231. Menjinakkan Laut Belanda dan Proyek Raksasanya

Penulis : Annisa Yumna Ulfah
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

Sebetulnya, apa yang terkenal dari Belanda selain tulipnya? Tentu saja, dam dan pengeloaan airnya!

Dari namanya sendiri, Netherlands alias Belanda ini sudah mencerminkan identitas negaranya. ‘Nether’, dalam bahasa Inggris bisa diartikan sebagai adjektiva ‘lebih rendah’. Kurang lebih lima puluh persen tanah Belanda berada di bawah garis permukaan laut. Membahayakan para penduduknya, sementara mereka membutuhkan ruang untuk hidup, bertahan, dan (dahulu) bercocok tanam.
Sejak dahulu kala, orang-orang Belanda sudah bertarung dan mencoba berbagai cara untuk bertahan dari serangan banjir. Tidak satu kali badai besar menerjang negara tersebut dan menewaskan banyak orang dan merusak berbagai fasilitas milik warga. Berabad-abad lamanya mereka melakukan inovasi untuk melawan kerasnya alam terutama dalam elemen air, hingga mereka bisa melakukan sebuah terobosan besar yang pada akhirnya disebut sebagai ‘tujuh keajaiban dunia’-nya era milenia modern: mengubah laut menjadi danau!

Bagaimana bisa?

Di Belanda, ada sebuah teluk dangkal di Laut Utara dengan kedalaman sekitar empat sampai lima meter, dan garis pantai sekitar tiga ratus kilometer. Teluk itu disebut dengan Zuiderzee, atau secara literal artinya adalah ‘Southern Sea’.

image001
Laut yang sebenarnya ‘teluk’, Zuiderzee
(sumber: wikipedia)

Pada tahun 1421, tembok di Zuiderzee roboh karena badai yang membanjiri 72 desa dan bahkan menelan lebih kurang 10.000 korban jiwa. Peristiwa ini disebut dengan Banjir St. Elizabeth, karena terjadi tepat satu hari sebelum hari perayaan untuk tokoh suci ini. Ini bukan yang pertama kali, teman, karena sekitar dua abad sebelumnya, tahun 1287, banjir juga pernah terjadi di area tersebut dan mengakibatkan tewasnya penduduk dengan jumlah lima kali lipat dari bencana tahun 1421.

image003
Lukisan banjir St. Elizabeth tahun 1421
(sumber: wikipedia)

Pada abad ke-17, dicanangkanlah program pertama untuk mengatasi banjir. Sayangnya, teknologi untuk menunjang rencana tersebut baru ditemukan di abad ke-19.
Tahun 1913, Kementrian Transportasi dan Pekerjaan Umum Belanda dipimpin oleh seorang sarjana teknik sipil Belanda bernama Cornelis Lely. Beliaulah yang menginisiasi rencana untuk membangun sebuah dam untuk menutup Zuiderzee dan mengubahnya menjadi danau.

image005
Cornelis Lely, sang penggagas
(sumber: wikipedia)

Walau terdengar begitu luar biasa dan seolah menjadi salah satu solusi terhebat dalam inovasi penanggulangan banjir yang pernah dilakukan Belanda, tapi, Kawan, tidak semudah itu, tentu saja. Rencana Lely baru disetujui pada tahun 1918, dan proyek penutupan Zuiderzee baru selesai pada tahun 1932. Nama Zuiderzee pun diganti menjadi IJsselmeer. Statusnya juga sudah resmi berubah menjadi ‘danau’. Proyek ini selesai lebih cepat dua tahun dari perkiraan. Salah satu bagian terpenting dari IJsselmeer ini adalah Afsluitdijk, (Enclosure Dam), yang merupakan sebuah jalan utama yang membagi Ijsselmeer dan Laut Wadden (bagian dari Laut Utara).

image007
Afsluitdijk, dengan Laut Wadden di kiri dan Ijsselmeer di kanan
(sumber: wikipedia)

Tapi ternyata, pada tahun 1953, terjadi lagi sebuah banjir besar hingga area seluas 150.000 hektar tergenang dan korban jiwa menyentuh angka 2.000. Ini sudah cukup menjadi pukulan besar untuk Belanda. Oleh karena itu, dibuatlah sebuah proyek raksasa jangka panjang yang disebut dengan Proyek Delta.

image009
Peta Proyek Delta (ditandai dengan garis biru)
(sumber: wikipedia)

Yup, bukan mudah untuk mewujudkan proyek besar demi keselamatan seluruh penduduk dari terjangan air bah. Setelah ditotal-total, pengerjaan proyek ini memakan waktu selama 50 tahun dan menghabiskan dana 7 miliar USD (data tahun 1997). Meski dinyatakan selesai di tahun 1997, sebenarnya proyek ini baru benar-benar selesai di tanggal 24 Agustus 2010, ditandai dengan dibukanya secara resmi dinding bendungan di sekitar kota Harlingen.

Total ada empat belas subproyek Delta, yang dimulai sejak dekade 50-an hingga terakhir di 1997. Berikut rincian proyek tersebut:

image009

Proyek terbesar dari serangkaian dam tersebut adalah Oosterscheldekering. Awalnya, tanggul banjir ini didesain sebagai sebuah bendungan tertutup. Namun publik mengajukan protes, karena jika hal tersebut dilakukan, maka akan terjadi kerusakan lingkungan yang besar, misalnya hilangnya ekosistem air asin dan ujung-ujungnya akan merugikan usaha pemanenan kerang. Akhirnya, di Oosterschelde yang berukuran panjang sembilan kilometer ini pun dibuatkan bagian ‘gerbang’nya, yang mengambil bagian empat kilometer dari total panjang proyeknya. Gerbang ini biasanya terbuka, namun bisa ditutup ketika cuaca tidak bersahabat. Dengan ini, ekosistem air asin masih tetap terjaga, serta daratan di belakangnya tetap aman dari serbuan badai.

image010
Salah satu bagian dari Oosterscheldekering yang bisa dibuka-tutup
(sumber: wikipedia)

image012
Tampak atas Oosterscheldekering
(sumber: wikipedia)

A tiny-weeny-yet-surprising fact: bahan yang menyusun Proyek Delta bisa tahan sampai dua ratus tahun! Dan bersama dengan Proyek Zuiderzee, proyek ini mampu meraih gelar ‘7 Keajaiban Dunia Modern’ dari American Society of Civil Engineers.

Tunggu dulu, Kawan. 2010 memang tahun kompletnya rangkaian proyek pembangunan dam dan tanggul banjir, tetapi perjuangan tidak berakhir sampai di sana. Ini adalah sebuah pertarungan jangka panjang dengan alam, terutama dengan naiknya ketinggian permukaan laut akibat perubahan iklim. Jerry van Eyck, founder !melk (sebuah perusahaan yang bekerja di bidang arsitektur dan tatakota), mengatakan bahwa dunia mungkin melihat Belanda sebagai ahli yang luar biasa dalam manajemen perairan, namun sesungguhnya “tidak ada solusi untuk perubahan iklim”, yang ada hanyalah kombinasi dari perekayasaan proteksi, baik yang rumit maupun sederhana.

Proyek Delta bukan sebuah kesimpulan akhir, namun ini adalah gerbang inovasi mutakhir yang membantu Belanda untuk terus berkembang.
Air bisa menjadi kawan, bisa menjadi lawan. Belanda telah mampu menjinakkan; sekarang giliran kita sebagai kawan untuk memberikan bantuan: perlambat laju perubahan iklim! Go green dan kurangi emisi gas ya, guys, supaya suhu bumi tidak terus naik dan menyebabkan banjir yang lebih besar di berbagai belahan dunia. Salam!

Sumber:
http://www.softschools.com/facts/wonders_of_the_world/delta_works_zuiderzee_works_facts/136/ (diakses pada tanggal 20 April 2015 pukul 19.20)
http://www.iamgreek.nl/in-the-netherlands/2013/05/20/the-zuiderzee-works,-building-the-7th-wonder-of-the-modern-world/ (diakses pada tanggal 20 April 2015 pukul 19.20)
http://dirt.asla.org/2010/09/10/the-netherlands-changing-relationship-with-water/ (diakses pada tanggal 20 April 2015 pukul 19.33)
http://en.wikipedia.org/wiki/Zuiderzee (diakses pada tanggal 20 April 2015 pukul 19.40)
http://www.britannica.com/EBchecked/topic/1485002/Zuiderzee-floods (diakses pada tanggal 20 April 2015 pukul 19.53)
http://www.unmuseum.org/7wonders/zunderzee.htm (diakses pada tanggal 20 April 2015 pukul 19.53)
http://en.wikipedia.org/wiki/Cornelis_Lely (diakses pada tanggal 20 April 2015 pukul 19.58)
http://en.wikipedia.org/wiki/Zuiderzee_Works (diakses pada tanggal 20 April 2015 pukul 20.04)
http://en.wikipedia.org/wiki/Afsluitdijk (diakses pada tanggal 20 April 2015 pukul 20.06)
http://en.wikipedia.org/wiki/Delta_Works (diakses pada tanggal 20 April 2015 pukul 20.12)
http://en.wikipedia.org/wiki/Oosterscheldekering (diakses pada tanggal 21 April 2015 pukul 06.04)
http://melk-nyc.com/en/about/firm_profile/ (diakses pada tanggal 21 April 2015 pukul 06.29)
http://en.wikipedia.org/wiki/St._Elizabeth%27s_flood_%281421%29 (diakses pada tanggal 21 April 2015 pukul 07.49)