274. Frigate : Sebuah Cita Kugantung ke Belanda

Penulis : Fajri Satria Hidayat
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

Cuaca diluar cerah sekali. Masih teringat olehku waktu itu masih jam 10 pagi. 4 jam menjelang giliranku untuk sidang presentasi tugas merancang. Berdentingkan jarum jam, Aku duduk memandangi layar monitor sambil memegang buku besar teori merancang kapal yang ditulis tangan oleh dosenku sendiri. Mendapatkan tugas merancang tentunya merupakan suatu tantangan tersendiri. Melakukan perhitungan engineering di depan monitor sampai larut malam hingga terkantuk-kantuk di kelas sudah biasa. Hari inilah saatnya. Perjuangan dalam beberapa bulan kebelakang akan dipaparkan hari ini.

image002
Buku teori merancang kapal (sumber : dokumentasi pribadi)

Aku merancang frigate. ya, kapal perang. Ini merupakan bagian dari mata kuliah tugas merancang kapal yang aku ikuti. Entah kenapa aku mendapat bagian untuk merancang kapal ini. Apalagi ini akan menjadi tugas berkelanjutan selama 4 semester. Tidak seperti rekan-rekan lain yang mendapatkan kapal jenis container, penumpang, tugboat, pengangkut minyak ataupun kapal umum lainnya. Frigate merupakan jenis kapal perang cepat yang membantu proses pertahanan militer dan misi tertentu suatu negara. Jangankan menaikinya, melihat secara langsungpun aku jarang. Proses awal dari perancangan kapal sendiri dengan mencari kapal pembanding sebagai referensi perhitungan awal dimensional section. Aku merasa kesulitan untuk mencari data-datanya. Sumber dari buku-buku hingga di dunia mayapun sedikit sekali.

Langkahku semakin tegas dan yakin memasuki ruang presentasi. Pemaparan perancangan linesplane, penentuan dimensi hingga general arrangement atau tata ruang. Rancangan dilanjutkan dengan sistem dan peletakkan senjata. Semua berbalut design yang tentunya berpadu dengan ilmu engineering. Keringat dingin muncul menghadapi pertanyaan dari dosen dan asisten dosen. Semua berjalan dengan lancar hingga salah satu asisten dosen bertanya tentang sistem persenjataan meriam dan radar pada kapal perang terhadap stabilitas kapal. Dengan sedikit tergagap, aku tidak memberikan jawaban pasti. Aku sepertinya harus banyak membaca lagi karna memang sumber buku yang kubaca hanya sedikit. Jangankan buku kapal perang, buku yang aku pedomani berasal dari catatan yang ditulis tangan oleh dosenku yang kemudian perbanyak tetapi tentunya itu bukan menjadi alasan karna ilmu itu luas sekali di dunia ini.

image004
Buku Teori Merancang Kapal yang ditulis tangan sendiri (sumber : dokumentasi pribadi)

Beranjak dari sidang perancangan lalu, terbesit keinginan sebagai seseorang yang bisa mengabdi pada negaranya. Ya, berkarya sebagai engineer perkapalan. Indonesia sebagai negara bahari tentunya harus memiliki kekuatan terutama dibidang transportasi laut dan pertahanan sebagai alat kelengkapan negara. Kapal perang yang dimiliki Indonesia belum mencukupi dan masih membutuhkan dukungan dari negara lain dalam pembuatannya. Indonesia saat ini sudah memiliki SDM yang baik di bidang perkapalan Indonesia sudah memiliki kapal perang yang dibangun oleh putra bangsa di tanah air salah satunya KRI Banda aceh 593 yang dibangun di PT PAL Indonesia. Hanya saja masih membutuhkan transfer wawasan dari negara-negara maju tentang keteknikan, produksi material dan alih teknologi terbaik.

Berbicara tentang role model dalam industri perkapalan, salah satu negara acuan adalah negara Belanda. Kenapa Belanda? Perkembangan industri kapal di Belanda sudah dari zaman dahulu salah satunya Bapak Drebble yang menemukan ide mewujudkan kapal selam pertama di dunia pada tahun 1600. Hingga sekarang Belanda memiliki industri kapal yang maju. Belanda juga sebagai negara bahari mendukung perkembangan industri perkapalannya. Belanda memiliki morfologi negara kelautan dilalu lintas laut utara eropa. Galangan produksi kapal berkembang baik di negara ini diantaranya yang memproduksi boat hingga galangan yang memproduksi kapal perang untuk kebutuhan militer negara. Proses pembuatan juga dilengkapai kemampuan SDM dan teknologi terbaik dunia.

image006
Kobaran api muncul dari senjata kapal perang (sumber : www.pageresource.com)

Kemudian terkait pembuatan kapal perang, Belanda memiliki galangan Damen Schelde Naval Shipbuilding yang memproduksi jenis kapal perang. Kapal perang yang menggunakan teknologi terbaru dengan meriam api, torpedo, dan peluru kendali. Peluru kendali anti kapal adalah rudal yang fungsi utamanya adalah untuk menghancurkan sasaran permukaan dari permukaan ke permukaan dan rudal dari permukaan ke udara. Kebanyakan rudal anti-kapal menggunakan sistem pemandu inersial dan pelacak radar aktif. Sistem senjata dan elektronika yang ada di setiap frigate tentunya disesuaikan dengan tugas spesifik tersebut. Kemudian dilakukan perhitungan dari muatan terhadap draft atau garis air yang akurat karna berpengaruh terhadap ketepatan stabilitas kapal. Material dari kapal frigate menggunakan material yang lebih ringan sehingga meningkatkan efisiensi gerakan pada saat manuver.

image008
KRI Satsuit Tubun Mahakarya Belanda untuk Indonesia (sumber: id.wikipedia.com)

Terkait dengan kemajuan Belanda pada industri kapal perang, Beberapa kapal perang indonesia yang merupakan maha karya dari negara Belanda. Adapun diantaranya adalah KRI Ahmad Yani (351), KRI Slamet Riyadi (352), KRI Yos Sudarso (353) dan KRI Satsuit Tubun (356). Indonesia dan Belanda juga sudah melakukan suatu kerjasama untuk pembangunan kapal perang PKR-105M/Frigate 10514 No 2, yang tak lain kapal jenis frigate. Proses produksi kapal perang dilakukan PT PAL sebagai galangan kapal nasional dengan galangan Damen Schelde Naval Shipbuilding. Kerjasama yang dilakukan dalam proses produksi dan juga alih teknologi dan transfer ilmu. Dimana Tenaga ahli Belanda datang ke Indonesia untuk ikut membantu ataupun sebaliknya SDM Indonesia diberangkatkan ke Belanda untuk ikut belajar dari Belanda sehingga memunculkan suatu kemandirian di kemudian hari.

image010
Galangan kapal Belanda (sumber : www.damen.com)

Belanda semakin mengukuhkan dirinya dengan pioner teknologi. Indonesia bisa belajar dari Belanda. sebagai dengan negara bahari, Kita membutuhkan pertahanan laut yang baik. Ibarat pepatah minangkabau “musuah pantang dicari, batamu pantang dielakkan” musuh tidak dicari, jika bertemu tidak akan dihelakkan. Kita tidak ingin menciptakan peperangan tentunya, tapi jika ada konflik tertentu kita harus siap untuk mencetuskan senjata api. Pertahanan yang baik tentunya akan membuat negara kita yang penuh potensi bahari diperhitungkan di mata internasional. Tak berbeda dengan Belanda, Indonesia memiliki SDM yang bisa belajar dan harus didukung dengan transfer ilmu yang baik sehingga bisa mandiri membangun kapal perang mandiri dikemudian hari seperti negara Belanda yang sudah memiliki “pakem” tersendiri dalam merancang kapal perang.

image012
Cita suatu saat bisa membuat Battleship ( sumber : forum.worldofwarships.com)

Hingga pada saat ini Belanda tidak cuma terkenal akan kincir angin atau semangat warganya hidup bersama air. Belanda juga hadir dan memberikan standar yang baik dalam pengalihan teknologi terutama dalam industri perkapalan. Belanda tidak lagi berbicara sistem polder tetapi juga menjadi acuan dalam penciptaan transportasi laut hingga pertahanan militer dengan teknologi yang canggih. Tidak menutup kemungkinan, suatu waktu aku bisa mengenal Negeri van oranje lebih jauh, belajar kenegaranya. Belajar bagaimana masyarakat menciptakan kobaran api semangat. Sehingga aku akan menjawab pertanyaan tentang perancangan dengan penuh keyakinan. Sebuah cita-cita yang kugantungkan ke Belanda. Dengan itu aku akan merancang kapal perang untuk indonesia, suatu saat, Pasti.

REFERENSI :
Buku Tugas Merancang Kapal karya Marcus albert talahatu, FT UI 1985

http://www.damennaval.com/

http://www.damen.com/

http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_shipbuilders_and_shipyards

http://www.holland-shipyards.com/

http://id.wikipedia.org/wiki/Peluru_kendali

http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_kapal_perang_TNI-AL

http://hartawansatyanegara.blogspot.com/2012/09/kapal-perang-tni-al.html