197. Belanda, Negeri Asal Aang

Penulis : Friska Silvia Limbong
Tema : Air
=========================================================================================================================================================

Empat tahun silam, ketika saya berjalan pulang setelah menuruni bis ke arah Padalarang, saya melihat gerombolan satpam yang sedang berkerumun. Penasaran dengan hal tersebut, saya pun turut mendatangi sumber kegaduhan itu. Dua orang asing tengah kebingungan ketika sedang berbicara dengan satpam-satpam penjaga di Kota Baru Parahyangan. Saya, dengan kemampuan bahasa inggris yang terbatas mencoba membantu mereka. Eva dan Charlotte, pelajar dari negeri kincir angin yang sedang menjelajah Indonesia. Mereka tersesat dan tak tahu akan bermalam dimana. Singkat cerita, keluarga kakak saya mengijinkan mereka tinggal sehari di rumah dan mengantar dua remaja putri itu keesokan harinya ke Bandung.

Ketika perjalanan menuju Bandung, Charlotte nampak kagum melihat bukit-bukit hijau yang kami lewati. Eva pun ikut melongo melihat pemandangan yang bagiku biasa-biasa saja disini. Kakakku bilang, di Belanda tidak ada bukit. Negeri mereka adalah negeri yang datar karena berada di bawah permukaan laut. Pikiran saya menjelajah, mencoba membayangkan negeri yang datar tanpa tanah bergelombang. Apa yang membuat mereka datang kemari?

Kedatangan Eva dan Charlotte menggelitik hati saya untuk mengetahui Belanda lebih jauh. Saya mulai mencari kamus bahasa belanda yang sempat dibeli kakak saya. Cover buku itu menunjukkan pemandangan yang biasa, kincir angin. Dari dulu, kincir angin sudah melekat di saraf-saraf otak saya seraya mengindikasikan Belanda. Bangunan, alat, simbol, magnet turis, penyokong ekonomi, semuanya bercampur aduk dalam benak saya saat melihat kincir angin khas Belanda. Betapa masyarakat orange sangat bergantung pada kincir angin.

image002

Sewaktu saya mengenyam pendidikan di bangku sekolah dasar, yang saya ketahui hanyalah kincir air yang digunakan sebagai generator penghasil energi. Seiring berjalannya waktu, demikian saya pun mengetahui bahwa kincir angin dapat menghasilkan energi listrik yang diubah dari energi mekanik. Yang jadi pertanyaan saya, mengapa di Indonesia tidak ada banyak kincir angin? Ternyata kecepatan angin di Indonesia dan Eropa itu berbeda, jelas teman saya yang mengenyam pendidikan di ITB. Di Eropa, kecepatan angin lebih tinggi dibandingkan Asia. Hal inilah yang dapat dimanfaatkan oleh bangsa Belanda sebagai penyokong energi di tanahnya. Saya mengasumsikan bahwa daratan yang berada di bawah laut memiliki kecepatan angin yang jauh lebih besar dibandingkan daratan yang tanahnya bergelombang. Hal ini menambah aspek kecepatan angin yang otomatis menambah sumber energi.

Saya teringat dengan souvenir sepatu khas belanda (klompen) bergambar kincir angin. Imajinasi saya menciptakan ruang yang penuh ketenangan hingga saya dapat merasakan angin yang bahkan tidak mampir ke sekujur tubuh saya. Ternyata, kincir angin sudah terpatri di kepala saya sebagai simbol pengingat negeri C.Theodor van Deventer itu. Kalau anginnya tidak kencang, mungkin hanya ada sedikit kincir angin di Belanda, dan kalau kincirnya hanya sedikit, mungkin kincir anginnya pun tidak akan terlalu dilirik oleh wisatawan. Belum lagi bunga tulip yang berserakan di sekitar kincir angin, yang nilai seninya akan bertambah ketika bunga-bunga itu bertabrakan dengan angin. Aaah, perasaan damai memang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Meskipun kincir angin bukan diciptakan di Belanda, tapi keberadaannya sangat membantu finansial masyarakat di negeri ini pada masanya. Kincir yang bersumber daya angin di negeri pembuat Vercade ini memiliki berbagai manfaat. Di masa silam, angin digunakan untuk mendorong air ke lautan agar terbentuk daratan baru (polder), juga sebagai drainase. Angin yang membawa awan ke tempat dingin untuk menjatuhkan bulir air hujan mengartikan bahwa anginlah yang mengantarkan air ke berbagai penjuru bumi. Hal ini dimanfaatkan negeri kincir angin untuk menyapu uap-uap di tanah mereka yang keberadaannya berada di bawah permukaan laut.

Di sektor usaha masyarakat, angin digunakan sebagai alat penggerak untuk keperluan industri seperti menggiling biji-bijian. Jika saja masyarakat tidak menggunakan angin sebagai penggerak energi yang mereka butuhkan, mungkin penggilingan biji-bijian akan berlangsung lama dan hasil yang diinginkan tidak optimal. Usaha akan terhambat sedangkan mereka harus memenuhi kebutuhan hidup. Dari hal ini, saya menarik simpulan bahwa memang anginlah yang berpengaruh besar pada kehidupan masyarakat Belanda sejak dahulu kala, baik dari kalangan bawah sampai kalangan atas. Pada aspek sosial, kincir angin menjadi alat komunikasi, misalnya pemilik kincir angin mengalami kerusakan pada alatnya atau jika salah satu anggota keluarga pemilik kincir angin tersebut meninggal dunia, maka sayap pada tiang-tiang kincir pun berubah mengikuti situasi dan keadaan saat itu.

Bayangkan jika tenaga angin ini dipakai untuk menjalankan moda transportasi umum di Indonesia? Ada berapa banyak barel minyak dan rupiah yang dihemat? Ada berapa banyak orang tua yang dapat menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang yang lebih tinggi? Sayangnya, hanya beberapa daerah Indonesia saja yang memiliki kekuatan angin yang dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik.
Keberadaan angin untuk membawa berbagai hal mengingatkan saya akan benih tumbuhan yang sering pula dibawa angin dari satu tempat ke tempat lain yang tidak terprediksi. Saya ingat ketika kakak saya berkata bahwa wangi bunga di Belanda itu semerbak, kau akan hirup aroma bunga dari jarak beberapa langkah kakimu. Belum lagi, angin memang membantu terjadinya penyerbukan bunga. Hal ini pula yang memeriahkan sektor pariwisata Belanda, sebut saja harmonisasi alam.

Sumber daya angin yang merupakan penghasil tenaga dikatakan ramah lingkungan karena pernahkan kita melihat kincir angin memproduksi polusi?

Ada kalanya angin membawa bencana bagi kehidupan manusia, namun negeri orange ini dapat memanfaatkan potensi yang ada di dalam negerinya. Yang lebih penting lagi, sumber daya ini berasal dari bumi, dimana tidak dibutuhkan banyak biaya untuk memperolehnya. Sumber daya ini adalah elemen alam yang selalu bergerak dan selalu dapat diperbaharui, suatu potensi yang menantang manusia untuk menciptakan penemuan baru agar keberadaannya menjadi lebih optimal. Mungkin sebagai peranti sinyal? Atau indikator penerbangan, manakala terjadi kecelakaan pesawat?

Angin, satu kata yang sering digunakan orang sebagai perumpaan hal yang tidak dapat dilihat, namun dapat dirasakan. Saya jadi teringat tokoh kartun yang mengendalikan empat elemen, Sang Avatar. Mungkin Aang pernah belajar mengendalikan angin di Belanda.

Sumber:
- http://travel.kompas.com/read/2011/10/03/16484441/twitter.com
- http://walentina.waluyanti.com/diverse/335-isyarat-kincir-angin