244. Menilik Water Management di Belanda dari dulu hingga kini

Penulis : Alamsyah Rizki Isroi
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

Belanda, sebuah negara yang terletak di daerah delta dengan 4 buah sungai utama Eropa bermuara di sana. Menurut Rob van der Veeren (2011), luas total Negara Belanda sekitar 41.000 km2 dengan rincian:
• 17% wilayah air
• 58% agrikultur
• 14% daerah perkotaan
• 11% wilayah alam dan pepohonan

Sekitar 30 % wilayah Belanda tersebut berada di bawah permukaan laut, yang berarti berakibat pada kemungkinan 50% tanahnya akan sangat mudah terkena banjir baik itu dari air laut maupun luapan air sungai. Ditambah lagi dengan adanya fakta bahwa konsentrasi kepadatan penduduk yang ternyata justru terpusat di daerah-daerah yang berada di bawah permukaan laut tadi, yaitu di bagian sebelah barat Belanda.

image002
Gambar 1. Peta jenis tanah dari Negara Belanda (Arnold et al., 2011)

Bahkan di bagian utara dari Rotterdam, ketinggian tanahnya justru berada 6,7 meter di bawah permukaan laut (Van de Ven, 2003). Meskipun begitu, berdasarkan penuturan majalah ACCESS Spring (2013) fakta lain juga menunjukkan kalau sekitar 75% dari Gross National Product (GNP) Belanda dihasilkan dari wilayah-wilayah yang ketinggian tanahnya berada di bawah laut. Sementara itu, sejarah juga menorehkan kisah bahwa daerah-daerah yang berada di bawah permukaan laut tersebut merupakan hasil proses reklamasi dengan mengeringkan lautan dangkal ataupun dari pengeringan danau yang ada di daratan (Kranenburg, 2001).

image004
Gambar 2. Contoh tanggul yang dibangun di Belanda untuk mencegah air laut meluap ke daratan, foto oleh Karel Tomei (ACCESS Spring, 2013)

Pembangunan tanggul menjadi faktor penting dalam mengatasi masalah lokasi yang berada di bawah permukaan laut, dan keberadaan tanggul di Belanda telah dimulai hampir 2000 tahun yang lalu yang diperkirakan merupakan inisiasi bangsa Romawi (Van Steen & Pellenbarg, 2004). Tanggul-tanggul dibangun dalam upaya melindungi daratan terbanjiri oleh air, sedangkan pada waktu tersebut diperkirakan ketinggian permukaan air laut masih sekitar 1,5 meter lebih rendah daripada yang terjadi sekarang. Sementara itu, komunitas lokal di Belanda mulai membangun tanggul-tanggul baru sekitar abad ke 11 hingga 12 untuk mencegah banjir dari laut maupun sungai (Kuks, S., 2002).

Lantas apakah usaha pembangunan tanggul-tanggul itu sudah cukup untuk mengamankan Belanda dari “serangan” air?

Nyatanya tidak, tercatat banjir tahunan sempat terjadi beberapa abad, bahkan yang paling parah yaitu ketika banjir bandang St. Elizabeth merenggut nyawa sekitar 10 ribu jiwa pada tahun 1421 (Rob van der Veeren, 2011). Ditambah lagi salah satu bencana besar lainnya yaitu banjir Laut Utara (North Sea flood) yang terjadi pada Februari 1953. Banjir tersebut tak hanya dialami oleh Belanda, namun juga Inggris dan Belgia yang mengalami hal serupa dengan total korban meninggal dunia mencapai 2.167 orang, dimana 1.835 diantaranya berasal dari Belanda. Bencana tersebut telah memberi pengaruh besar bagi Belanda dalam pengelolaan airnya untuk mencegah bencana serupa terulang kembali (Deltawerken, 2009).

image006
Gambar 3. Banjir Laut Utara tahun 1953 (Deltawerken, 2009)

Beberapa konsekuensi yang harus ditanggung Belanda akibat banjir tersebut antara lain 1.835 orang meninggal dunia, 200.000 ternak tenggelam, 200.000 hektar lahan pertanian terendam, 3.000 rumah dan 300 peternakan rusak berat, 40.000 rumah dan 3.000 peternakan rusak ringan, 72.000 orang dievakuasi, dll.

image008
Gambar 4. Salah satu sisa bangunan yang menjadi saksi bisu ganasnya banjir Laut Utara tahun 1953 (Deltawerken, 2009)

Meskipun begitu, Belanda tak pantang menyerah dengan mengembangkan upaya yang telah dilakukan sebelumnya yaitu pembangunan tanggul-tanggul serta pengelolaan yang lebih canggih. Tanggul yang sudah ada kemudian ditinggikan, material pembuatan tanggul digunakan batuan basalt, penambahan bendungan yang lebih kokoh serta dibuat sistem irigasi yang lebih terintegrasi. Irigasi dibuat sedemikian rupa untuk mengairi pertanian, untuk meminimalisasi biaya pembangunan tersebut pemerintah yang ada saat itu menerapkan pajak kepada para petani yang memanfaatkan penggunaan air irigasi.

image010
Gambar 5. Proyek-proyek pembangunan tanggul, bendungan, dan sistem irigasi maupun kanal usai bencana banjir Laut Utara 1953 (Deltawerken, 2009)

Beberapa upaya lainnya yaitu dengan mengeringkan danau serta kolam-kolam yang ada, kemudian ditambahkan briket yang diekstraksi agar usaha reklamasi tersebut bisa lebih cepat. Proyek reklamasi yang terakhir yaitu Haarlemmermeer dilakukan sekitar tahun 1850-an (Arnold et al., 2011). Semenjak saat itu, pembangunan pompa pengering terus dikembangkan untuk mengeringkan danau besar tersebut.

image012
Gambar 6. Pengelolaan tanah hasil dari pengeringan danau (Arnold et al., 2011)

Pada awalnya teknologi yang digunakan untuk memompa air agar danau dapat dikeringkan adalah kincir bertenaga angin. Sampai saat ini pun pompa-pompa bertenaga angina atau biasa disebut kincir angina tersebut masih cukup banyak dipakai. Maka tak heran bila kita sering mendengar Negara Belanda dengan sebutan Negara Kincir Angin, ya karena hal itu tadi.

image014
Gambar 7. Kincir angin yang memompa air agar danau dapat dikeringkan dan menjaga Belanda dari banjir (Deltawerken, 2009)

Tak cukup sampai di situ, mereka terus berekspansi untuk menambah wilayah daratan dengan mengadakan proyek reklamasi pantai. Konsepnya hampir sama dengan reklamasi pantai pada umumnya, namun dalam kasus ini reklamasi dilakukan dengan cara membuat tanggul-tanggul saat terjadi surut, kemudian menjaga daerah yang sebelumnya terendam air laut melalui tanggul-tanggul tersebut. Pembuatan tanggul langsung disertai dengan pembuatan kanal sehingga air laut yang sudah dibendung tidak langsung kembali merendam bibir pantai tadi.

image016
Gambar 8. Ilustrasi proses reklamasi tanah di Belanda (Arnold et al., 2011)

Air yang mengalir di kanal selanjutnya dipompa oleh masing-masing stasiun pompa besar untuk dialirkan ke laut, sedangkan beberapa debit lainnya dialirkan ke daerah pengairan yang juga dimanfaatkan untuk agrikultur.

image018
Gambar 9. Daerah agrikultur atau “polder outlet”, foto oleh Karel Tomei (ACCESS Spring, 2013)

Selain dimanfaatkan untuk irigasi pertanian atau agrikultur, kanal-kanal yang dibangun juga dimanfaatkan untuk sarana transportasi. Bahkan tak sekedar transportasi tetapi juga berfungsi sebagai rekreasi wisata sekaligus mengenal sejarah negeri Belanda karena rute-rute yang dilalui akan melewati berbagai bangunan tua dengan penuh makna.

image020
Gambar 10. Transportasi air di Belanda sebagai wisata bersejarah (ACCESS Spring, 2013)

Di beberapa provinsi sampai-sampai lalu lintas transportasi air sangat diperhatikan, hal yang tidak kita temui di Indonesia. Hal unik ini dapat kita perhatikan pada gambar berikut:

image022
Gambar 11. Persimpangan jalur transportasi air di IJsselkop, dilihat dari sebelah selatan. Perahu mendekat dari Ijssel (Arnold et al., 2011)

Jika kita ringkas keseluruhan perkembangan inovasi Belanda dalam mengelola airnya, mulai dari pembangunan parit/selokan, tanggul untuk mencegah banjir, bendungan dan pintu air, penggunaan pompa air dari kincir angin, hingga pompa bermesin uap, ditunjukkan oleh ilustrasi berikut ini:

image024
Gambar 12. Perkembangan inovasi Belanda dalam pengelolaan air dan tanah (Arnold et al., 2011)

Referensi:
1. Arnold, G., N. Kielen, H. Bos, F. van Luijn, R. Doef and R. Goud (eds). 2011. Water Management in the Netherlands, Ministry of Transport, Public Works and Water Management, Rijkswaterstaat, Centre for Water Management. Netherlands
2. Deltawerken. 2009. Water Nature People Technology. www.deltaworks.org
3. Kuks, Stefan. 2002. The Evolution of the National Water Regime in the Netherlands. University of Twente (UT), Center for Clean Technology and Environmental Policy (CSTM). Netherlands
4. Stichting ACCESS. 2013. The Dutch & Their Water. Spring 2013 Vol. 26 No. I. www.access-nl.org. Netherlands
5. Van Steen, Paul J. M., Pellenbarg, Piet H. 2004. Water Management Challenges in the Netherlands. Faculty of Spatial Sciences, University of Groningen. Netherlands
6. Veeren, R. J. H. M. van der. 2011. Financing Water Resource Management in the Netherlands. Netherlands
7. Ven, G.P. van de (ed.) 2003. Leefbaar laagland. Geschiedenis van de waterbeheersing en landaanwinning in Nederland. Utrecht: Matrijs. Fifth edition.