211. BUKAN SEMBARANG “CINCIN BATU”

Penulis : Rahmanuddin
Tema : Air
=========================================================================================================================================================

Zaman Batu ? ya… mungkin ini menjadi satu pernyataan yang tepat untuk keadaan saat ini, dimana-mana dibelahan negeri ini pada demam cincin batu, dari kalangan tua, muda hingga anak-anak. Ada yang rela mendaki gunung, mengarungi sungai, bahkan rela merogoh kocek jutaan rupiah demi batu yang ia senangi. Dan saking fenomenalnya, belum lama ini Kementerian Perindustrian pun mengadakan pameran batu yang bertajuk “Demam Batu” ! Luar biasa.

image001
“Berbagai macam jenis cincin batu”

Di daerah saya, di Kalimantan Selatan yang sejak dari dulu terkenal dengan batu mulia nya, batu intan dan pendulangan tradisionalnya juga tak kalah heboh, di komplek pertokoan Pasar Intan Martapura, tak jauh dari Taman Cahaya Bumi Selamat yang biasanya sudah sangat ramai, sekarang makin tambah ramai ! Setiap orang rela berdesakan demi cincin batu yang mereka cari, entah itu batu intan, akik, pirus, zamrud, ataupun yang sedang populer sekarang ini, red borneo.

Pada umumnya orang-orang yang gemar dan suka membeli cincin batu ini punya beberapa alasan, dari yang beralasan hanya sebagai perhiasan belaka hingga dengan alasan yang diluar nalar, seperti adanya anggapan jikalau cincin batu itu berisi kekuatan yang terkandung didalamnya, baik itu peruntungan nasib, perisai diri dan kekebalan tubuh. Benar tidaknya tentang kekuatan yang terkandung di balik cincin batu ini kiranya perlu pengkajian maupun penelitian secara khusus dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu.

image003
“Daan Roosegaarde”

Dibalik kemilau cincin batu dan besarnya perputaran uang di komplek pertokoan Pasar Intan Martapura, cobalah anda jalan-jalan dan melihat asala muasal batu mulia itu didapat, yaitu di desa Pumpung, Kecamatan Cempaka, disinilah terdapat pendulangan intan tradisional, banyak lubang-lubang galian bekas pendulangan tersebar, jalan yang dulunya rindang kini berganti dengan jalanan berdebu, belum lagi diperparah dengan truk pengangkut pasir dan koral yang lalu lalang silih berganti, barang tentu menyebabkan polusi udara dan pencemaran lingkungan. Ahh.. Miris !
Bicara mengenai cincin batu, tentang alasan orang membeli cincin batu itu, dari alasan biasa hingga sampai yang di luar nalar, Sebenarnya ada jenis cincin batu yang tak biasa, bukan sembarang cincin batu, cincin batu ini menjadi salah satu proyek untuk misi penyelamatan lingkungan. Hah..Apa bisa cincin batu menyelamatkan lingkungan ? Cincin batu jenis apakah ini ?

image009

Ya,.. Cincin “Batu Kabut Asap” namanya ! Diciptakan oleh desainer asal Belanda bernama Daan Roosegaarde. Cincin “Batu Kabut Asap” ini di desain dengan udara berpolusi di dalamnya serta di rancang khusus oleh para peneliti. Mereka menghisap udara kotor di kota Beijing (China) dengan alat canggih yang kemudian membuatnya menjadi batu cincin, dan dalam satu cincin yang dibuat berisi 1 kubik kilometer udara berpolusi, yang tentunya ini ikut mengurangi sedikit demi sedikit polusi udara di kota Beijing. Desain nya pun sangat unik dan bagus, dan membuat orang yang gemar mengoleksi cincin batu pun tidak hanya bisa menjadikan cincin batu sebagai perhiasan belaka. namun juga dapat ikut mendukung penyelamatan lingkungan ! Wow.. kebayang ngga kalau cincin batu ini dibuat di desa Pumpung ? dan dijual di komplek pertokoan Pasar Intan Martapura ?

Artikel ini Sudah Penulis publikasikan di blog pribadi :

http://www.tagantar.com/2015/04/bukan-sembarang-cincin-batu_23.html

Referensi :

http://www.tagantar.com/2012/04/kekuatan-dibalik-cincin-batu-dan-besi.html

http://thepalaceindonesia.blogspot.com/2014/06/aneh-tapi-nyata-polusi-udara-berubah.html

Sumber Foto :

https://bubuhanbanjar.wordpress.com/2010/10/29/pendulangan-intan-tradisional-di-kalimantan-selatan/

http://www.freundevonfreunden.com/workplaces/daan-roosegaarde/

http://yangseru.com/percayakah-kamu-bahwa-cincin-ini-terbuat-dari-polusi-udara.html