257. Bukti Cinta Bersepeda Bangsa Belanda

Penulis : Anjas Prasetiyo
Tema : Earth
=========================================================================================================================================================

Sore itu di tanggal 13 April 2015, sebuah pesan WhatsApp (WA) masuk ke ponselku. Rupanya, Harumi, salah seorang sahabat yang sedang mengunjungi mertuanya di Kota Maldegem, Provinsi Oost Vlaanderen, Belgia berkirim kabar. Berhubung daerah itu dekat sekali dengan Belanda, ia menyempatkan berkunjung ke Sluis, kota mungil nan cantik yang terletak di Negeri Kincir Angin bagian Selatan.

image002
Kota Sluis yang cantik (sumber: koleksi pribadi Harumi)

Twuit..twuiit..twuiiit (suara pesan WA). Lalu aku baca apa yang tertulis di dalamnya:
“Di sini mobil beneran menghormati pejalan kaki dan pesepeda. Sampe kita masih di pinggir jalan aja mobil berhenti mempersilahkan kita nyebrang *terharuuu.”
Kekagumannya itu sangat beralasan karena ia membuktikan sendiri betapa aman dan nyamannya bersepeda di Belanda. Pesepeda bak raja yang paling diutamakan kepentingannya, dan selalu didahulukan jika ingin melintas atau menyeberang jalan. Karena asyiknya bersepeda di sana, ia rela menempuh jarak sejauh 20 km bersama sang suami dari Belgia menuju Belanda melewati area pertanian yang subur. “Enak ngepit (bersepeda) di sini..dataar,” imbuhnya.

image004
Bersepeda di Belanda (sumber: koleksi pribadi Harumi)

Dapat dipahami bila budaya bersepeda telah mendarah daging dalam masyarakat Belanda. Dari anak-anak, orang dewasa, hingga orang tua memilih sepeda sebagai moda transportasi mereka. Selain karena memang menyehatkan, bersepeda dianggap sebagai cara yang paling praktis dalam mobilisasi diri. Tak mungkin selalu mengandalkan kendaraan bermotor untuk bepergian karena hanya menciptakan kemacetan di mana-mana. Ingan teman, dari segi luas wialayah, Belanda itu tergolong negara kecil dibandingkan tetangganya, seperti Jerman dan Perancis.

image006
Asyiknya bersepeda bersama di Belanda (Sumber: http://farm3.staticflickr.com/2724/4179455963_0f73ae500c_z.jpg)

Tertarik mengetahui arti penting penggunaan sepeda dalam kehidupan masyarakat Belanda, saya pun mencari informasi lebih lanjut. Dan hasilnya sungguh mencengangkan, yang nampak pada catatan di bawah ini:
• Jumlah sepeda di Belanda mencapai 18 juta unit, dibandingkan dengan jpenduduknya yang hanya berjumlah 16,4 juta orang”. Berarti jumlah sepeda di sana lebih banyak daripada total penduduk.
• Di Belanda, 27 persen aktivitas bepergian menggunakan sepeda, dan 25 persen orang pergi ke kantor dengan bersepeda. Rata-rata penggunaan sepeda per orang sejauh 2.5 km.
• Belanda memiliki 400 km jalur sepeda dan sekitar 40 persen transportasi komuter dikuasai oleh sepeda.
• Belanda mengembangkan rute sepeda tematik sejauh 20-50 km, seperti Molenroute (rute kincir angin) dan Pontjesroute (rute feri).
• Kota Utrecht di Belanda dinobatkan sebagai pemilik parkir sepeda teranyak di dunia dengan jumlah lebih dari 12.500 lahan parkir sepeda.

Bagi kita yang memimpikan kenyamanan bersepeda, gambaran di atas begitu mengagumkan. Tetapi, ternyata itu belum seberapa dibandingkan dengan terobosan bangsa Belanda untuk mendukung kegemaran bersepeda mereka. Inovasi dalam setiap aspek bersepeda digalakkan agar aktivitas itu menarik bagi siapa pun. Atas upaya ini, Belanda boleh berbangga karena telah menjadi pionir pengembangan moda transportasi kayuh tersebut.

Belanda telah berhasil menciptakan sepeda masa depan. VanMoof 10 Electrified namanya. Sepeda ini dilengkapi dengan peralatan canggih. Sebut saja, sensor khusus yang berfungsi untuk memonitor perilaku pesepeda di jalanan, dan pelacak GPS terkomputerisasi untuk untuk menunjang aspek keamanan sepeda.

image008
VanMoof 10 Electrified (Sumber: http://cdn.rsvlts.com/wp-content/uploads/2013/06/vanmoof.jpg)

Kerangka VanMoof 10 Electrified diklaim paling ringan karena dibuat dari bahan alumunium khusus. Sehingga tidak membebani penggunanya saat mengayuh sepeda. Kecanggihan lainnya adalah indikator tenaga dan pengukur baterai yang sekaligus berfungsi sebagai remote control yang terpasang di bagian stang.

Namun di balik itu semua, yang menjadi keistimewaan dari VanMoof 10 Electrifiedadalah kemampuannya untuk menyimpan energi listrik. Energi ini didapatkan saat kita mengayuh pedal sepeda, dan dapat diubah menjadi tenaga kinetis ketika kita kelelahan menggenjot sepeda. Dengan dukungan motor elektrik 250 W, kita dapat memetik energi itu sejauh 30-60 km tergantung pada kondisi jalan yang ditempuh. Nah, kalau punya sepeda semacam ini, siapa sih yang tak mau bersepeda jauh-jauh?

Lampu sepeda pun juga tak luput dari sentuhan inovasi bangsa Belanda. Rydon,sebuah perusahaan di Belanda memproduksi lampu sepeda inovatif yang bernama Pixio. Pixio mengusung segudang keunggulan yang menjadi jawaban atas kelemahan lampu-lampu sepeda sebelumnya. Pixio tak gampang rusak, tak mudah mati baterainya, serta aman dari pencurian karena dilengkapi dengan ‘tali pengikat canggih anti maling’ (theft proof strap).

image010
Lampu Sepeda Pixio (Sumber: http://assets.inhabitat.com/wp-content/blogs.dir/1/files/2013/06/RydonPixio_SolarBicycleLight1-537×402.jpg)

Prinsip hijau diterapkan dalam penciptaan Pixio. Sumber energy lampu sepeda ini berasal dari tenaga surya yang ditangkap oleh panel-panel surya yang terpasang di bagian dalam lampu. Untuk mendapatkannya, mudah saja. Hanya dengan ‘menjemur’ sepeda pada siang hari, dan akan siap digunakan untuk menghidupkan lampu sepeda di malam hari. Lampu ini cukup terang untuk menemani perjalanan kita di daerah gelap sekalipun.

Seringkali, aktivitas bersepeda di atas jalanan bersalju cukup merepotkan. Situasi ini mendorong Cesar Van Rongen, seorang desainer asal Belanda untuk menciptakan Sneeuwketting atau Spike Bike. Spike Bike merupakan casing ban terbuat dari karet yang dilapisi ‘gigi-gigi’ besi pada permukaannya. Diciptakan demikian untuk menyediakan daya cengkeram ban sepeda pada lintasan bersalju. Sehingga, pesepeda tak akan tergelincir akibat licinnya salju atau es. Meskipun diciptakan secara khusus untuk kondisi seperti itu, Spike Bike diklaim oleh penciptanya tetap nyaman untuk melaju di jalanan beraspal.

image012
Spike Bike (Sumber: http://cdn.blessthisstuff.com/imagens/stuff/bike-spikes-cesar-van-rongen.jpg)

Berbicara perkara sepeda, tak lengkap rasanya tanpa menyinggung jalur sepeda. Untuk yang satu ini, kepiawaian bangsa Belanda dalam mencipta lintasan sepeda yang inovatif tak perlu diragukan lagi. Tak hanya mendukung keamanan dan kenyamanan pesepeda, jalur sepeda yang dibuat juga dilirik untuk menyuplai energi terbarukan. Adalah Krommenie, suatu daerah di pinggiran Amsterdam telah memasang lintasan sepeda yang mampu menyerap panas matahari. Secara struktur, lintasan ini dilapisi dengan lapisan kaca yang ditutup dengan plastik kokoh untuk mencegah pesepeda tergelincir. Di dalamnya, dipasang panel-panel surya yang tersambung langsung dengan jaringan listrik. Mengikuti fungsinya, lintasan sepeda ini dinamakan SolaRoad.

image014
SolaRoad (Sumber: http://www.solaroad.nl/wp-content/uploads/2013/06/DSC8910_kinderenvanboven2.jpg)

Sentuhan seni juga tak lepas dalam pembuatan jalur sepeda di daerah kelahiran pelukis kondang Belanda, Van-Gogh. Terinspirasi dari karya lukisannya Starry Night,Van-Gogh Rooseegarde Cycle Lane diciptakan. Jalur sepeda ini tersusun atas ribuan batu berwarna hijau dan biru yang diletakkan di dalam beton khusus. Di malam hari, bebatuan itu bisa berpendar, menyediakan cahaya bagi pengendara sepedayang melintasi jalur sepeda tersebut. Batu-batu itu mendapatkan energi dari sinar matahari, tetapi masih mengandalkan sedikit pasokan energi listrik untuk bisa tetap bersinar sepanjang malam.

image016
Van-Gogh Rooseegarde Cycle Lane (Sumber: http://cdn.earthporm.com/wp-content/uploads/2014/11/van-gogh-starry-night-glowing-bike-path-daan-roosengaarde-1.jpg)

Sebagai sebuah negara yang pernah mengalami krisis bahan bakar minyak di tahun 1972, Belanda seakan sadar untuk terus melakukan inovasi agar sepeda tetap menjadi pilihan moda transportasi warganya. Penggunaan secara luas alat transportasi ini telah membuat Belanda sangat efisien dalam konsumsi bahan bakar. Selain dapat menghemat keuangan negara, budaya bersepeda senapas dengan ‘green life style’, sebuah gaya hidup yang urgen diterapkan mengingat bumi yang tak lagi mampu menahan beban akibat masifnya industrialisasi.

Belanda telah memulai aksi nyata untuk menyelamatkan bumi dengan kegemarannya bersepeda, sebuah cara yang sangat mudah dan murah. Lantas, bagaimana dengan kita?

*Tulisan di atas juga dipublikasikan pada http://sosbud.kompasiana.com/2015/04/24/bukti-cinta-bersepeda-bangsa-belanda-714141.html

Referensi:

http://luar-negeri.kompasiana.com/2013/04/12/bbm-naik-di-belanda-tidak-masalah-karena-ada-sepeda-550384.html

http://bobo.kidnesia.com/Bobo/Info-Bobo/Bobo-File/10-Negara-Paling-Banyak-Sepeda

http://www.pegipegi.com/travel/nyamannya-bersepeda-di-kota-kota-ini/

http://www.dw.de/how-the-dutch-love-of-cycling-is-glowing-in-the-dark-to-inspire-innovation/a-18077820

http://www.treehugger.com/clean-technology/vanmoof-promises-worlds-first-intelligent-commuter-bike.html

http://inhabitat.com/solar-rydon-pixio-bike-light-stores-sunlight-during-the-day-for-safer-cycling-at-night/

http://www.fastcoexist.com/1681184/a-sticky-tire-for-people-crazy-enough-to-bike-in-the-winter

http://www.bikeinreview.com/2013/01/bike-spikes-review/

http://en.nederlandfietsland.nl/en/cycling-daytrips