291. Bangunan Terapung dari Negeri Tenggelam

Penulis : Daniel Widya Suryanata
Tema : Earth
=========================================================================================================================================================

“Apa yang dapat dilakukan untuk membuat rumah bebas dari banjir?”

“Gampang, bangun saja rumah di atas air”

Mungkin perbincangan semacam itulah yang menginspirasi Koen Olthuis, seorang warga negara Belanda, saat merancang bangunan terapung pertamanya. Lulus dari jurusan arsitektur dan desain industri Delft University of Technology – salah satu universitas paling terkemuka di Belanda – membuatnya untuk terus berkreasi. Pria kelahiran tahun 1971 ini mulai dikenal luas karena bangunan terapungnya yang fenomenal. Ia mendirikan WaterStudio dan mulai melahirkan bangunan-bangunan unik yang dapat mengapung.

image001
Gambar 1. Koen Olthuis (Sumber: http://inhabitat.com/interview-koen-olthius-of-waterstudionl/)

WaterStudio
Olthuis percaya bahwa sudah saatnya Belanda berhenti menjadikan air sebagai musuh dan berdamai dengannya. Awalnya, sebagian besar wilayah Negara Belanda adalah perairan. Untuk memanipulasi agar luas daratan bertambah, Belanda selama bertahun-tahun telah memompa air keluar untuk mengeringkan daratan. Namun, apabila Belanda berhenti memompa air selama 48 jam saja, air akan segera membanjiri daratan.

Selain itu, ternyata ada permasalahan lain yang lebih pelik, yaitu pemanasan global. Akibat pemanasan global yang semakin hebat, semakin banyak es di kutub yang mencair, yang menyebabkan naiknya ketinggian air laut. Tidak hanya Belanda saja, permasalahan ini telah menjadi momok bagi seluruh pemimpin dunia selama bertahun-tahun lamanya. Mereka harus berpikir ekstra keras untuk melindungi kota-kota mereka dari serangan air laut.

Tidak ingin hanya berpangku tangan saja, nama Olthuis dan WaterStudio mulai santer terdengar sebagai salah satu inovator yang mencoba menyelesaikan permasalahan global itu. Namun jikalau hanya melihat dari konsep bangunan terapung, pastilah orang skeptis akan berkata bahwa inovasi yang diciptakan oleh Olthuis terlalu dilebih-lebihkan. Faktanya, Belanda sudah memiliki sekitar 60 ribu rumah kapal untuk mengatasi kenaikan air laut sebelumnya. Cara konvensional ini pun sudah mampu memperlebar luas daratan.

Tetapi bukan konsep bangunan terapung yang membuat ide Olthuis menjadi luar biasa, melainkan komponen dari bangunan terapung itu. Komponen yang paling unik adalah fondasinya, yang telah dipatenkan dengan nama ‘tanah terapung’. Tanah terapung harus cukup kuat untuk menopang berat seluruh bangunan beserta penghuninya, namun harus cukup ringan untuk dapat mengapung. Dilema ini dapat diatasi dengan melapisi inti busa dengan beton sehingga bangunan tetap kuat dan dapat mengapung. Pada beberapa bangunan, sejumlah tiang juga ditanam di tanah kering sebagai penyangga tanah terapung sehingga fondasi dapat menahan beban lebih berat. Terakhir, beberapa kabel baja dipasang pada tanah tersebut untuk menjaga agar bangunan tidak terbawa arus.

image003
Gambar 2. Fondasi Bangunan Terapung (Sumber: http://inhabitat.com/interview-koen-olthius-of-waterstudionl/2/)

Sebagai perbandingan, sebuah bangunan dapat memiliki ukuran 200 x 200 meter dengan tanah terapung, berbeda dengan rumah kapal yang rata-rata hanya berukuran 20 x 25 meter. Berkat tiang-tiang fondasi itulah juga bangunan karya WaterStudio dapat disebut bangunan amfibi, alias bangunan yang dapat berada di air dan di darat. Bangunan akan mengambang apabila tanah digenangi air, dan akan berdiri di atas tiang-tiang tersebut apabila tanah tidak digenangi air.

Tanah terapung rancangan Olthuis terbukti tepat guna. Hal ini dibuktikan dengan dirancangnya beberapa bangunan paling megah di dunia. Saat ini, Olthuis dan timnya sedang mendesain beberapa bangunan megah seperti masjid terapung di The Hague, pusat kesehatan terapung di Aruba, dan lapangan golf terapung di Maldives.

image006
Gambar 3. Visualisasi Masjid Terapung di The Hague (Sumber: http://www.waterstudio.nl/archive/777)

image008
Gambar 4. Visualisasi Pusat Kesehatan Terapung di Aruba (Sumber: http://www.waterstudio.nl/projects/44)

image010
Gambar 5. Visualisasi Lapangan Golf Terapung di Maldives (Sumber: http://www.waterstudio.nl/archive/76)

Setiap tetes keringat yang dicurahkan pada proyek-proyek tersebut telah berbuah manis. Sejak awal berdirinya, WaterStudio telah menerima beberapa penghargaan paling bergengsi di bidang arsitektur. Beberapa diantaranya adalah Architecture & Sea Level Rise Awards dari Yayasan Jacques Rougerie pada tahun 2012 dan juara kedua pada Re-thinking The Future Awards pada tahun 2014 untuk bangunan terapung pada kawasan kumuh, serta empat penghargaan pada ajang Asia Pacific Property Awards untuk desain Ocean Flower di Maldives.

image012
Gambar 6. Bangunan Terapung Untuk Daerah Kumuh (Sumber: http://www.waterstudio.nl/archive/766)

image014
Gambar 7. Ocean Flower di Maldives (Sumber: http://www.waterstudio.nl/archive/850)

Berbagai penghargaan tersebut tidak WaterStudio berpuas diri. Berkat kegigihan perusahaan itu, lebih banyak lagi bangunan unik yang diciptakan. Karya yang paling mencengangkan bisa jadi adalah pohon laut terapung. Terinspirasi dari meningkatnya kebutuhan akan ruang hijau yang dapat dipakai untuk tempat konservasi flora dan fauna, WaterStudio mulai mengerjakan proyek yang akan mulai dibangun pada Januari 2016 ini. Di atas permukaan laut, lantai demi lantai akan ditanami dengan tumbuhan hijau dengan berbagai fauna yang hidup di sekitarnya. Sedangkan di bawah permukaan laut, pohon ini akan ditanami dengan terumbu koral. Sebagai realisasinya, proyek yang membutuhkan dana sebesar satu miliar Euro (atau setara dengan lebih dari 14 trilyun Rupiah) ini akan dibangun di tengah laut sehingga tidak ada intervensi dari manusia pada flora dan fauna di dalamnya.

image016
Gambar 8. Pohon Laut (Sumber: http://www.waterstudio.nl/projects/79#)

Pro Kontra Bangunan Terapung
Tidak hanya cocok untuk kontur Belanda, bangunan terapung rancangan WaterStudio juga cocok sekali untuk diimplementasikan di Indonesia. Memegang gelar ‘negara kepulauan terbesar di dunia’ menjadikan dua per tiga wilayah Indonesia digenangi air. Apabila bangunan terapung dapat diimplementasikan pada wilayah perkotaan padat penduduk seperti Jakarta, maka pemukiman kumuh di sepanjang bantaran sungai di Jakarta akan berkurang. Dengan demikian, pemerintah akan lebih mudah melakukan normalisasi kali. Selain itu, bangunan terapung juga mempercantik pemandangan, berbeda halnya dengan rumah-rumah kumuh di kanan-kiri sungai.

Keuntungan lain yang ditawarkan oleh bangunan terapung adalah berkurangnya kerusakan lingkungan akibat reklamasi. Di tengah maraknya arus reklamasi yang dilakukan akhir-akhir ini, banyak pihak telah menyadari bahaya reklamasi pada lingkungan. Mari ambil contoh proyek reklamasi yang akan diadakan di Teluk Benoa, Bali. Proyek tersebut banyak sekali menuai protes masyarakat setempat. Reklamasi Teluk Benoa dinilai merusak ekologi dan menghilangkan citra Bali sebagai wisata budaya.

Bahkan, reklamasi yang dilakukan oleh negara maju seperti Singapura memiliki dampak negatif. Berbeda dengan Belanda, Singapura memilih untuk melakukan reklamasi, dengan cara menimbun lautan dengan berbagai material seperti batu dan pasir, dibandingkan mengeringkan lautan. Hal ini dapat menyebabkan luas wilayah Indonesia berkurang karena luas wilayah Singapura bertambah. Selain itu, Singapura membeli pasir dalam jumlah yang sangat besar dari Indonesia, yang mengakibatkan rusaknya ekologi Indonesia.

Walau demikian, bangunan terapung tidak sepenuhnya lepas dari masalah. Salah satu permasalahan yang muncul adalah masalah ekologi laut. Bangunan terapung diperkirakan akan menghalangi sinar matahari yang dibutuhkan oleh flora dan fauna laut. Permasalahan mengenai adanya kemungkinan kebocoran bahan kimia dari bangunan terapung yang akan mencemari lingkungan juga mulai ramai diperbincangkan.

Terlepas dari segala dampak negatif yang mungkin dapat disebabkan oleh bangunan terapung karya WaterStudio, bangunan-bangunan ini tetaplah suatu inovasi luar biasa yang menunjukkan kreatifitas orang Belanda dengan manfaat yang mendunia. Akankah Indonesia beralih menggunakan bangunan terapung daripada harus melihat rumah mereka tenggelam dalam banjir?

Referensi
1. WaterStudio. Vision. Diakses pada 6 April 2015, dari http://www.waterstudio.nl/vision.
2. Fehrenbacher, Jill. (2014, Juli 8). INHABITAT INTERVIEW: Koen Olthuis of WaterStudio.nl Talks About Design for a Water World. Diakses pada 6 April 2015, dari http://inhabitat.com/interview-koen-olthius-of-waterstudionl/.
3. Rich, Sarah. (2005, Oktober 4). WATERSTUDIO’S AMPHIBIOUS HOUSES. Diakses pada 6 April 2015, dari http://inhabitat.com/amphibious-houses/.
4. WaterStudio. The Hague, International City of Peace and Justice In Favour of Floating Mosque On Sea To Strengthen Relationship Islam and Europe. Diakses pada 7 April 2015, dari http://www.waterstudio.nl/archive/777.
5. WaterStudio. Health Enjoyment & Challenge Center, Aruba. Diakses pada 7 April 2015, dari http://www.waterstudio.nl/projects/44.
6. WaterStudio. Troon Golf To Manage World’s First 18 Hole Floating Golf Course in Groundbreaking Maldives Development. Diakses pada 7 April 2015, dari http://www.waterstudio.nl/archive/76.
7. WaterStudio. “Architecture & Sea Level Rise” Award 2012 for App-grading Wet Slums. Diakses pada 8 April 2015, dari http://www.waterstudio.nl/archive/766.
8. Re-Thinking The Future. (2014, Juli). Re-Thinking The Future Awards 2014. Diakses pada 8 April 2015, dari http://www.waterstudio.nl/archive/859.
9. Internaton Property Awards. (2014). Ocean Flower Wins 4 Prestigious Asia Pacific Property Awards. Diakses pada 8 April 2015, dari http://www.waterstudio.nl/archive/850.
10. WaterStudio. Sea Tree. Diakses pada 8 April 2015, dari http://www.waterstudio.nl/projects/79#.
11. BEM PM Universitas Udayana. (2014, Juli 24). “Mengapa Kami Menolak Reklamasi Teluk Benoa”. Diakses pada 8 April 2015, dari http://bem.unud.ac.id/mengapa-kami-menolak-reklamasi-teluk-benoa/.
12. Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia. Reklamasi Pantai Singapura Rusak Lingkungan Indonesia. Diakses pada 8 April 2015, dari http://www.menlh.go.id/reklamasi-pantai-singapura-rusak-lingkungan-indonesia/.
13. Archdaily. Oceanic Living: Floating City Apps / Koen Olthuis. Diakses pada 8 April 2015, dari http://www.archdaily.com/221347/oceanic-living-floating-city-apps-koen-olthuis/.