227. Netherlands, potret kejayaan ilmu dan pengalaman di batas daratan.

Penulis : MUHAMAD DEDI MANFALUTHI
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

image001

Negara Belanda memang memiliki sejarah yang terikat dengan Negara kita tercinta. Seiring dengan perkembangan bangsa kita saat ini, kita juga tidak dapat menutup mata bahwa negara yang memiliki daratan yang sempit serta sebagian wilayahnya berada pada ketinggian di bawah permukaan laut ini juga merupakan negara yang berada di depan dalam mengelola sumber daya alam yang ada. Dengan segala keterbatasan justru negara kincir angin ini mampu menjadi referensi inovasi dan mampu berjaya di batas daratan yang dimilikinya. Tepatnya, potret kejayaan ilmu dan pengalaman di batas daratan.

Dua Batas wilayah yang langsung bersinggungan dengan Laut utara, merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi Belanda. Betapa tidak, dengan luas daratan yang tergolong sempit dengan dua perbatasan langsung yang terhubung dengan laut utara negara ini mampu menunjukkan kemajuannya akan hal kelola air laut kepada dua negara maju pada batas wilayah yang lainnya (Jerman dan Belgia). Oleh karena itu, hampir seperlima negara belanda merupakan hasil pengeringan laut yang dibendung sehingga dua perlima dari negara Belanda merupakan di bawah permukaan laut (depresi kontinental).

Berawal dari sebuah mimpi yang telah diajarkan oleh para pendahulu orang Belanda untuk berkarya di luar batas daratan, Mereka pertama membuat duinen (pematang raksasa). Meletakkan bukit pasir mengelilingi tanah yang rendah letaknya. Tanah yang disebut ‘Lage landen’ dari arah laut yang membentang dari negara Belgia sekarang sampai provinsi Groningen dan Frisland, di Belanda bagian Utara. Selain dari arah laut juga pinggir-sungai yang rendah letaknya. Kemudian dibuatlah bendungan-bendungan yang lambat laun menghasilkan tanah pasir -veenkleien- yang berada dalam lingkaran duinen yang sudah terputus hubungannya dengan laut (air pasang-surut), kemudian jadi mekar, lama-lama timbul daratan.

Daratan; tanah pasir yang sudah timbul, masih dimana-mana terpencar sisa kumpulan air dalam danau kecil, yang berbentuk telaga. Pengeringan tanah-tanah lagune yang dilakukan disebut ‘inpolderingproject’, proyek pengeringan dan perluasan daratan. Pengeringan tanah baru dari plassen tadi orang menggunakan kincir angin memompa air sampai kering, tanah pasir yang kering lama-lama mengeras dan daratan negeri Belanda makin bertambah luas. Dataran dari endapan telaga inilah yang kemudian menjadi wilayah provinsi baru hingga terjadi musibah pada 1 februari 1953, terjadi tragedi jebolnya tanggul setinggi 4,55 meter dan mengakibatkan sekitar 1800 korban jiwa. Namun peristiwa ini tidak lantas membuat Belanda terjebak dalam trauma berkepanjangan justru melahirkan gagasan yang tertunda yaitu pembangunan mega proyek bendungan yang disebut Delta Works.

DeltaWorks merupakan sebuah inovasi Belanda melawan bencana ini dibangun setelah banjir tahun 1953 tersebut, dan selesai pada tahun 1997, dibutuhkan waktu selama 44 tahun dan memakan biaya 8 miliar dolar untuk membangun bendungan yang diklaim mampu menahan badai besar yang hanya muncul sekali dalam 10.000 tahun, dengan tinggi 13 meter diatas permukaan laut. Struktur bangunannya dua kali lebih tinggi dibandingan bendungan New Orleans dan deltaworks memakan biaya perawatan 500 juta dollar tiap tahunnya.

Kita memang sangat mengenal akan kehebatan negara ini di bidang infrastruktur, banyak diantara kita melihat langsung dan mengakui akan hal tersebut bahwa banyak peninggalan sejarah Indonesia yang kualitas bangunan nya masih layak dibandingkan dengan bangunan zaman sekarang padahal bangunan peninggalan masa lalu tersebut telah cukup termakan usia lebih dari hitungan satu abad barangkali. Dari mulai rumah, pabrik, dan tentu yang tak kalah penting adalah bendungan yang masih terlihat struktur nya pada perkembangan zaman saat ini.

Infrastruktur dan bangunan khususunya bendungan orang Belanda memang terlihat luar biasa berdiri kokoh di daratan, namun akan lebih luar biasa lagi jika bangunan tersebut berdiri di atas perairan. Sungguh, Karya-karya hebat bendungan yang kini juga masih layak setelah termakan usia tepat jika dikatakan sebagai mimpi. Terlebih jika kita melihat pembentukan daratan yang terkenal di antaranya adalah lahan beemster yang tercatat dalam daftar pusaka dunia unesco karena pengeringan danau ini pada tahun 1612 adalah contoh yang mengagumkan bagaimana bangsa belanda “menciptakan” sebagian besar lahan kering di bagian utara, barat dan barat daya negara mereka. Belanda menemukan bentuknya yang sekarang karena campur tangan manusia dengan alam. Hal tersebut juga diperkuat dengan keberhasilan proyek Delta Works dikatakan sebagai mimpi (orang-orang pendahulu Belanda) seolah seperti hal yang menjadi nyata. Bendungan yang terbesar boleh berada di China namun yang tercanggih tetap berada di Belanda.

Dengan demikian dapat kita mengambil sebuah gagasan bahwa di Belanda dapat mengembangkan devisa negara nya melalui beberapa kota pelabuhan yang maju, mereka justru mampu menghasilkan pemikiran sebagai solusi pada tantangan daratannya yang sempit dan berbatasan dengan air laut. Padahal laut sendiri merupakan sumber alam yang begitu besar potensinya. Hal ini tentu mengingatkan kita akan nenek moyang kita yang juga seorang pelaut, kita juga dapat berjaya di lautan seperti yang diajarkan para pendahulu negeri ini.

Sumber tulisan:

http://edukasicenter.blogspot.com/2014/08/mengenal-negara-belanda-netherlands.html

https://www.facebook.com/notes/science-of-universe/air-ancaman-dan-sahabat-orang-di-belanda/10150216445500150

http://www.entoen.nu/beemster/id

http://indonesia-in.nlembassy.org/organization/bagian-dalam-kedutaan/kerjasama-pembangunan%5B2%5D/air.html

http://alharaz.blogspot.com/2012/05/belanda-sang-penjinak-air-laut.html

http://enosrudy-enru.blogspot.com/2012/05/delta-werken-inovasi-belanda-melawan.html