226. Pengelolaan Air di Belanda dari Masa ke Masa

Penulis : Arifanny Faizal
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

Angin bertiup kencang dan air mulai pasang di suatu malam pada tanggal 31 Januari 1953. Tidak ada yang menaruh curiga, karena situasi itu sebenarnya sudah menjadi hal yang biasa di Belanda. Memang hujan sering sekali terjadi di sana, rata-rata sebanyak 600 jam per tahun. Namun di luar dugaan, malam itu badai yang berasal dari Laut Utara berubah menjadi topan. Dalam beberapa jam saja air sudah merendam polder-polder hingga bendungan yang ada akhirnya jebol. Sebagian besar propinsi Zeeland, Brabant dan Belanda Selatan tergenang air. Sebanyak 1836 orang tercatat menjadi korban jiwa akibat peristiwa yang dikenal sebagai banjir laut utara itu.

image001
Sumber: drglintasbatas.wordpress.com

image002
Sumber: hendy-dwi-w.blog.ugm.ac.id

Belanda memang rawan dengan bencana banjir karena letak permukaannya yang rendah. Selain itu, curah hujannya pun cukup tinggi. Sementara di sekitarnya terdapat Laut Utara dan tiga sungai besar; Rijn, Waas, Maal yang selalu mengancam. Nieuwekerk, permukaan tanah terendah, saja, berada pada ketinggian 6.76 m di bawah permukaan laut. Sementara, permukaan tanah tertinggi adalah Vaalserberg yang berada pada ketinggian 321 m di atas permukaan laut. Bila dikalkulasikan, lebih dari setengah luas tanah Belanda berada di bawah permukaan laut.

Meskipun sudah melakukan berbagai pencegahan jauh sebelumnya, tentu Belanda tak ingin kejadian tahun 1953 ini terulang. Oleh karena itu, tiga minggu setelahnya Belanda merencanakan program yang dinamakan Delta Works. Tujuan utama Delta Works adalah melindungi wilayah tepian sungai Rhine-Meuse-Scheldt dari tingginya air laut. Adapun pilar dalam Delta Works di antaranya adalah Delta Program, Delta Law, Delta Fund, Delta Commissioner dan Delta Decision. Delta Works kemudian disebut-sebut sebagai satu dari tujuh keajaiban dunia oleh American Society of Civil Engineers.
Dibangun lah 13 bendungan raksasa sebagai pertahanan dari air laut. Di antaranya juga storm surge barriers—atau penghalang arus badai. Pembangunan bendungan sendiri menghabiskan waktu selama 30 tahun. Bahkan, di Oosterschelde, memakan waktu yang lebih lama, sekitar 57 tahun untuk membangun bendungan.

image004
Sumber: diplomatmagazine.nl

Sebagai contoh hasil Deltaworks adalah Rotterdam, kota yang memiliki pelabuhan terbesar di dunia, yang berhasil membangun pertahanan terhadap air laut. Bendungan yang ada di sana bekerja dengan sistem buka-tutup setiap kali air laut pasang ataupun surut.

Sementara itu, jauh sebelum terjadi banjir tahun 1953, Belanda sejak dulu memang terus bekerja keras untuk menemukan cara terbaik untuk mengatasi masalah yang ada terkait air. Di antara waktu itu tercipta pula inovasi-inovasi lainnya seperti instalasi pompa, kincir angin dan jembatan yang mendukung dan sinergi dengan Deltaworks.

Belanda memiliki lebih dari 3.000 instalasi pompa penyedot air. Instalasi tersebut dibutuhkan karena ada sebagian kawasan Belanda yang harus direklamasi. Kawasan yang sudah direklamasi itu lah yang kemudian disebut polder. Kawasan yang direklamasi nantinya memang akan menjadi kering, namun ketika air kembali pasang, maka polder itu akan tergenang air kembali. Oleh karena itu, kelebihan air di polder harus dipompa keluar oleh instalasi pompa penyedot air. Instalasi pompa penyedot air memompa air dari tempat yang rendah ke tempat yang lebih tinggi.

Inovasi selanjutnya adalah kincir angin. Meskipun bukan berasal dari Belanda, namun sejak abad ke -13 Belanda berhasil memanfaatkan kincir angin berkat potensi wilayahnya yang berangin. Sejak adanya kincir angin di Belanda, kincir angin digunakan untuk mengatasi banjir dan mengatur aliran air. Selain itu, kincir angin juga digunakan untuk penggilingan padi, peternakan, dan lain-lain. Beda halnya dengan sejak tahun 1973, setelah krisis energi yang sempat melanda dunia, dimana kincir angin mulai digunakan untuk mengakomodasi kebutuhan listrik masyarakat dengan prinsip konversi dari energi mekanik menjadi energi listrik.

Perkembangan kincir angin sebagai sumber pembangkit listrik pertama kali dikembangkan di Desa Kamperduin. Pakar energi angin, Chris Westra, pada awal tahun 1970-an mengembangkan sistem energi tenaga angin untuk memasok listrik bagi sekitar 27 ribu rumah tangga di sana.

image005
Sumber: nl.wikipedia.org

image006
Sumber: molendatabase.nl

image007
Sumber: nl.wikipedia.org

Bentuk-bentuk kincir angin yang ada pun beragam. Di antaranya ada yang berbentuk menara (Stellingmolen), menempel ke tanah (Grondzeiler) dan ada yang tertancap di bangunan lain (Wipmolen). Salah satunya adalah kincir angin besar di Marrum (Friesland) yang telah berdiri sejak tahun 1845. Kincir angin untuk polder ini masih tetap digunakan dan memindahkan air dari tempat yang lebih rendah ke tempat yang lebih tinggi. Kincir angin besar di Marrum (Friesland) ini tergolong cukup unik, karena sekarang hal ini kebanyakan dilakukan oleh instalasi pompa penyedot air yang modern.

image009
Sumber: archiholic99danoes.blogspot.com

image011
Sumber: sayangi.com

Jembatan di Belanda pun tak ketinggalan memiliki fungsi sebagai pertahanan diri dari air. Musa Bridge, misalnya, meskipun tingkat air sedang meningkat jembatan masih dapat digunakan seperti biasa. Perbedaannya hanya saja jembatan menjadi tidak begitu terlihat. Atau, justru seperti di Harderwijk, Belanda Timur. Jembatan berfungsi sebagai saluran air danau Valuwemeer. Di bawah jembatan itu kendaraan-kendaraan bisa berlalu-lalang seperti biasa dari dan menuju ke Flevoland.

Kemampuan Belanda dalam pengelolaan air menjadi inspirasi bagi negara-negara lain di seluruh dunia. Putera mahkota dan penerus tahta, Pangeran Willem Alexander, juga aktif di bidang ini. Sebagai ketua Dewan Penasehat Sekretaris Jendral Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk bidang Air dan Sanitasi ia memberikan kontribusinya dalam menyelesaikan masalah-masalah yang berhubungan dengan air di seluruh dunia. Dalam tahun-tahun mendatang, selain bidang ketahanan pangan dan hukum, Belanda juga ikut membantu dalam program kerja sama dengan Indonesia di bidang air. Di bidang ini Belanda akan memberikan bantuanya dalam pengelolaan air yang baik dan berkelanjutan di Indonesia. Kerja sama ini berfokus pada tiga tema utama, yaitu keamanan air, ketahanan pangan dan ekosistem serta air minum dan sanitasi. Adanya kerja sama di bidang air ini hendaknya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh Indonesia untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada. Misalnya saja, banjir yang setiap tahunnya terjadi di Jakarta.

Daftar Bacaan
Majalah “Hello Holland!”

http://id.wikipedia.org/wiki/Belanda

http://id.wikipedia.org/wiki/Polder

http://id.wikipedia.org/wiki/Turbin_angin

http://indonesia-in.nlembassy.org/organization/bagian-dalam-kedutaan/kerjasama-pembangunan%5B2%5D/air.html

http://www.tempo.co/read/news/2014/03/24/206564804/Kisah-Delta-Si-Penumpas-Banjir-Hadir-di-Pertemuan-Boediono

https://8inholland.wordpress.com/2008/11/04/kunjungan-ke-delta-works-wse-participants/

http://angelaolivia.weebly.com/sejarah-negara-belanda.html

http://subasita.blogspot.com/2013/04/netherlands-windmills.html

http://archiholic99danoes.blogspot.com/2012/06/desain-jembatan-musa-di-belanda-yang.html