263. Felix Meritis : Budaya Berpikir dan Pergulatan Identitas

Penulis : Wasis Dwi Hertanto
Tema : Earth
=========================================================================================================================================================

Sebagai salah satu negara maju, Belanda tentunya telah mengalami pembangunan luar biasa dalam berbagai bidang kehidupan. Pembangunan budaya materi dan immateri berkembang dengan pesat. Tentu banyak pertanyaan, mengapa Belanda dapat menjadi negara maju. Banyak hal memang yang menjadikan sebuah negara menjadi bangsa maju. Salah satunya adalah corak budaya sebuah bangsa dalam mengelola potensi sumber daya yang dimilikinya. Seperti diungkapkan Pasya, bahwa kebudayaan (culture) adalah segala daya, kemampuan, dan kegiatan untuk mengolah bahkan mengubah dan memanfaatkan alam (lingkungan). Sebagai contoh kecil, bangsa Belanda memiliki tradisi kincir angin untuk menyiasati tanah/wilayah yang sempit sehingga harus mengeringkan sebagian wilayah lautnya untuk tempat tinggal. Kincir angin hanyalah simbol bagaimana bangsa Belanda menaklukan alam, bagaimana manusia bernegosiasi dengan tanah dimana ia berpijak. Gambaran tersebut menjelaskan bahwa kemajuan pembangunan materi memiliki relasi positif dengan budaya berpikir masyarakatnya. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa budaya materi suatu negara adalah manifestasi budaya pemikiran bangsanya.

Melalui tulisan ini, penulis hendak membahas bangsa Belanda dalam memanfaatkan elemen tanah untuk kemajuan bangsa. Tanah tidak hanya berarti letak dimana bangsa Belanda tinggal. Tetapi tanah lebih berarti letak dimana individu berpikir, mendefinisikan identitas diri, mengenali potensi, dan mengenali tujuan kehidupannya. Tanah Belanda di sini merujuk pada keunikan bangsa Belanda dalam memahami identitas diri dan merumuskan visi kebangsaan.

Adapun kasus yang diangkat dalam tulisan ini yaitu tradisi filsafat masyarakat Belanda. Tradisi tersebut sangat unik dan jarang bahkan tidak ditemui di negara lain. Di Belanda kita akan sering mendengar Malam Filsafat, Bulan Filsafat, Kafe Filosofis, majalah Filosofie, dsb. Kita pasti terkejut menyaksikan masyarakat Belanda begitu antusias berkunjung ke sebuah Kafe Filosofis hanya untuk berfilsafat. Begitu populer filsafat di Belanda. Di Amsterdam kita bisa lihat di Felix Meritis, sebuah rumah kanal dimana masyarakat Belanda berkumpul dan berfilsafat. Di tempat ini tepat saat malam filsafat kita bisa bertatap muka dengan para filsuf ternama seperti Erno Eskens dari ISVW (Akronim bahasa Belanda untuk International School of Philosophy), Stine Jensen (penulis buku “Therefore I Am”) maupun Hans Achterhuis (peraih penghargaan “Thinker of The Fatherland) dan para filsuf terkenal lainnya. Ini adalah sebuah ruang dimana filsafat dapat dikonsumsi publik. Dalam forum tersebut, masyarakat umum dapat beradu argumen tentang topik aktual baik seni, budaya, politik atau terpenting filsafat itu sendiri. Pada poin ini seni argumentasi menjadi bagian tak terpisahkan dari seni berfilsafat. Hal ini dapat dimaknakan melalui konsep dialektika Hegel bahwa dialog terus-menerus antara tesis (realitas afirmatif) berhadapan dengan antitesis (realitas negasi), dan didamaiakan oleh realitas jalan tengah yang disebut sintesis. Artinya, dalam forum tersebut individu dapat ber-sintesis secara bebas menentukan kebenaran filosofis pribadinya.

image002
Gambar 1. Felix Meritis didirikan tahun 1788 di Amsterdam. Tempat ini hingga kini menjadi simbol pencerahan, kebebasan intelektual dan toleransi khususnya di Eropa. (Sumber =http://www.iamsterdam.com/en/visiting/what-to-do/attractions-and-sights/places-of-interest/felix-meritis)

Fakta di atas jelas menjadi sindiran bagi kita bangsa Indonesia. Kita lihat bagaimana budaya filsafat masyarakat Belanda begitu kuat dan menjadi salah satu penopang pembangunan bangsa. Agak berlebihan memang, karena sebuah filsafat tidak serta merta seketika menyulap sebuah negara menjadi bangsa maju. Akan tetapi sejalan dengan ungkapan Hegel bahwa kemampuan subjektif individu identik dengan kemampuan subjektif suatu bangsa. Dalam posisi inilah masyarakat Belanda melalui filsafat turut berperan dalam pembangunan bangsa.

Gambaran di atas tentu memiliki relevansi dengan konteks bangsa Indonesia saat ini. Budaya berfilsafat seperti di atas akan sulit ditemui di Indonesia. Ruang gerak filsafat terbatas di lingkup akademis. Sementara di sisi lain pembangunan di Indonesia terus bergerak cepat dan menuntut perimbangan dari budaya pemikiran (filsafat). Apakah budaya filsafat kita sudah menjadi jiwa dalam sendi-sendi pembangunan bangsa? Adakah bangsa lain yang lebih mengerti bangsa Indonesia? Padahal, pemahaman filsafat sangat penting untuk mendefinisikan identitas diri kita sebagai sebuah bangsa. Jika kita tidak mengetahui siapa dan di tanah mana kita dilahirkan, lalu bagaimana kita mendefinisikan masa depan?

Tradisi Filsafat di Belanda hendaknya dijadikan refleksi untuk kita bangsa Indonesia. Ya, Belanda menjadi negara maju bukan karena filsafat. Tetapi setidaknya budaya berfilsafat tersebut sejalan dengan pemahaman bahwa pembangunan adalah kelanjutan dari definisi filosofis identitas bangsa. Harapanya, kita dapat membumikan filsafat secara merakyat sehingga kita bisa mendefinisikan siapa, dimana, dan kapan kita merasa menjadi sebuah bangsa Indonesia. Dengan kembali mengenali diri dan tanah air dimana kita dilahirkan, kita akan mengerti bahwa kita adalah bangsa besar dengan nama Indonesia.

Referensi
Foucault, Michel. Arkeologi Pengetahuan. 1976. New York : Harper & Row Publisher
Felix Meritis ; European Centre of Arts and Science. Available at http://www.eenc.info/organisation/felix-meritis/
Filosofie Magazine. Available at https://www.filosofie.nl/index.html
ISVW.NL. Available at http://www.isvw.nl/home/international-school-of-philosophy/
Pasya, Gurniwan Kamil. Manusia dan Kebudayaan. Available at http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._GEOGRAFI/196103231986031-R._GURNIWAN_KAMIL_PASYA/SMI-3.pdf
Rahmat, Taufik. Demokrasi dan Teori Diskursus. Available at http://www.academia.edu/9591636/DEMOKRASI_DAN_TEORI_DISKURSUS
Taboen, Paskalius. Konsep Dasar Budaya, Perubahan Sosial, dan Masyarakat Desa. Available athttp://www.academia.edu/8029445/Konsep_Dasar_Budaya_Perubahan_Sosial_dan_Masyarakat_Desa
Wartamadani Media. Available at http://www.wartamadani.com/2013/09/michel-foucault-teori-tentang-kekuasaan.html