213. Belanda: Penakluk Air melalui Sistem Polder

Penulis : Ayu Apriliyanti
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

Belanda dan air layaknya satuan mata uang yang tidak bisa dipisahkan mengingat Belanda adalah negara yang proporsi airnya lebih tinggi dari daratan. Bahkan iklan televisi pemerintah Belanda yang dirilis pada musim semi 2008 memuat kampanye “ The Netherlands Lives with Water”. Banyaknya proporsi air tersebut membuat Belanda membangun sistem polder untuk mencegah ancaman banjir dan air pasang. Polder itu sendiri merupakan dataran rendah yang membentuk suatu daerah dengan tanggul yang mengelilingi disetiap dataran tersebut. Polder juga sering didefinisikan sebagai tanah yang direklamasi, reklamasi tanah tersebut bisa diterapkan di laut maupun muara sungai dengan mengalihkan air ke dalam tempat lain yang kemudian tanah yang telah direklamasi dijadikan suatu pemukiman. Namun, pada dasarnya sistem polder diciptakan Belanda sebagai salah satu sistem pengelolaan air yang juga menjadi inovasi penting Belanda dalam meminimalisir dampak buruk dari air pasang dan curah hujan yang tinggi. Pada abad ke-13 sekitar tahun 1300 Belanda membangun terpen untuk melindungi wilayahnya dari meningkatnya level air laut yang disebabkan oleh air pasang, angin, dan hujan deras. Maka untuk memastikan keamanannya kemudian tanggul-tanggul yang telah dikonstruksi dihubungkan dengan jalan raya untuk menghubungkan dengan terpen. Setelah itu, pada akhir abad ke-13 polder mulai dikembangkan dengan kincir angin untuk memompa air keluar agar air yang masuk dapat terkontrol dan mencegah terjadinya banjir. Kincir angin juga berfungsi untuk memompa air dengan level yang lebih tinggi ke dalam kanal-kanal yang membawa air laut melalui saluran-saluran. Polder adalah daerah tertutup dengan tanggul yang mengandalkan kerja pompa sebagai alat pengontrolnya. Sehingga daerah yang terletak dibawah permukaan laut seperti Belanda dapat terhindar dari ancaman banjir meskipun terjadi hujan yang sangat deras. Sebab, polder akan menahan proporsi air yang masuk untuk mengatur penyaluran air dalam mencegah potensi terjadinya banjir. Kesadaran pemerintah dan masyarakatnya terhadap ancaman banjir menjadikan Belanda melakukan upaya preventif yang sangat well-organized dan memunculkan ide-ide inovasi dalam pengelolaan air dengan sangat baik. Sehingga sistem polder dianggap sebagai cara yang paling tepat dalam memecahkan masalah banjir, begitu juga yang telah diterapkan oleh Belanda selama beratus-ratus tahun.

image001
Dutch landscape of polders (reclaimed land)
(Sumber: http://en.nai.nl/museum/exhibitions/online/item/_pid/kolom2-1/_rp_kolom2-1_elementId/1_148002)

Proyek polder sebenarnya menjadi kesuksesan Belanda seperti sejarah Belanda pada abad ke-16 sebagai pedagang adikuasa dan pembangun kerajaan di Asia, Afrika, dan Amerika. Proyek polder yang dijalankan pada tahun 1932 adalah pembangunan tanggul yang mengelilingi Zuider Zee, yaitu wilayah penting yang menjadi kekuatan North Sea. Tanggul diciptakan untuk memisahkan Zuider Zee dari North Sea dan menjadikannya sebagai danau air tawar. Kemudian danau tersebut dinamakan ‘Ijsselmeer’. Penggunaan nama Ijsselmeer disebabkan karena terhubung secara langsung dengan sungai Ijssel. Proyek polder tersebut pada kenyataannya mengizinkan kegiatan pengeringan 202.343 hektar untuk direklamasi yang digunakan sebagai pemukiman dan pertanian. Belanda semakin memperkuat sistem polder setelah bencana banjir besar menerjang pada bulan Februari tahun 1953 dan menenggelamkan hampir sebagian kawasan Belanda. Banjir tersebut telah ditetapkan sebagai bencana nasional dimana terdapat 1836 korban meninggal dan 200.000 hektar tanah tenggelam karena terendam banjir, bahkan sekitar 72.000 orang kehilangan tempat tinggalnya. Maka tak lama setelah bencana banjir, Belanda membuat rencana dan proyek besar dalam memperbaiki sistem polder pada tahun 1958 yang kemudian disetujui oleh parlemen Belanda dengan proyek ‘Delta Plan’. Delta Plan merupakan sistem polder dengan rangkaian atau deretan dam-dam yang menghubungkan pulau-pulau dan muara terdekat dari laut utara (North Sea) dimana perairan inti dipetakkan oleh dam-dam dekat pulau sehingga fungsi manajemen air dapat berjalan secara maksimal. Delta Plan menjadi inovasi perbaikan sistem polder yang menyajikan fungsi pengelolaan yang lebih baik dan menambah aksesibilitas area dari wilayah Randstad bagian selatan. Proyek Delta telah mengkonstruksi secara masif dam-dam laut, sistem tanggul dan jembatan, jaringan pintu air untuk akses kapal ke laut, serta kanal-kanal penting. Selain itu, Delta Plan tidak hanya meningkatkan tingkat atau proporsi keamanan negara dari ancaman banjir, khususnya bagian barat daya Belanda tetapi juga meningkatkan pertumbuhan ekonomi Belanda, terutama di Zeeland. Proyek perbaikan sistem polder tersebut telah menjadikan Belanda sebagai negara yang sangat profesional dalam menaklukkan air sebagai ‘sahabat’ sekaligus ‘musuh’ yang sewaktu-waktu menjadi ancaman bagi Belanda. Namun, semua inovasi yang diciptakan Belanda terorganisir dan berjalan dengan sangat apik bahkan telah memiliki dampak yang nyata pula dalam peningkatan perekonomian bagi negara penakluk air tesebut.

image003
Jalan Tanggul (dike road) yang memisahkan Zuider Zee dengan North Sea yang juga menghubungkan North Holland ke Friesland
(Sumber: buku “The Netherlands” oleh James F. Marran hal. 25)

Trauma masa lalu akan banjir menjadikan pemerintah dan masyarakat Belanda memiliki water consciousness (waterbewustzijn) yang dianggap sebagai salah satu pendukung kebijakan terkait air di Belanda. Water consciousness dibarengi dengan aksi dan tanggung jawab Belanda dalam mengantisipasi terjadinya banjir dengan memperkerjakan insinyur sipil dalam sebuah Directorate-General of Public and Water Management (Rijkswaterstaat). Rijkswaterstaat itu sendiri merupakan kesadaran yang dituangkan dalam kebijakan jangka pendek dan jangka panjang terhadap resiko serta tantangan banjir yang sewaktu-waktu dapat melanda Belanda. Slogan yang diusung oleh Rijkswaterstaat yakni “room for water” dimana dalam slogan tersebut sangat jelas terlihat bahwa kehidupan di Belanda sangat bersahabat dengan air, bahkan air sangat identik dengan landmark Belanda sebagai ‘negara yang mengapung diatas laut’. Oleh karena itu, sistem polder yang diterapkan di Belanda dari tahun ke tahun diperbaharui dengan teknologi baru mengingat ancaman perubahan iklim yang semakin meningkat akibat isu global warming. Fenomena tersebut tentunya semakin mendorong pemerintah Belanda untuk terus menerapkan sistem polder yang canggih agar pengelolaan air di Belanda semakin terkontrol dan well-done yang telah membawanya menjadi salah satu negara adikuasa di Eropa dengan sistem polder yang menjadi landmark-nya.
References
1. Amicis, Edmondo De. 1894. Holland. Philadelphia: Coates.
2. Besamusca Emmeline, Verheul Jaap. 2010. Discovering the Dutch on Culture and Society of the Netherlands. Amsterdam: Amsterdam University Press.
3. Ida, Diany. 2013. Best of Belanda. Jakarta: Gramedia Pustaka.
4. Marran, James F. 2004. The Netherlands. Philadelphia: Chelsea House Publishers.

=========================================================================================================================================================
Artikel 2
Penulis: Ayu Apriliyanti
Tema: Angin
Negeri Inovasi Seribu Kincir Angin

Negeri kecil nan cantik seperti Belanda telah menarik perhatian banyak orang, apalagi negara tersebut sangat identik dengan inovasi kincir angin yang sangat melekat dalam ciri khas Belanda. Bahkan beberapa kincir angin yang dimiliki Belanda telah dijadikan warisan budaya yang menyita banyak perhatian para wisatawan untuk datang. Pada abad ke-13, kincir angin memang difungsikan untuk sistem polder dalam memompa air keluar agar terhindar dari banjir serta untuk mengairi tanah, namun pada abad ke-17 fungsi kincir angin mengalami transformasi dalam sistem fungsinya yakni untuk aktivitas industri seperti produksi keju, tepung, klompen (sepatu khas Belanda), dan sebagainya. Sehingga tidak heran apabila jumlah kincir angin di Belanda begitu banyak serta bahkan bisa mencapai lebih dari seribu kincir angin, dan terdapat sekitar 1.195 kincir angin yang masih berfungsi hingga saat ini.

Kincir angin memang menjadi daya tarik utama bagi negeri Belanda. Bahkan motivasi utama mayoritas wisatawan yang berkunjung ke Belanda adalah untuk melihat kincir angin sebagai landmark penting negara tersebut. Terdapat dua tempat kincir angin yang telah dijadikan warisan budaya serta telah menjadi objek wisata paling terkenal di Belanda, yakni Kinderdijk (South Holland Province) dan Zaanse Schans (North Holland Province).

Kinderdijk yang terletak tak jauh dari jantung kota Rotterdam menyimpan sejarah penting kincir angin Belanda. Kinderdijk menjadi titik pertemuan antara dua sungai, yakni Sungai Lek dan Sungai Noord. Sehingga tidak heran apabila di Kinderdijk ini terdapat banyak kincir angin yang masih berdiri kokoh karena kincir angin tersebut berfungsi sebagai tanggul pengganti kanal untuk mengeringkan desa karena banjir yang terjadi pada tahun 1421. Kincir angin yang berjumlah sembilas belas di Kinderdijk tersebut dibangun pada tahun 1740, dan kini telah dijadikan warisan budaya oleh UNESCO yang menyedot banyak wisatawan dari seluruh penjuru dunia. Kinderdijk merupakan salah satu tempat yang memiliki keindahan sangat unik dengan kincir angin yang masih sangat terjaga dengan apik. Bahkan tidak jarang, Kinderdijk menjadi tujuan wisata di Belanda yang harus dikunjungi mengingat Kinderdijk sebagai landmark wisata pentinya negeri kincir angin tersebut.

image004
Kinderdijk Molen
(sumber: http://www.vikingrivercruises.com/cruise-destinations/europe/destinations/kinderdijk/about.html)

Selain Kinderdijk, kincir angin yang juga menjadi landmark penting Belanda yaitu Zaanse Schans. Zaanse Schanse merupakan tempat konservasi yang telah diperbaiki oleh pemerintah Belanda dan dijadikan sebagai museum terbuka. Tempat ini layaknya miniatur dengan ciri khas cat berwarna hijau dimana wisatawan atau pengunjung dapat menikmati kincir angin yang masih asli, rumah tradisional Belanda yang unik, serta pengrajin klompen dan penghasil keju menjadi daya tarik tersendiri yang disuguhkan oleh Zansee Schans, yang tidak dapat ditemukan ditempat lain atau bahkan negara lain. Pada dasarnya, kincir-kincir angin yang terdapat di Zansee Schans dibangun setelah tahun 1574 dimana terdapat 600 kincir angin yang dibangun ditempat tersebut. Pembuatan kincir angin di Zansee Schans memang difungsikan untuk kegiatan industri yang mengandalkan tenaga angin. Kegiatan industri di Zansee Schans pada masa itu sangatlah bermacam-macam mulai dari pembuatan keju, minyak, klompen, kertas, cat, dan sebagainya. Dan hingga saat ini, masih terdapat beberapa kincir angin yang masih berfungsi sehingga hal tersebut menjadikan Zansee Schans sebagai tempat wisata yang setiap tahunnya dapat mendatangkan wisatawan asing lebih dari 900.000.

image005
Zansee Schans Molen
(Sumber: http://www.tripadvisor.com.ph/LocationPhotoDirectLink-g188600-d194318-i56694891-Zaanse_Schans-Zaandam_North_Holland_Province.html)

References
1. Ida, Diany. 2013. Best of Belanda. Jakarta: Gramedia Pustaka.
2. Marran, James F. 2004. The Netherlands. Philadelphia: Chelsea House Publishers.
3. http://travel.kompas.com/read/2011/10/03/16484441/twitter.com