251. Belanda : Siapa Bilang Negara Air Hanya Ada di Dunia Avatar ?

Penulis : Upi Anggraeni
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

Siapa yang nggak tahu tentang Negara Air dalam salah satu serial animasi televisi, Avatar : The Legend of Aang ?. Negara ini merupakan negara yang di huni oleh suku air yang memiliki kemampuan mengendalikan air. Negara ini terletak di kutub dan merupakan salah satu dari empat negara dalam Dunia Avatar, diantaranya yaitu Negara Api, Kerajaan Bumi, Negara Angin, dan Negara Air itu sendiri.

Mustahil kalo di zaman sekarang ada manusia yang memiliki kemampuan super duper keren yang hanya dengan kekuatan fikiran bisa menggerakan air seperti Katara. Tetapi, kalo negara yang bisa “mengendalikan” air dengan hasil pemikiran mereka yang brilian? Ada !!!. Siapa yang tidak tau dengan Netherland ? Ia, Belanda. Negara kincir angin yang terkenal dengan bunga tulipnya yang WOW banget dan keju nya yang bikin ngiler Tom smpai-sampai dia lupa kalo lagi dikejar Jerry.

Berbeda dengan Negara Air yang terletak di kutub, Belanda terletak di Garis lintang / Garis bujur : 52° 15′ 0″ Utara / 5° 45′ 0″ Barat. Berarti, Negara Air versi nyata ini terletak cukup jauh dari kutub. Secara geografis, Belanda merupakan negara berpermukaan rendah, dengan luas wilayah sekitar 41.526 Km, kira-kira 20% wilayahnya dan 21% populasinya berada di bawah permukaan laut, dan 50% tanahnya kurang dari satu meter di atas permukaan laut. Tidak heran jika Belanda memiliki nama lain Nederland (bahasa Belanda), yang artinya “negeri-negeri berdaratan rendah”;
Negara ini merupakan satu-satunya Negara Air yang dapat kita temui di kehidupan nyata. Inovasi mereka dalam menangani masalah air yang mereka hadapi patut diacungi jempol. Kalo Negara Air di Dunia Avatar, musuhnya adalah Negara Api. Nah, bagi Belanda, musuh nyata mereka ialah air. Eits, Bukan berarti mereka takut dengaan air dan nggak mandi ya.

Kemampuan kedua negara ini dalam menghadapi musuh-musuhnya tidak boleh diremehkan. Negara Air berhasil memenangkan peperangan melawan Negara Air. Sedangkan sekarang, Belanda lagi gencar-gencarnya mencari ide-ide baru untuk menaklukan musuhnya. “Perlawanan” Belanda sebenarnya sudah dimulai dari sejak lama, mereka membangun tanggul-tanggul untuk melindungi daerah-daerah hunian masyarakatnya dari ancaman air berupa banjir. Salah satu tanggul yang terkenal pada zaman dahulu ialah tanggul Zuiderzee yang digunakan untuk membendung teluk Zuiderzee yang terletak di sebelah barat laut Belanda, sebuah teluk dangkal dengan panjang sekitar 100 km dan dan lebar 50 km, dengan kedalaman 15 kaki. Selain untuk menahan air, tanggul ini juga digunakan sebagai akses perdagangan. Tetapi, tanggul ini juga menyebabkan maslah besar bagi Belanda. Tercatat dalam sejarah, pada tahun 1421 dinding tanggul Zuiderzee jebol dan menyebabkan banjir di 72 desa dan menewaskan sekitar 10.000 orang.

image001

Nah, bencana inilah yang kemudian menjadi cikal bakal perkembangan penanganan air di Belanda. Pada abad ke-17, sebuah ide untuk mengatasi resiko jebolnya tanggul sudah terpikirkan, tetapi baru direalisasikan pada abad ke-19. Pada Juni 1918, Cornelis Lely, pencetus ide untuk mengatasi “serangan” air terhadap Belanda datang dengan sebuah rencana untuk menutup bangunan di sekitar tanggul Zuiderzee dan mengubahnya menjadi danau. Rencananya termasuk membangun empat polder, yang nantinya akan digunakan sebagai lahan pertanian. Polder sendiri merupakan daerah yang dikelilingi oleh tanggul untuk menghindari kontak dengan air.

Langkah pertama yang Cornelis lakukan adalah mengurung Zuiderzee dengan cara membangun bendungan sepanjang 20 mil. Hal ini merupakan ide pertama yang pernah muncul, sehingga Belanda dikenal sebaagai pencetus dalam hal ini.

Usaha Cornelis Lely tidak hanya terbatas pada bendungan dan empat polder itu saja, Ia mereklamasi sebagian besar daerah Zuiderzee menjadi lahan kering yang layak huni. Teluk Zuiderzee di bendung hingga membentuk danau buatan kemudian ditimbun hingga membentuk lahan kering. Lahan kering terbesar hasil pemikiran Cornelis ialah Flevoland, yang dihuni oleh sekitar 400.000 orang. Bisa dikatakan bahwa Cornelis Lely merupakan salah satu kesatria pengendali air terhebat pada saat itu. Dan sekarang sudah dibangun ratusan Flevoland lainnya yang dihuni masyarakat Belanda.

image002

Belum selesai sampai di situ, muncul seri baru dari perlawanan Belanda. Masih melawan air, permasalahan klasik yang mau tidak mau harus di hadapi Belanda. Setelah berhasil menghadapi serangan banjir, sekarang Belanda dibayang-bayangi isu peningkatan permukaan air laut akibat pemanasan global. Seperti yang juru bicara NEAA (Netherlands Environmental Assesment Agency) katakan:”Dalam dua abad setengah beberapa negara di dunia terancam oleh naiknya permukaan air laut, terutama negara yang berada di wilayah permukaan rendah. Perbuahan tinggi permukaan air laut ini disebabkan oleh iklim yang semakin tidak menentu.” Ini merupakan momok yang paling menakutkan, bahkan lebih menakutkan dibandingkan Negara Api yang menyerang Negara Air. Bagaimana tidak, negeri kincir ini merupakan salah satu negara berpermukaan rendah.

Dengan kesatria “pengendali air”-nya, Belanda terus menciptakan inovasi baru untuk mengatasi serangan ini. Kali ini mereka membuat sebuah kota yang bisa berdiri kokoh di atas air sehingga peningkatan permukaan air laut tidak lagi menjadi maslah. Yups, bahasa kerennya floating city. Ide ini muncul dari seorang “pengendali air”, seorang pemikir Belanda juga, Rudger de Graf. Rudger de Graf merupakan pemilik perusahaan Deltasync. Nah, dengan perusahaan ini, Ia bekerjasama dengan perusahaan arsitektur, Public Domain Architec untuk merealisasikan konsep gilanya ini. Yang kemudian proyek ini diberi nama Rotterdam Floating Pavilion. Proyek yang selesai pada Mei 2010 dan dipamerkan pada Januari 2013 ini juga didukung oleh Rotterdam Climate.

image003

Selain berteknologi modern, floating city juga ramah lingkungan. Tenaga yang digunakan gedungnya ialah tenaga panas matahari yang diambil dari panas permukaan air yang nantinya disimpan di dalam pasir yang terdapat dibawah bangunan yang nantinya akan digunakan sebgai sumber energi. Dan sudah terbukti bahwa konsep ini dapat mengurangi suhu permukaan air sekitarnya. Rencananya floating city ini akan dikembangkan menjadi kawasan perkotaan terintegrasi yang di dalamnya terdapat perkantoran, ruang public, dan 13.000 tempat tinggal (1200-nya akan terapung diatas air). Proyek ini diperkirakan akan rampung pada tahun 2040.

image004

Selain Rudger de Graf, “pengendali air” lainnya yang mengembangkan konsep yang sama ialah Koen Olthuis, pemilik perusahaan Waterstudio. NL. Ia membangun floating water villas, floating apartments di Citadel Naalwidjk dan yang paling keren, ia membangun floating mosque di The Hague.

image005

Nah, hingga saat ini para pemikir dan “pengendali air” Belanda terus mencari ide-ide baru yang bisa digunakan untuk menaklukkan musuhnya “air”.

Source :

https://menikhd.wordpress.com/2012/05/04/pemikiran-kecil-dalam-hasil-yang-besar-6/

https://imaginesya.wordpress.com/tag/floating-city/

http://www.travelwithmasha.com/2014/04/02/ducth-follow-technological-progress-attract-tourists-check-flevoland/

https://iinparlina.wordpress.com/2012/05/15/creative-green-city-tidak-hanya-unik-dan-indah-melainkan-juga-merupakan-jawaban-dari-berbagai-tantangan/