269. Sinergi Bersama Antara Masyarakat Dengan Pemerintah, Sulap Kawasan Rendah Jadi Pusat Urat Nadi Ekonomi

Penulis : Andrian Wijanarko
Tema : Earth
=========================================================================================================================================================

image002

Setiap negara umumnya memiliki wawasan kebangsaannya sendiri. Wawasan kebangsaan dapat diartikan sebagai cara pandang bangsa Belanda tentang diri dan lingkungannya berdasarkan cita-cita dan tujuan nasionalnya. Wawasan kebangsaan bertujuan antara lain : menghidupkan kembali semangat kebangsaan; mendorong terwujudnya kehidupan yang harmonis; menjaga keutuhan bangsa; mendorong pencapaian cita-cita dan tujuan nasional.

Di zaman pertengahan daerah yang sekarang ini bernama negeri Belanda terdiri dari sekelompok daerah pemerintahan hertog yang otonom (Gelre, Brabant) dan wilayah-wilayah yang diperintah oleh para graf (Holland dan Selandia), serta daerah keuskupan Utrecht. Di bawah pemerintahan Karel V (1500-1558) daerah-daerah itu disatukan dengan Belgia dan Luksemburg sekarang disatukan dengan nama ‘Tanah-tanah Rendah’, yang waktu itu merupakan sebagian dari Kerajaan besar Bourgondia-Habsburg. Negara merdeka pertama didirikan tahun 1568.
Negeri Belanda yang terletak di Laut Utara dan di muara pertemuan tiga sungai besar (Rijn, Maas dan Schelde), adalah sebuah negeri kecil yang sangat maju dengan luas wilayah 36.948 km2 dan penduduknya lebih dari 16 juta. Lebih dari separuh negeri Belanda letaknya lebih rendah dari permukaan air laut dan sungai, sehingga diperlukan pengendalian air yang baik supaya tanah tetap kering dan dapat didiami.

Satu abad silam, Belanda merupakan negara yang rentan akan bencana banjir. Hampir setiap tahun tidak bisa mengatasi banjir. Di Belanda sering kali hujan : rata-rata sebanyak 600 jam per tahun tetapi di sela-sela hujan, matahari juga bersinar sekitar 1.550 jam per tahun. Dulu, Belanda memiliki fenomena yang unik. Yaitu, setiap musim hujan kawasan perkotaan, pusat layanan publik, pasar tradisional, dan lahan pertanian terancam banjir. Sementara itu pada musim kemarau, daerah tersebut sering kekeringan. Namun dengan adanya inovasi teknologi pengelolaan air, kini daratan Belanda 40 % lebih luas dan saat ini manajemen air Belanda merupakan sumber inspirasi bagi negara-negara lain di seluruh dunia.

Setelah beberapa tahun memahami peta topografi di negaranya. Orang Belanda berupaya mengendalikan banjir dengan membuat dam atau bendungan. Cara tersebut sangat efektif, dam yang dibangun mampu melepas air ke kota dan membuang ke sungai induk setiap musim hujan. Bukan hanya itu, saat musim kemarau, air dalam bendungan juga bisa dimanfaatkan untuk irigasi pertanian, perkebunan, serta pembangkit tenaga listrik. Bahkan saat ini bendungan tersebut dikemas menjadi objek wisata.

Orang Belanda berjuang dengan keras, membuat gundukan, bendungan dan sistem pertahanan laut seperti Proyek Delta. Dalam melaksanakan pekerjaan Delta orang Belanda mempergunakan pengalaman yang diperoleh pada permulaan tahun 1930-an ketika menutup Laut Selatan. Waktu itu dibangun sebuah tanggul sepanjang 30 km, yang disebut Tanggul Penutup, antara Friesland dan Holland Utara. Karena penutupan itu Laut Selatan menjadi tasik dan lambat laun menjadi danau air tawar, karena air yang dibawa oleh sungai-sungai tidak dapat lagi mengalir bebas ke laut lepas. Didalam tasik tertutup ini, yang kemudian disebut Danau Ijssel, dibuat polder-polder yang besar sekali. Dengan selesainya empat polder sekarang ini, maka diperoleh tanah kering selauas 165.000 ha.

Dari keempat polder itu, yang tertua adalah Polder Wieringermeer dan Polder Timurlaut merupakan polder yang khas agraris. Polder yang paling muda, Flevoland Selatan, lebih merupakan daerah tempat tinggal, tempat bekerja dan rekreasi, untuk mengurangi kepadatan kota-kota Holland dan Utrecht. Berikutnya, Polder Flevoland Timur digunakan sebagai Polder peralihan. Dengan perencanaan yang terarah, maka Laut Selatan yang lama kini dirubah menjadi tempat tinggal beberapa ratus ribu orang.

Dalam kurun waktu lima puluh tujuh tahun masyarakat Belanda bekerja keras membangun sistem pertahanan laut di Oosterschelde untuk melindungi Belanda dari air laut. Faktor pendorong ide tersebut adalah bencana banjir di tahun 1953. Tepatnya di tanggal 31 Januari malam itu terjadi badai topan. Dalam beberapa jam saja air laut sudah mengalir melewati barisan bendungan yang pertama. Polder –polder terendam air sampai ke barisan bendungan yang kedua, yang tidak lama kemudian jebol. Sebagian besar propinsi Zeeland, Brabant dan Belanda Selatan tergenang air.

Lebih dari setengah abad kemudian, prinsip yang diterapkan nampaknya sederhana : begitu air mencapai tiga meter di atas NAP (tolak ukur tinggi air Amsterdam), maka pintu air akan ditutup, sehingga air pasang tidak dapat masuk ke Oosterschelde. Penghalang gelombang laut ini ditopang oleh 65 pilar beton raksasa, yang berdiri di atas alas-alas khusus di dasar laut. Silinder hidrolik yang menggerakkan pintu-pintu air juga merupakan karya teknologi berstandar tinggi. Pintu air bukan saja bisa dinaikkan, tetapi juga bisa diturunkan. Jika kita melewati jalan setapak di atas penahan gelombang di Oosterschelde, terdengar gemuruh air laut yang melewati pintu-pintu air. Kuatnya air laut bisa kita lihat, dengar dan rasakan. Namun, penahan gelombang ini berdiri kokoh, sebuah contoh inovasi teknik yang melindungi Zeeland dan lingkungan hidup.

Upaya dan capaian Belanda dalam mengembangkan pengelolaan air selama ini membuktikan sebuah keberhasilan yang diraih karena ada keterlibatan dan dukungan masyarakat luas. Keterlibatan masyarakat ini, lambat laun menjurus pada pembentukan aspirasi dan komitmen yang mau dan bersedia menjadi pelaku, penggalang sumberdaya, pemilik sebagai pihak yang amat menikmati berbagai hasil yang diraih. Pembinaan lingkungan bagi masyarakat hanya ada satu tujuan yang jelas yaitu menyediakan lingkungan hidup yang bermutu baik, sehat, aman dan membuat seluruh warga merasa nyaman.
Paham bahwa masyarakat merupakan sumberdaya handal yang sangat menentukan keberhasilan pembangunan, merupakan bukti pula bahwa setiap hambatan dan tantangan pembangunan akan dapat dihadapi. Karakter masyarakat Belanda yang egaliter dan dinamis merupakan pembentuk dari sinergi yang kuat antara warga dan pemerintah. Masyarakat secara terbuka menyatakan atau memberi saran dan kritik pembangunan ke pemerintah, dapat diterima dengan baik oleh pihak yang dikritik karena mereka merasa sebagai penerima dampak langsung dari pembangunan.

Daftar Bacaan
Negeri Belanda Selayang Pandang oleh : MJM. van Hezik, L. Verheijen Gravenhage : Kementerian Luar Negeri 1978
Majalah Kingdom of the Netherlands : Hello Holand oleh Duta Besar Kerajaan Belanda di Surabaya

https://ppirotterdam.wordpress.com/living-in-rotterdam/budaya-masyarakat-belanda/

https://id.wikipedia.org/wiki/Belanda