen palawija di nusantara dan tidak tanggung-tanggung 350 tahun…care banget kan. Duluu…

Back to the project, pada awalnya, Camille dan Kim membuat lampu tenaga surya. Ide ini mereka tawarkan di ajang kickstarter project, yakni ajang untuk memperkenalkan beragam ide mulai art hingga journalism guna mendapatkan pendanaan. Tanpa disangka, total kucuran dana dari investor saat itu kurang lebih sebesar $ 232,000… hwuiiihh…duit semua itu. Padahal target funding goal mereka dari ide ini hanya sebesar $ 30,000.

image003
Figure 2 Desain Wakawaka, sumber: digitaltrends.com

Inovasi Wakawaka Solar Light and Charger karya dynamic duo Belanda ini memang dirancang sebagai sumber pencahayaan alternatif bagi mereka yang berada di negara berkembang atau miskin yang notabene sering menggunakan lampu minyak tanah. Kayak Negara kita maksudnya…

Lantas apa yang bikin ini lampu beda dari yang lain? Jawaban terletak pada sebuah Chip Surya yang mampu mendorong efisiensi sel surya. Pengguna harus meletakkannya dibawah terik sinar matahari untuk menambah daya. Chip itulah yang akan menangkap energi dari sinar matahari, kemudian menyimpannya dalam baterai. Hasilnya, kita bisa membaca buku dengan penerangan dari Wakawaka Solar Light and Charger ini selama ±16 jam…lebihnya lagi, karna saking gedenya energi yang disimpan, sampe-sampe alat ini bisa difungsikan sebagai powerbank…lebihnya lagi, namanya juga lebih…ini alat easy going amat alias mudah dibawa kemana-mana, ringan alias enteng, nggak seperti beban hidupmu…

Ini artinya, alat ini nggak butuh tempat khusus, less material, less size, less transport cost juga, but need a lot of smart thinking going into that.

image005
Figure 3 Wakawaka Personal Powerstation, Sumber; inhabitat.com

Dalam prosesnya, duet maut ini dibantu oleh Maurits Groen, salah seorang perwakilan dari Al Gore di Belanda. Sekarang Om Maurits menjadi Co-Founderd dan juga Vice President dari Wakawaka Fondation. Bayangkan, dari bikin alat kecil yang kesannya remeh temeh tapi bisa sampe kepikiran bikin yayasannya juga. Kenapa? Nama Wakawaka sendiri diambil dari Bahasa Afrika Selatan yang artinya kurang lebih sama dengan Shine Bright ato Bersinar Terang. Ditambah dengan moto Sharing the Sun, mereka berharap alat ini bisa membantu sesama yang membutuhkan cahaya penerangan, untuk belajar misalnya. Harapan ini yang kemudian diwujudkan oleh mereka. Wakawaka dikirim ke beberapa Negara yang masih miskin akan listrik dan cahaya lampu, Kenya salah satunya dan masih banyak Negara lainnya.

image006
Figure 4 Anak Flores – Photo by Andi Sucirta

Gimana dengan kita, Indonesia? Bisa nggak kita bikin alat yang lebih canggih dari Wakawaka made in Holland ini? Saya yakin, para pemuda Indonesia yang sedang berjuang menuntut ilmu di berbagai belahan Negara sana, tengah memulai semacam aksi bawah tanah untuk membuat Indonesia menjadi Negara yang hebat!

Elemen: Api

Referensi tulisan:

http://www.digitaltrends.com/cool-tech/kickstarter-in-depth-qa-wakawaka-solar-led-light/

http://inhabitat.com/waka-waka-lights-portable-solar-lamp-uses-the-suns-energy-to-charges-cell-phones/

artikel ini dipublikasikan dalam blog Kompasiana

http://teknologi.kompasiana.com/gadget/2015/04/23/inovasi-wakawaka-dari-belanda-713986.html