235. Pengelolaan Biomassa di Belanda

Penulis : Ahmad Satria Budiman
Tema : Earth
=========================================================================================================================================================

“Every disadvantage has an advantage.” (Johan Cruijff)

Belanda adalah negara kecil di sebelah barat benua Eropa, berbatasan dengan Jerman dan Belgia. Luas wilayahnya hampir sama dengan Provinsi Sumatera Barat. Jika dibandingkan secara geografis dengan Indonesia, negara ini tidak memiliki cadangan minyak bumi dan batu bara. Namun seperti apa yang diungkapkan oleh Johan Cruijff, pesepak bola terkenal asal Belanda, hal ini tidak menjadi kendala yang berarti. Di balik setiap kekurangan, tersembunyi suatu kelebihan. Dan hal ini ditunjukkan oleh negara yang beribukota Amsterdam ini dengan inovasi di bidang energi dan terbarukan, khususnya di sektor biomassa.

Sebagai pengantar, Belanda memiliki visi di tahun 2050 untuk punya suplai energi secara mandiri. Visi ini sangat berani dan membutuhkan jalan panjang untuk mewujudkannya. Salah satunya adalah dengan target 40% energi listrik yang berasal dari sumber energi terbarukan, seperti tenaga surya, angin, dan biomassa. Untuk tenaga surya, Belanda melakukan inovasi dengan aplikasi sel surya (organic photovoltaics) yang dapat mengubah energi matahari menjadi energi listrik. Lalu untuk tenaga angin, Belanda membuktikan diri dengan mendirikan kincir angin (wind mills) untuk mengkonversi energi gerak menjadi energi listrik. Sementara biomassa, negara yang dua pertiga wilayah daratannya berada di bawah permukaan laut ini memperolehnya dari bahan-bahan sisa hasil pertanian dan sampah dari lingkungan perkotaan.

image001
Gambar 1. Sampah Organik yang Dimanfaatkan sebagai Biomassa
Sumber: http://www.hollandtrade.com/sector-information/energy/?bstnum=4913

Adalah Terneuzen, kota yang terletak di Provinsi Zeeland, Belanda. Di sini, terdapat lahan pertanian seluas 6.000 hektar yang ditanami berbagai macam sayuran, seperti kacang polong, buncis, dan wortel. Saat tiba musim panen dan usai proses penuaian, lahan ini menyisakan kurang lebih 10.000 ton limbah pertanian. Potensi ini dimanfaatkan oleh EcoFuels, sebuah perusahaan industri biokimia, untuk memproduksi energi terbarukan berbasis biomassa. Saham yang dimiliki perusahaan ini merupakan gabungan dari Laarakker (perusahaan sayuran) dan Indaver (perusahaan pengolah sampah). Dalam perjalanannya, kini EcoFuels juga melibatkan sampah perkotaan. Sejak didirikan tahun 2006 hingga saat ini, kapasitas produksinya sudah mencapai 130.000 ton bahan baku per tahun atau mengolah limbah maksimal 400 ton per hari.

Secara garis besar, proses pengolahan limbah organik menjadi energi biomassa dilakukan melalui tiga tahap. Pertama, fermentasi yang mengubah limbah menjadi gas metana (CH4) dan karbon dioksida cair (CO2 liquid) dimana limbah yang tersisa masuk ke proses selanjutnya dalam bentuk lumpur. Kedua, purifikasi-sedimentasi yang bertujuan untuk memisahkan lumpur menjadi fraksi padat dan cair dimana hasil padatan akan diolah jadi pupuk kompos dan hasil cairan akan didaur ulang agar dapat digunakan kembali untuk kebutuhan masyarakat. Dan ketiga, sisanya akan diproses gasifikasi untuk menjadi gas hijau atau yang biasa dikenal dengan sebutan biogas. Dari serangkaian tahapan ini, telah dihasilkan produk sebagai berikut:
• Gas hijau dengan kapasitas 2,3 juta meter kubik per tahun yang digunakan kurang lebih oleh 1.600 rumah tangga untuk keperluan memasak, mandi, dan sebagainya.
• CO2 hijau dengan kapasitas 2.500 ton per tahun yang menurut penelitian dapat mengimbangi emisi karbon dioksida sejauh 13.000 km perjalanan.
• Energi hijau dengan kapasitas 19,5 juta kWh per tahun yang digunakan untuk mengalirkan energi listrik ke 6.500 rumah.
• Pupuk kompos untuk pertanian dan air daur ulang untuk irigasi.

image009 (2)
Gambar 2. Proses Pengolahan Limbah Organik Menjadi Energi Biomassa
(dari kiri ke kanan: Fermentasi, Purifikasi-Sedimentasi, Gasifikasi)
Sumber: http://www.ecofuels.nl/

Selain EcoFuels, di Terneuzen terdapat sebuah tempat yang menggabungkan beberapa instalasi pabrik yang dimiliki sejumlah perusahaan dengan prinsip dasar biomassa, yaitu Biopark Terneuzen. Tempat ini didirikan tahun 2007 dan dibangun sebagai bentuk inovasi yang menggabungkan unsur bisnis dan energi, artinya bahan-bahan yang menjadi input dan output tersedia di lokasi yang tidak berjauhan sehingga proses yang berlangsung dapat berjalan dengan lebih efisien. Pada gambar 3 yang di atas, terlihat konsep dari Biopark ini. Garis merah adalah alur proses pengolahan biomassa, kuning adalah aliran suplai listrik, ungu adalah aliran suplai air, hijau adalah aliran suplai panas, biru adalah aliran suplai karbon dioksida, oranye adalah aliran bahan sisa, dan garis hitam adalah aliran uap.

image009

image010
Gambar 3. Konsep dari Biopark di Terneuzen, Zeeland, Belanda
Sumber: http://www.bioparkterneuzen.com/en/biopark.htm &

http://www.openpr.com/news/45383/Biopark-Terneuzen-A-Smart-Link-to-a-Sustainable-Future.html

Energy research Centre of the Netherlands (ECN) adalah lembaga penelitian energi di Belanda. ECN memiliki enam bidang penelitian energi yang terdiri dari energi matahari, angin, biomassa, efisiensi energi, evaluasi lingkungan, material instalasi, dan studi kebijakan. Dalam hal biomassa, ECN memandang sektor ini sebagai bahan bakar masa depan. Hal ini ditunjukkan ECN dengan meraih hak paten terhadap teknologi gasifikasi MILENA setelah melakukan penelitian dan pengembangan selama 12 tahun. Paten ini sekaligus menunjukkan bahwa Belanda siap menjadi pionir dalam teknologi gas hijau dari biomassa. Pada prinsipnya, MILENA mengkonversi biomassa menjadi gas dengan efisiensi tinggi. Gas yang dihasilkan dapat menggerakkan mesin turbin pembangkit listrik. Inovasi yang dilakukan adalah mengubah sejumlah alur proses gasifikasi pada umumnya supaya dapat lebih optimal dalam hal gas yang dihasilkan. Belanda memang menyumbang 30% cadangan gas alam di Eropa, namun hal ini tidak membuatnya puas diri, justru Belanda tetap berinovasi agar dapat memproduksi gas hijau tanpa mengambil langsung dari alam. Belanda menyadari betul bahwa gas alam adalah sama dengan minyak bumi dan batu bara, suatu saat nanti jumlahnya akan habis.

image012
Gambar 4. Skema dari Teknologi Gasifikasi MILENA
Sumber: http://www.milenatechnology.com/

Setidaknya, ada dua kunci sukses yang dimiliki Belanda dalam mengelola potensi energi terbarukan berbasis biomassa ini, yaitu inovasi dan kerja sama. Budaya masyarakat Belanda yang terbuka akan ilmu pengetahuan membuat rasa ingin tahu mereka bisa terjawab dengan pemahaman yang komprehensif (mencakup banyak hal, tidak setengah-setengah). Selain itu, kerja sama antar pihak terkait, seperti akademisi, pemerintah, dan pelaku usaha baik negeri maupun swasta, juga ikut mendukung inovasi-inovasi yang dilakukan. Bahkan, pemerintah Belanda mengalokasikan dana hingga 1,4 miliar Euro untuk mencapai visi energinya di tahun 2050. Nah, bagaimana dengan Indonesia?

Referensi:
Made in Holland Agri-Food (published by Netherlands Enterprise Agency, on behalf of the Ministry of Foreign Affairs, Spring 2014)
Made in Holland Energy (published by Netherlands Enterprise Agency, on behalf of the Ministry of Foreign Affairs, Spring 2014)
http://www.bioparkterneuzen.com/en/biopark.htm (diakses tanggal 23 April 2015)
http://www.ecofuels.nl/index.php (diakses tanggal 23 April 2015)
http://www.hollandtrade.com/sector-information/energy/ (diakses tanggal 23 April 2015)
http://www.milenatechnology.com/ (diakses tanggal 23 April 2015)
https://www.ecn.nl/about-ecn/ (diakses tanggal 23 April 2015)