254. Rajanya Hortikultura (FINALIST)

Penulis : Andika Hendra Mustaqim
Tema : Earth
=========================================================================================================================================================

Sekitar enam tahun lalu, saya kebetulan mudik ke kampung halaman. Cuti sejenak dari rutinitas kantor yang menyita waktu dan pikiran. Menjalin silaturahmi dengan keluarga dan teman lama. Ternyata, di situlah saya menemukan satu pencerahan yang luar biasa yang menyadarkan jiwa. Yah, pengalaman sepele namun menggugah pemikiran saya tentang apa yang bisa saya lakukan di masa mendatang.

Apa itu? Balik ke kampung dan menjadi petani.

Adalah Murni, seorang teman SMA saya. Seorang sarjana pertanian dari UNS Solo. Ketika kebanyakan kawan-kawannya memilih untuk merantau ke Jakarta, termasuk saya, selepas lulus kuliah, Murni tidak demikian. Dia tetap kembali ke kampung. Dan dia menjadi petani. Dia tak malu. Dia berani. Padahal dia seorang perempuan.

“Saya lahir di keluarga petani. Aku ingin mati pun saat aku jadi petani. Tani itu hidupku,” yakin Murni kepadaku. Aku hanya bengong. Ketika ada tawaran menjadi PNS di Dinas Pertanian, Murni masih bertahan dengan pilihan dengan menjadi petani. Ketika ada ajakan dari dosennya untuk menjadi asistennya, Murni tetap menetapkan diri dengan pilihan hidupnya. Tawaran untuk bekerja di Jakarta sebagai peneliti pun ditampiknya. “Menjadi kaya itu tidak harus bekerja di Jakarta! Siapa bilang petani tak bisa kaya! Kaya itu bukan masalah harta. Tetapi yang penting kaya itu bisa menikmati hidup dan memberi manfaat!” nasehat Murni kepada saya.

Murni itu seorang perempuan. Bukan lelaki. Visinya yang agung ternyata terwujud dalam waktu empat tahun. Bukan waktu yang singkat. Dia sudah menjadi bos! Sudah memiliki brand! Sudah punya karyawan! Asetnya sudah banyak. Dia membuktikannya kepada saya dan kawan-kawannya. Kalau jadi petani itu pilihan tepat! Jadi petani bukan pilihan yang salah!
“Kapan kamu jadi petani?” tantang Murni kepada saya setiap saya berkunjung ke ladang milik Murni yang terhampar luas.
Saya sengaja tak menjawabnya.
“Nunggu pensiun?” ejek Murni lagi.
Saya mencoba tersenyum dan menghindari jawaban itu.
“Nunggu punya modal?” sindir Murni lagi.
Saya hanya melihat hamparan kebun kacang panjang milik Murni yang terhampar luas.
“Aku ajarin agar kamu sukses jadi petani! Tetapkan berinovasi. Itulah kuncinya!” yakin Murni.
Saya tersentak. Hanya diam. Aku tak berkutik. Hanya mengamini saja.

Murni memang berinovasi. Ketika banyak orang di kampungnya mengembangkan pertanian organik, dia memulainya. Ketika banyak petani di kampungnya menjual hasil bumi ke tengkulak, Murni memilih memasarkannya sendiri. Ketika banyak orang masih terjebak dengan retenir, dia mendirikan koperasi untuk para petani! Ketika banyak petani terjebak dengan tradisi, Murni berinovasi dengan memadukan antara ilmu pengetahuan dengan pertanian.

Dan saya teringat dengan pernyataan Murni ketika membaca berita tentang hortikultura di Belanda. Tepatnya profil tentang Rob Baan, CEO Koppert Cress. Ternyata, inovasi adalah kuncinya dalam mengembangkan pertanian. Selama ini, di otak saya, yang namanya pertanian identik dengan kuno, tradisi, dan turun temurun. Paling-paling inovasinya hanya traktor dan kombinasi pupuk. Ternyata tidak!

“Untuk menjadi pelopor di hortikultura seharusnya berkonsentrasi pada produk yang segar yang mengandung diet sehat dan obat penyakit seperti kanker dan diabetes,” kata Rob Baan, yang saya kutip dari webnya langsung www.koppertcress.com. Rob sukses mengembangkan perusahaannya dengan memproduksi herbal dengan kualitas tinggi di Belanda. Teknologi juga dikembangkan untuk mendukung hortikulturanya dengan spesifikasi di bidang herbal aromaterapi.

image002

Apa saja inovasi yang diterapkan Rob?

Rob tidak menggunakan lampu LED untuk menerangi kebun rumah kacanya. Namun, dia membeli lampu yang mampu bertahan 20 tahun. Warna lampu yang dipilihnya adalah merah muda, bukan hijau. Untuk mengurangi biaya energi, Rob tidak menanam herbalnya dengan tanah, tetapi dia menggunakan popok yang mampu menyerap air dengan baik. Tidak ada tanah sama sekali yang digunakan Rob dalam menanam herbalnya. Dia mengembangkan selulosa putih yang dijadikan sebagai media untuk penanaman herbalnya.

Tidak berhenti sampai di situ saja, Rob juga mengemas produk tanaman herbalnya di dalam kotak ketika dikirim ke pelanggannya. Satu kotak terdiri dari 16 kup tanaman dengan rasa yang berbeda-beda. Tanaman itu dapat bertahan hidup selama beberapa pekan. Kotak herbal itu diekspor ke 70 negara.

Misi pendidikan yang diajarkan Rob adalah mengajak masyarakat untuk mengonsumsi herbal yang sehat untuk mencegah penyakit berbagai penyakit berbahaya. Ternyata itu bisa dihadirkan tanaman herbal. Bukan herbal yang telah kering dan dikemas layaknya obat. Rob menghadirkan herbal dalam kondisi segar sehingga memberikan manfaat yang lebih terasa dibandingkan dengan kemasan olahan.
Untuk mewujudkan mimpinya seperti saat ini, Rob membutuhkan waktu dan proses yang lama. Selama 25 tahun, dia berkeliling dunia, khususnya Asia. Di sanalah pulalah dia menermukan inspirasi. “Saya kagum dengan tekstur dan rasa sayuran Asia yang tak dimasak,” katanya. Dari situlah, dia menemukan inspirasi untuk memproduksi sayuran yang sehat dan langsung dalam dimakan.

Memang tidak bisa dibandingkan antara apa yang dilakukan Rob dan Murni. Masih bumi dan langit. Saya kagum dengan Rob yang notabene sudah goes international dengan inovasinya. Tapi saya tidak akan meremehkan Murni yang terus berinovasi.

PING
Saya melihat ponselku. Ternyata Murni mengirimkan pesan.
Kapan balik kampung?
Pertanyaan yang dikirim Murni. Saya sengaja tak menjawabnya.
Masih nunggu pensiun kalau jadi petani?
Provokasi Murni.
Inovasi, jangan nunggu takdir Tuhan.
Sindir Murni.

Referensi Teks:
1. http://www.biobasedpress.eu/2013/12/rob-baan-koppert-cress-horticulture-should-be-more-innovative/
2. http://centraleurope.koppertcress.com/en/content/cressformation-4
Referensi Foto:
stichtingsamensterk.nl