270. Inovasi Belanda pada elemen air sangat menakjubkan!

Penulis : Silvia Kusumawardani
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

Belanda memiliki 4 elemen sebagai sumber utama yang dikembangkan dalam bentuk ide dan pemikiran baru. Keempat elemen inilah tergambar jelas pada kemajuan teknologi, sejarah, kebiasaan dan tradisi penduduknya.

image001
Sumber gbr. (imgkid.com)

Thales pernah menganggap bahwa air adalah elemen yang terpenting. Sedangkan menurut Aximenes menyatakan bahwa air dari udara dan jika air diperas lebih keras lagi maka akan berubah menjadi tanah. Ini mengapa Belanda layak disebut sebagai negeri pengendali udara, api, air dan tanah dengan beberapa inovasi yang sangat menakjubkan .

image003
Sumber gbr.(www.ecofriend.com)

Belanda terbentang di atas dataran yang rendah , inovasi Belanda dikenal dengan sistem pengelolaan air terbaik didunia. Berangkat dari kenyataan bahwa Belanda memiliki tinggi tanah yang berada di bawah permukaan air laut. Desakan kebutuhan permukiman akibat peningkatan penduduk di sekitar tahun 1000-an menjadikan wilayah permukiman harus semakin diperlebar dan tibalah di titik kawasan yang rawan terkena rob. Pada tahun 1250 pembangunan untuk mengatasi rob tersebut dimulai sebagai cikal bakal kejeniusan Belanda dalam mengelola sistem drainase.

Inovasi lain yang menakjubkan pada ide pembuatan Kincir air, sebuah alat berbentuk lingkaran yang dibangun di sungai. Alat ini berputar pada sumbunya karena adanya dorongan aliran air sungai yang cukup deras. Sejalan dengan berputarnya kincir, alat ini sekaligus mengambil air dari sungai dan menumpahkannya ke talang/ penampung air. Selanjutnya air dari talang didistribusikan secara gravitasi ke daerah yang membutuhkan. Pada PLTA sederhana, cara kerja dari kincir air ini adalah dengan memasang papan kayu sebagai tempat mengarahkan air menuju putaran kincir. Kemudian pada kincir dipasangi turbin kecil, dan magnet. Pada kincir juga dipasangi tali karet untuk mengubungkan putaran turbin besar dan turbin kecil yang akhirnya dapat memutaran magnet. Arus listrik yang dihasilkan dipengaruhi oleh derasnya air yang mengalir menuju putaran magnet. Semakin deras air maka semakin cepat putaran magnet. Dengan putaran magnet yang cepat maka akan menghasilkan arus listrik yang besar.

Pemerintah Aceh dan Belanda membahas kemungkinan kerjasama di bidang teknologi pengolahan air. Sebelumnya Belanda sudah menginvestasikan dana 200 juta dolar Amerika (USD 200 juta) untuk pengolahan atmosphere minum di Aceh pasca tsunami. Investasi tersebut dilakukan dalam bentuk kerja sama dengan pemerintah pusat untuk jangka waktu 15 tahun. Semoga berhasil!

image006
Sumber gbr. (www.scibd.com)

Inovasi luar biasa lainnya adalah Belanda mengubah air laut menjadi Blue Energy. Para peneliti di Belanda berusaha menambahkan sebuah cara baru mendapatkan sumber energi dalam daftar energi dunia, para peneliti membuka fasilitis riset baru yang akan meneliti penggunaan energi baru yang disebut Blue Energy. Energi Biru itu memanfaatkan perbedaan konsentrasi air laut dan air tawar untuk menghasilkan energi listrik. Rik Siebers dari RED stack BV, perusahaan yang menangani proyek tersebut, menyatakan bahwa tujuan global penelitian ini adalah untuk meningkatkan teknologi. Sehingga pada tahun 2020 nanti, membangun sebuah pembangkit listrik tenaga biru akan menjadi menguntungkan secara komersial. Menurut Siebers, suatu hari nanti energi biru juga akan mendapat tempatnya sendiri. “Untuk turbin air, Anda butuh angin, sedangkan panel surya bekerja pada siang hari, namun air selalu mengalir,” jelasnya. Sungguh luar biasa!

image008
Sumber gbr. (www.tender-indonesia.com)

Belanda tidak hanya memanfaatkan kecanggihan bendungan dan kincir angin saja dalam mengelola air. Belanda mempunyai sistem teknologi eco-drainage (diterjemahkan ekodrainase) yang sangat ramah lingkungan. Eco artinya ekologi yaitu hal berkaitan dengan alam, sedangkan drainase adalah “mengalirkan”. Selain mampu mengurangi peluang banjir, sistem ini mampu menjaga kualitas air. Ekodrainase berasal dari pemikiran eco-hidrology yang pertama kali dikenalkan tahun 1982 oleh peneliti Belanda, Van Wirdum. Pada dasarnya beliau ingin menemukan keterkaitan antara unsur air dengan unsur vegetasi. Bertahun-tahun kemudian pemikiran ini berkembang menjadi sebuah sistem kelola air ramah lingkungan.

Penasaran dengan sistem kerjanya?

Adapun aplikasi ekodrainase ini dapat dilihat di Utrecht, kota tujuan summer course kompetiblog ini. Air hujan yang turun (English: stormwater) dipilah menjadi 2 yaitu air yang dianggap kotor dan air yang dianggap bersih. Air yang dianggap bersih itu contohnya air hujan yang mengalir dari atap rumah, sedangkan air kotor itu air yang jatuh dari permukaan jalan apalagi jalan yang penuh kendaraan bermotor. Air yang tergolong bersih tadi dialirkan ke suatu tanah rerumputan yang bernama “wadi”. Di sana air disaring rerumputan sehingga dapat langsung terserap ke dalam tanah. Pemerintah Utrecht sadar bahwa tidak semua air harus langsung dialirkan ke kanal dan sungai kemudian ke laut. Volume air buangan mengalir (run-off) harus dikurangi agar tidak terlalu membebani sistem bendungan di tepi laut.

image009
Sumber gbr.(www.ecofriend.com)

Mengingat wilayah yang dicurahi air hujan yang banyak pada musim penghujan contohnya Jakarta,sebaiknya menerapkan konsep eco-drainase yang saat ini banyak diterapkan negara lain salah satunya Belanda. Eco-drainase merupakan konsep menyerap air hujan sebanyak-banyaknya ke dalam tanah.

Selain memanfaatkan konsep Wadi, Pemerintah Kota Utrecht di Leidsche Rijn (sebuah area perumahan di tepi barat kota) memanfaatkan media jalan dari bahan paving, fungsinya adalah mampu menyerap air dan sering diimplementasikan di Indonesia. Tujuannya agar air-air yang turun tadi bisa langsung terserap ke dalam tanah. Jadi Pemerintah Belanda tidak hanya berorientasi saja kepada “bagaimana cara mengalirkan air buangan”, tetapi juga “bagaimana membangun daerah resapan air yang berkelanjutan”. Kecanggihan sistem tata kelola air Belanda ini berdampak positif. Dalam kurun waktu puluhan tahun, Belanda terakhir mengalami banjir besar tahun 1953. Memang pada tahun 2012 lalu negara-negara di Eropa terkena bencana badai luar biasa yang mengakibatkan banjir, termasuk Belanda.

image012
Sumber gbr.(www.sl/life.ku.dk.com)

Inovasi lainnya yang tak kalah seru adalah mengubah air seni atau air kencing manusia menjadi energi alternatip pengganti BBM. Lain di Indonesia lain lagi di Belanda. Ketika kita ribut- ribut masalah BBM, para ilmuwan Belanda berhasil menemukan energi alternatip pengganti BBM yang cukup menakjubkan. Unik ya!

image014
Sumber gbr. (www.muda.kompasiana.com)

Universitas Teknologi Delft dan lembaga penelitian DHV yang mengembangkan teknologi pemrosesan urin ini. Bahan bakar urin ini telah memasok listrik setara 110 ribu Megawatt di 30 ribu rumah atau seluas satu kota kecil. Jika produksi urin ditingkatkan, para periset memprediksi daya yang dipasok bisa digenjot hingga lima kali lipat untuk jumlah rumah yang sama. Untuk memproses air kencing menjadi energi alternatip, mereka menciptakan sebuah alat yang diberi nama Nomix. Alat ini berfungsi untuk memisahkan zat zat yang terkandung di dalam air seni. Wow! Bekerjasama dengan pemerintah setempat mereka menempatkan Nomix ini di rumah rumah penduduk dan area publik seperti pusat perbelanjaan, Rumah sakit, Sekolah dan gedung – gedung pemerintah.

Referensi:
www.cnn.indonesia, kompasiana.com
www.tender-indonesia.com/

http://www.ecofriend.com/

(http://sl.life.ku.dk

http://sl.life.ku.dk

http://muda.kompasiana.com

www.nationalgeographic.com