288. ELEMEN TANAH PENDIDIKAN: METODE PEMBELAJARAN COMPETITIVE ADVANTAGE

Penulis : Aida Choirunnisa
Tema : Earth
=========================================================================================================================================================

Pendahuluan
Artikel ini akan membahas mengenai hubungan antara Belanda dengan Indonesia yang dahulu pernah membuat sejarah yang sama dalam satu waktu, tempat dan peristiwa. Dengan kebersamaan yang pernah dilalui banyak hal-hal yang masih melekat di Indonesia yang notabene negara bekas jajahan Belanda, hal itu menjadi peninggalan-peninggalan sejarah.
Meski demikian, perkembangan dan kemajuan Indonesia tidak sama dengan Belanda terutama dalam hal pendidikan. Maka inilah yang akan menjadi fokus permasalahan.

Profil Negara Belanda
Negara Belanda dengan luas wilayah sekitar 41,864 km² (16,164 mil²) merupakan salah satu negara di Eropa Barat, memiliki beberapa sebutan yang begitu familiar seperti Holland yang merupakan salah satu provinsi bersejarah yang kini terbagi dua yakni Holland Utara dan Holland Selatan, Netherlands yang berarti negara rendah, mencerminkan topografinya yakni dataran rendah dengan lebih dari seperempat wilayahnya di bawah permukaan laut sehingga menjadi salah satu poros perdagangan maritim dunia. Sistem pemerintahannya saat ini monarki konstitusional yaitu sistem pemerintahan dipimpin keturunan raja sebagai kepala negara bernama Ratu Beatrix dan perdana menteri bernama Mark Rutte. Sistem pemerintahan ini, Raja berperan sebagai kepala negara yang mengurus bagian tertentu yang dianggap penting dan hanya dapat diurus oleh orang yang diberkati (darah biru). Perdana menteri bekerjasama dengan badan legislatif sebagai kepala pemerintahan.

Jumlah penduduk negara Belanda menurut PBB tahun 2011 adalah 16,7 juta termasuk negara padat penduduk, namun dapat diimbangi dengan pengelolaan sumber daya manusia, ditunjukkan beberapa keberhasilan yang mampu diperoleh orang-orang Belanda seperti seniman-seniman yakni Rembrandt dan Vermeer di abad ke-17 Van Gogh di 19 dan Mondrian di 20. Juga para ahli dibidang keilmuan dan lainnya. Dalam dunia pendidikan pun didukung oleh pemerintah yang mewajibkan sekolah dari usia 4 tahun sampai 16 tahun bagi rakyatnya. Di sekolah menengah, setiap sekolah mengusahakan dengan pendidikan umum dan kejuruan (perdagangan). Melalui pendidikan kejuruan ini, anak-anak diajarkan untuk berkompetisi agar mampu bersaing dengan dunia.

Belanda dan Indonesia
Bertolak belakang dengan Belanda, Indonesia merupakan negeri kepulauan meski memiliki wilayah perairan yang cukup luas. Namun keduanya termasuk negara yang memiliki kepadatan penduduk yang tinggi. Indonesia menganut sistem pemerintahan presidensiil, di mana badan eksekutif tidak diawasi secara langsung oleh badan legislatif dan Indonesia tidak menganut sistem monarki/kerajaan seperti Belanda.

Ketika Belanda menduduki wilayah Indonesia, banyak peninggalan Belanda tertanam di Indonesia baik fisik dan non fisik. Fisik yakni peninggalan gedung-gedung yang kini menjadi bangunan bersejarah seperti museum Kota Tua, pembangunan rel kereta api seperti jalur kereta api Banjar-Cijulang, Jawa Barat yang dibangun pada tahun 1888 dan lain sebagainya. Lalu peninggalan non fisik yakni pendidikan. Lamanya Belanda menduduki Indonesia memberi pengaruh terhadap sistem pendidikan di Indonesia. Pada saat itu, yang boleh mengenyam bangku pendidikan hanyalah orang Belanda dan para bangsawan Indonesia. Sistem pendidikan yang berjenjang dari SD, SMP, SMA, terutama PT yang dulu memakai jenjang bachelor sampai doctorandus (Drs), menunjukkan konsep pendidikan tinggalan Belanda yang masih dipakai, sampai kemudian Pemerintah menghilangkan jenjang bachelor dan diganti dengan jenjang diploma dan sarjana. Sistem ini pun masih berlaku hingga saat ini dalam dunia pendidikan Indonesia.

Membangun Metode Competitive Advantage

Belanda memang memberi kontribusi dalam berbagai aspek kehidupan Indonesia saat menjajah Indonesia, termasuk dalam pendidikan. Namun ketika Belanda tidak lagi menguasai Indonesia, arah sistem pendidikan Indonesia yang semula berkiblat pada Belanda kini menghilangkan sebagian dan beralih ke Amerika. Kini, Belanda malah mempunyai lulusan-lulusan atau mencetakan anak-anak berpendidikan yang berkualitas sedangkan di Indonesia yang dulu belajar bersama dengan sistem yang sama dengan Belanda, malah tertinggal dan masih jauh dari garis berkualitas. Padahal telah banyak tokoh-tokoh pendidikan Indonesia yang juga telah berjuang dalam membangun karakter pendidikan Indonesia salah satunya, R.A Kartini dengan pendidikan kepada perempuan dan Ki Hajar Dewantara pendiri Taman Siswa. Ajarannya yang terkenal ialah tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan), ing madya mangun karsa (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa), ing ngarsa sungtulada (di depan memberi teladan).

Sungguh mengherankan, di Belanda pendidikan mereka terkenal dan unggul dalam ilmu pengetahuan mengenai pertanian, irigasi dan sumber daya laut. Ini memang didukung oleh keadaan geografisnya, namun di Indonesia yang notabene sebagian besar dataraannya dimanfaatkan untuk bertani, masih mengimpor beberapa bahan pokok makanan dari beberapa negara seperti kedelai, beras dan lain sebagainya. Untuk mengatasi hal ini, Indonesia mencoba belajar dari Belanda, yakni dengan metode competitive advantage. Porter (1990) membuat analisis yang menarik mengenai kompetisi dalam globalisasi dengan menganalogikan bangsa sebagai perusahaan (firm). Menurut Porter (1990), dalam persaingan global, suatu perusahaan dapat bertahan dan unggul hanya jika memiliki keunggulan atas biaya (cost-based advantage) dan keunggulan atas produk (product-based advantage). Dengan demikian keunggulan kompetitif bangsa dilihat dari efisiensi (keunggulan atas biaya) dan inovasi (keunggulan atas produk).

Dengan adanya metode tersebut dapat dicontohkan, di Belanda yang merupakan negara dengan daratan di bawah permukaan laut, dapat mendirikan tanggul yang kokoh, dapat mencegah banjir. Sedang di Indonesia, tanggul yang dahulu juga dibangun atas kontrisbusi Belanda mengalami kerusakan dan jebol. Lalu, Belanda memanfaatkan wilayah perairannya untuk membuat kincir angin untuk drainase dan kegiatan industri. Ada pula peninggalan gedung-gedung dan rel kereta api, tapi kini itu semua tidak terawat di Inonesia sehingga menghilangkan nilai estetis dan sejarahnya. Dengan metode itulah akan mencetak manusia yang kompetitif disusul bangsa yang kompetitif yang menghantarkannya ke persaingan internasional (dunia).

Penutup
Sejarah Indonesia dan Belanda tidak pernah dipisahkan karena mereka telah mengukir sejarah dalam satu tempat, waktu dan peristiwa yang sama. Dengan kebersamaan mengukir sejarah tersebut maka ada beberapa hal yang melekat di Indonesia salah satunya pendidikan.

Namun sistem pendidikan tersebut tidak mampu menjadikan Indonesia berkualitas, unggul dan kompetitif layaknya Belanda degan inovasi-inovasinya yang relatif bertahan lama dan diakui dunia.
Dengan begitu dalam tulisan oleh Mada Sutapa dan kawan-kawannya ada konsep dari Porter mengenai kompetisi dalam globalisasi yang disebut metode competitive advantage, yang bisa menjadi motivasi bagi Indonesia.