214. Konvensi Dunia VS Tanggul Pintar Belanda untuk Pemanasan Global. Mana yang lebih efektif?

Penulis : Lili Hennia
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

Ketika dunia dihadapi dengan dampak pemanasan global, negara-negara maju berbondong-bondong mencari solusi untuk memperbaiki keadaan bumi atau setidaknya menghambat proses global warming. Pemanasan global sendiri berarti meningkatnya suhu rata-rata pada lapisan atmosfer dan permukaan bumi yang disebabkan oleh banyak hal seperti efek rumah kaca,polusi,pembakaran sampah yang berlebihan dan lain-lain. Jika hal ini dibiarkan saja dapat mengakibatkan banyak masalah mulai dari naiknya permukaan air laut,perubahan iklim,menurunnya populasi hewan dan tumbuhan, dan masih banyak lagi dampak buruk yang disebabkan pemanasan global. Banyak cara yang telah dilakukan oleh negara-negara didunia seperti Protokol Kyoto yang telah ditanda tangani oleh 169 negara.

image002

Protokol ini mengharuskan negara-negara industri menurunkan emisi gas sebesar 5,2%. Namun, protokol ini hanya cenderung menekankan masalah emisi gas di sektor industri tanpa memperhatikan masalah lain di sektor kehutanan. Indonesia sendiri juga ikut terlibat dalam konvensi demi memerangi proses pemanasan global seperti Framework Convention On Climate Change pada tahun 1992 di Rio de Jenairo,Brazil. Sayangnya, hanya sedikit negara industri yang berhasil memenuhi permintaan konvensi itu. Selain Indonesia, Pemerintah inggris pun telah menekankan pentingnya untuk segera bertindak mengingat biaya yang diperlukan juga tidak sedikit seperti yang dikatakan oleh David Miliband yang menjabat sebagai sekretaris lingkungan Inggris, “Penting sekali untuk mengambil tindakan untuk mencegah perubahan cuaca lebih lanjut karena biaya ekonomi- belum lagi biaya manusia dan biaya lingkungan- akan jauh lebih berat dari biaya mitigasi.” Ujarnya. Banyak tindakan yang dilakukan namun hasilnya sampai sekarang belum terlihat. Masing-masing negara memiliki kepentingan sendiri dan itu yang menjadi penyebab utama kegagalan rencana mereka. Pemanasan global ini pun memicu ketakutan di negara-negara bertanah rendah salah satunya adalah Belanda. Namun ketakutan yang luar biasa bisa memicu ide-ide brilian. Ditengah perdebatan dan usaha negara-negara maju dan berkembang yang berusaha keras mencari jalan keluar untuk menangani efek pemanasan global dan terhindar dari dampak buruknya, Belanda justru sibuk mempersiapkan diri untuk pemanasan global. Negara yang diapit oleh jerman disebelah timur dan belgia dibagian selatan nya ini sekitar 50% tanahnya berada 1 meter dibawah permukaan laut yang jelas saja membuat belanda berpikir keras mencari cara untuk survive. Belanda yang dikenal sebagai penghasil keju terbaik didunia ini banyak menciptakan hal-hal baru yang berguna bagi kelangsungan hidup warganya. Ketika mereka dihadapkan dengan global warming, belanda tidak menjawabnya dengan usul mengadakan konvensi atau sebuah perjanjian antar negara, tapi dengan PENEMUAN BARU!

Yaitu sebuah TANGGUL!

Mungkin membuat tanggul terdengar biasa bagi belanda, tapi tanggul ini bukan tanggul yang seperti biasa. Dunia pun sudah tahu bahwa tanggul belanda mampu menahan volume air dengan baik bahkan Presiden Indonesia Joko Widodo bekerja sama dengan Pemerintah Belanda untuk proyek pembangunan tanggul laut raksasa (Giant sea wall) di Utara Jakarta . Hal ini menandakan bahwa belanda memang sudah menjadi “kiblat” untuk masalah pembangunan tanggul-tanggul raksasa. Negeri seribu tanggul ini telah menemukan solusi bagi kekhawatirannya. Pada tahun 2010, Jan Van Der Loos memenangkan Best Innovation dibidang manajemen air. Ia menciptakan sebuah sistem yang dinamakan eXtra Self Rising Water Barrier yang sebenarnya adalah tanggul pintar yang dapat menyesuaikan ketinggian air. Tanggul pintar ini sedang dikembangkan oleh Grontmij dan Van Dijk.

Penasaran bagaimana cara kerja dari tanggul pintar ini? Sebenarnya ide dari tanggul ini cukup sederhana yaitu memanfaatkan daya angkat air dan sifat permukaan air yang selalu rata. Perhatikan gambar dibawah ini:

image004

Tanggul ini berada didalam struktur beton. Ketika permukaan air naik, kelebihan air akan memasuki rongga didalam beton dan mengangkat benda atau elemen yang ada diatasnya dengan syarat elemen tersebut harus memiliki massa jenis lebih kecil daripada air sehingga ia bisa mengambang. Ketika air semakin meninggi, elemen-elemen tersebut akan naik satu-persatu hingga batas maksimum. Kebalikannya, jika air mulai menurun maka elemen-elemen tersebut pun ikut turun menyesuaikan dengan ketinggian air. Tanggul ini bekerja secara otomatis yang menjadi salah satu kelebihannya dan merupakan solusi berkelanjutan karena bisa digunakan secara permanen atau temporer. Dan juga dapat digunakan di area perumahan karena tidak membutuhkan area yang luas. Benar-benar simple dan bermanfaat bukan? Air mungkin jadi musuh bebuyutan belanda sejak dahulu, tapi kali ini belanda berhasil melawan air dengan air. Tanggul pintar ini menjadi tambahan koleksi tanggul milik Belanda. Negeri kincir angin ini mungkin tidak menonjol untuk urusan perjanjian antar negara mengenai pemanasan global namun penemuan yang Belanda hasilkan lebih berguna untuk warga belanda sendiri. Daripada sibuk mengajak ratusan negara untuk patuh kepada peraturan, kenapa tidak dimulai dari negeri sendiri?

Referensi

http://nasional.kompas.com/read/2015/03/28/19010091/Jokowi.Minta.Belanda.Lanjutkan.Perencanaan.Tanggul.Laut.Raksasa

http://www.grontmij.com/highlights/water-and-energy/Pages/Automatic-rising-water-barrier-eXtra.aspx

http://www.godsdirectcontact.or.id/news/news175/gv_37.htmo

http://www.mariamasihidup.blogspot.com/2014/08/kesepakatan-dunia-untuk-mengatasi.html

Gambar

https://kompetiblog2013.files.wordpress.com/2013/05/a3800-hollandmap_0001.jpg

http://www.grontmij.com/highlights/water-and-energy/Pages/Automatic-rising-water-barrier-eXtra.aspx